ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
INI BUKAN MIMPI


__ADS_3

Kasihan Om Endro... Pasti Om Endro sangat sedih sekali... Ya Allah... Aku bahkan tidak sanggup jika berada di posisi Om Endro.


Nummi tidak berhenti memandangi pintu kamar Endro yang terkunci rapat dari dalamnya. Sejak mereka masuk ke dalam rumah waktu maghrib tadi, tidak sekalipun lelaki paruh baya itu menampakan batang hidungnya lagi di depan Gadis itu.


Tidak ingin berharap lebih, Nummi pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia tahu, besar kemungkinan bahwa Endro tidak akan keluar lagi pada malam itu.


Sementara, di dalam kamarnya, Endro tampak bermuram diri. Dia memeluk guling dan meremasnya dengan begitu kuat. Hatinya serasa disayat-sayat sembilu menahan luka yang tak berdarah di dalam dadanya.


Dia terisak di usianya yang hampir senja. Hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Kala itu dia bahkan tidak sempat meratap meski setelah terbangun dari pingsannya sekalipun.


Kini, telah dua puluh lima tahunan sejak itu. Dia baru menyadarinya, menyesalinya dan bahkan meratapinya.


*****


Nafas Mentari turun naik tak beraturan. Tersengal dan terengah-engah menghadapi saat-saat sakratul maut. Wajahnya terlihat tidak biasa, cantik dan berseri, meski luka lebam berjejer disana. "Sa-ya-ng... a-ku... ba-ha-gi-ii-a... a-kuu... bi-sa.. me-ra-sa-kaaannya... be-r..sa-ma-muuuu..." seketika hening.


Endro tercengang sesaat. Hatinya pilu. Ikut terluka tanpa darah seperti yang terlihat pada luka-luka di tubuh istrinya.


Endro melihat ke paha Mentari dari balik dress selutut yang dikenakan istrinya itu. Banyak darah kental disana.


"Tidak... Ini tidak mungkin... Calon bayiku...?l" Suaranya keluar dengan garau. " Sayang... Sayang... Bangun kan, Aku... Katakan ini mimipi 'kan?" Pinta Endro menyayat hati. Pilu dan mendayu.


"Sayang... Sayang... Banguuuun.... Mentariiii... Aku mohon banguunnn.... Mentari... Jangan tinggalkan aku, Mentari..." Endro mengguncang tubuh istrinya itu. Namun sudah tak bergerak lagi. Tangan kanannya yang sedari tadi menutupi luka diperut istrinya, diusapkan kewajah istrinya itu. Dia terus-terusan berteriak sembari membenamkan wajah Mentari ke dalam dadanya, hingga dia pun ikut tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Kamil, ayah Endro yang baru saja dilepaskan polisi karna disekap bersama nini di dalam kamar pun tiba-tiba juga ambruk sambil memegangi dadanya yang terasa perih karna melihat anak menantunya tergeletak bersimbah darah disana.


Ya, beruntung dia pulang bersama lelaki asing yang baik. seseorang yang ditaqdirkan datang ke dalam hidupnya, dan memberikan dia banyak perubahan. Memberikan dia keluarga baru yang baik-baik pula.


^^^^


"Mentari..." Ucap Endro lirih dalam setengah kesadarannya. Dia berulang kali memanggil-manggil nama istrinya itu. Seseorang yang tengah mengandung buah hatinya. Perempuan yang selalu ingin dia lindungi.


Perlahan, Endro mengerjapkan matanya. Dia mulai tersadar dari pingsannya.


"Kamu sudah sadar, Nak?" Tanya Ridwan menampakkan sedikit senyum prihatin kepada Endro.


"Yaa Allah..." Desirnya panik. Dia seakan bertingkah seperti orang yang terbangun dari mimpi buruknya. Nafasnya menderu hebat tak beraturan. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. "Tu-Tuan???"


"Oh iya, benar..." Endro tampak lega. Dia tidak menyadari bahwa dia masih memakai pakaian yang berlumuran darah Mentari. "Tuan jadi mampir rupanya... Istri saya dimana, Tuan? Dia baik-baik saja, kan? Tadi saya mimpi yang sangat menyeramkan sekali..." Ujar Endro tampak bergidik.


"Kamu yang tabah ya, Nak..." Ucap Ridwan sambil menepuk pelan pundak Endro.


Endro kembali tercengang. "M-ma-maksud tuan?" Matanya beralih ke arah pintu kamar. Di luar, tampak orang beramai-ramai disana. Dia menunduk, matanya membulat mendapati lumuran darah di baju dan celana yang dipakainya saat itu.


"Ti-tidak... Tidak mungkin... Aku yakin ini hanya mimpi... Ini pasti hanya mimpi..." Teriak Endro terdengar histeris. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan berlarian ke luar. Tenaganya yang lemah, membuatnya berkali-kali terjatuh sebelum mencapai istrinya yang tengah terbujur kaku di tengah-tengah rumahnya.


Semua orang yang menyaksikan dirinya, ikut menahan isak tangis. Mereka mengerti betul bagaimana perasaan Endro saat itu. Pria malang yang baru saja ditinggal istrinya, apalagi istrinya itu juga tengah mengandung.

__ADS_1


Endro merangkak dengan perlahan. Dadanya kembang-kempis menahan sesak.


"Mentari... Kamu tidak ingat, hah? Aku bahkan sudah mengorbankan pendidikanku demimu. Ayah juga telah mengorbankan lahan perkebunannya, juga demi dirimu. Lalu apa ini, Mentari? Aku bahkan telah mengatakan, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Mentari..." Ucap Endro sambil memandangi wajah Mentari yang telah pucat dan kaku. Wajah yang tenang dalam damainya, tidak bergeming dan tidak lagi bisa mengeluarkan suara, bahkan juga tidak mampu lagi membuka mata untuk melihat dirinya.


"Apa ini, Mentari? Apaaa?... Kamu menyerah begitu saja, hah...? Ayo bangun... Anak kita? Bagaimana dengan anak kita? Mentari? Kamu kenapa tidak menyisakan lagi sedikit saja untukku?. Bahkan keberanianku juga pergi bersamamu..."


Nini yang sedari tadi berada di samping jenazah Mentari, terisak-isak mendengar semua ucapan Endro.


"Nak Endro..." Panggil Nini lirih. Dia mengusap-usap lembut bahu Endro. Memberikan ketenangan sebisanya.


"Nini? Nini..." Endro merebahkan kepalanya ke pangkuan Nini.


"Kamu yang sabar ya, Nak... Kamu yang kuat..." Ucap Nini menguatkan Endro, padahal hatinya sendiri terluka saat itu.


Lagi-lagi, betapa beruntungnya mereka dengan kehadiran sosok Ridwan Ghani. Lewat dia, Allah membiarkan Mentari meninggal dalam dekapan Endro. Lewat dirinya, segala sesuatu yang begitu rumit pun dapat diatasi. Dia orang yang berjasa telah mengurus penangkapan Alex, yang membawa Ayah Endro ke rumah sakit, dan yang juga telah meminta para warga untuk membantunya mengurus pemakaman Mentari. Padahal, Ridwan Ghani telah seminggu tidak bertemu dengan keluarganya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2