ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
ENTAH KABAR APA


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Beberapa bulan pun berakhir dengan cepat bagi Endro. Di sana, dia diperlakukan dengan baik bak keluarga sendiri oleh Ridwan Ghani beserta istri dan kedua anaknya.


Arkhan dan Yuni pun semakin hari semakin dekat dengan dirinya. Begitu manja, seperti adik-adik terhadap abangnya sendiri.


Suatu hari, Ridwan mengajak dirinya untuk melakukan perjalanan bisnis ke kota sebelah. Namun di saat yang bersamaan pula, dirinya memperoleh telepon darurat dari pihak rumah sakit tempat ayahnya dirawat.


Disanalah dia merasa dilema dan takut.


"Pergilah temani ayahmu, Nak. Dirinya lebih membutuhkanmu dari pada saya saat ini." Perintah Ridwan begitu tulus tidak mempermasalahkannya. Dari awal memang tujuan lelaki paruh baya itu hanya untuk menolong dirinya saja.


"Tapi, Tuan..." Bantah Endro cepat. Dia seakan ragu meninggalkan malaikat baiknya itu. Seolah-olah, ia merasa tidak akan pernah berbicara lagi dengannya.


"Apa kamu akan membiarkan ayahmu sendirian berjuang di rumah sakit? Nak... Saya sudah biasa melakukan perjalanan keluar kota sendiri, dan kali ini saya akan melakukannya lagi tanpa kamu.


Kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya. Jika nanti ayahmu sudah pulih, dan semua urusanmu disana telah selesai, maka pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untukmu. Arkhan dan Yuni pasti juga sangat merindukanmu, nantinya" Bujuk Ridwan berusaha membuatnya mengerti. Nur yang saat itu juga berada disana mengangguk menyetujui ucapan suaminya itu.


Endro Tak percaya bahwa yang berdiri di hadapannya saat itu adalah manusia, melainkan sosok Malaikat Tak Bersayap yang dikirimkan Tuhan kepadanya. Entah dari apa hati mereka terbuat, pikirnya. Begitu lunak, baik, lembut dan berbeda.


Seandainya saja Mentari memiliki orang tua angkat seperti mereka...~ Gumam Endro membatin.


Karena kebaikan Ridwan dan kerelaann lelaki paruh baya itu terhadap dirinya, Endro akhirnya pulang ke kota asalnya. Menemui ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit dan ditemani wanita tua yang biasa dipanggilinya dengan sebutan Nini.


Sesampainya di sana, Endro mendapa kabar tak mengenakkan mengenai kondisi Ayahnya. Semakin parah. Jalan satu-satunya hanya transplantasi.


Selain biaya, kendala lain untuk hal itu adalah menemukan pendonor yang baik dan cocok untuk jantung Ayahnya.


Beberapa hari disana tak ada kemajuan tentang kondisi Ayahnya. Endro menggigil takut. Dia benar-benar merasa frustasi memikirkan itu semua. Bagaimana cara baginya untuk menyelamatkan Ayahnya itu. Lelaki terhebat yang telah membesarkannya dengan penuh kasih dan cinta. Yang mengenalkan dunia begitu baik dengan caranya.

__ADS_1


Oh... Masihkah ada lagi penderitaan setelah ini? Bahkan sakit kehilangan Mentari masih belum kering, Allah...~ Rintih Endro dalam diam.


Dia mengatupkan kedua tangannya dengan mata terpejam, berdo'a dalam hati kepada Sang Pemilik Kekuasaan. Berharap malaikat kembali dikirimkan kepadanya untuk menyelamatkan nyawa Ayahnya itu. Meski malaikat tak bersayap seperti Ridwan Ghani sekalipun.


Terkabul. Do'anya dengan cepat diijabah Sang Kuasa. Seseorang telah menandatangani testimoni dan bersedia mendonorkan jantung untuk ayahnya.


Siapakah dia?


Bahkan Endro sendiri belum berupaya ke sana ke mari untuk hal itu.


Setelah melewati beberapa prosedur, operasi pun dilaksanakan.


Operasi berjalalan dengan lancar selama berjam-jam dia dan Nini menunggu. Pihak rumah sakit pun telah memindahkan Ayahnya ke ruang pemulihan di bagian ICU.


Endro begitu bahagia saat itu. Tidak ada penolakan terhadap jantung baru yang diterima oleh tubuh ayahnya. Dia bahagia mendengar semua tentang ayahnya, hanya saja hati kecilnya merasakan sesuatu yang aneh. Sakit dan menyiksa.


Sebelum menemui Ayahnya, Endro berkali-kali mencoba menghubungi Ridwan Ghani, malaikat yang selalu ada untuknya.


Panggilannya tersambung, akan tetapi tidak terhubung.


Tidak beberapa lama, nomor yang sama menelepon dirinya.


"Assalamu'alaikum, Tuan..." Sapa Endro dengan memaksakan senyumannya.


Entah kabar apa yang di terimanya saat itu. Endro terdiam. Matanya membulat seiring ngangaan mulutnya melebar. Dadanya kembang kempis menahan sesak. Sesuatu telah terjadi.


Dengan perlahan, Endro menurunkan tangannya yang terangkat tinggi sejajar dengan telinganya.

__ADS_1


Panggilan berakhir.


Ada luka tak berdarah yang dia alami. Sakit... Begitu sakit tampaknya, tersirat jelas di wajah tampannya itu.


"Ada apa, Nak?" Tanya Nini mendekat ke arahnya ketika melihat reaksi tak biasa dari tubuh Endro.


Endro menggenggam jemari keriput milik wanita tua di hadapannya itu. "Nini... Bisakah Nini menjaga Ayah untukku?" Pinta Endro memelas.


"Ada apa, Nak? Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa sesuatu terjadi, hmm?" Tanya Nini banyak. Kecemasan terlukis buram di wajah tuannya.


"Nanti Endro cerita. Sekarang Endro harus pergi, Ni. Jika Ayah sadar, nanti. Tolong katakan kepada Ayah, bahwa Ayah adalah prioritas utama dalam hidupku setelah Tuhan. Tetapi, amanah dari Ayah juga tidak bisa aku abaikan. Katakan kepada Ayah, aku ingin menjadi putranya yang berbakti dan membanggakan dirinya." Pesan Endro berharap.


"Nini akan sampaikan, Nak. Pergilah jika itu menunjukkan baktimu kepada Ayahmu..." Perintah Nini melepas Endro dengan berlinang air mata.


Nini seakan tahu, berat bagi Endro saat itu untuk pergi sebelum menemui Ayahnya. Tetapi Nini mengerti, ada sesuatu yang sangat penting yang harus di kejar Endro di luaran sana.


Entah... Entah apa itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2