ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
MENJEMPUT MENTARI


__ADS_3

Bus yang membawa Endro ke kota kelahirannya hanya berhenti di terminal saja. Selanjutnya dia mengendarai ojek yang mangkal di sana menuju ke rumahnya.


Dalam perjalanannya, tak henti-hentinya dia bersikap gusar dan meminta tukang ojek untuk mempercepat lagi laju motornya. Endro terlihat begitu panik dan menghawatirkan gadis yang pernah Ia janjikan kebahagiaan dan perlindungan.


Sesampainya di rumah, Endro langsung berlarian memasuki pekarangan. Dia semakin panik ketika melihat Ayahnya dan Nini terduduk diam di ruangan depan tanpa ada Mentari.


Hening...


Perlahan, Endro berjalan menghampiri Ayahnya. "Mana Mentari, Yah?" Tanyanya lirih.


Kamil masih diam. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan putranya. Dia merasa gagal dalam melindungi gadis itu.


"Yah... Tolong jawab..." Pintanya sedikit memaksa. Dia menatap lekat mata Ayahnya, namun sang Ayah tidak berani membalas tatapannya itu.


"Nini? Mentari dimana?" Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dati sang ayah, Endro menoleh ke arah Nini yang duduk tidak jauh dari tempat Ayahnya itu.


"Alex membawanya, Nak. Alex telah membawanya..." Tangis Nini pecah. Dia bahkan sesenggukan mengingat apa yang telah didengarnya tadi dari Alex.


"Tolong selamatkan Mentari, Nak Endro..." Pinta Nini kemudian. Emosinya yang membuat ia berani meminta seperti itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Endro bangkit dan meraih kunci mobil tua milik ayahnya.


"Kamu mau kemana, Endro." Tiba-tiba suara Kamil menghentikan langkah terburu-burunya.


"Aku akan menjemput Mentari dari sana, Yah." Sahutnya cepat.


"Ayah ikut, Nak..."

__ADS_1


"Nini juga..." Nini ikut bangkit dari duduknya.


Endro tampak berpikir sejenak, dan kemudian mengangguk menyetujui permintaan Ayahnya dan Nini.


Endro melajukan mobil tua milik ayahnya itu dengan kecepatan tinggi di jalan beraspal kasar disana. Sesekali, lubang jalanan membuat mereka sedikit terhambung.


Kamil hanya diam saja tanpa menegur Endro. Dia bahkan juga memiliki pemikiran yang sama. Menyelamatkan Mentari.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di kediaman Alex dan keluarganya. Endro meminta ayahnya dan Nini untuk tetap tinggal di dalam mobil. Meski keberatan, namun mereka akhirnya menurut.


Endro turun dari mobil.


"Nak Endro..." Nini kembali memanggil Endro, sehingga Endro menghentikan langkahnya. "Tolong bawa Mentari dari sana, Nak..." Pinta Nini berharap.


Endro mengangguk pelan dan segera masuk ke dalam rumah itu tanpa basa basi.


"Dimana Mentari?" Tanya Endro lancang. Dia tidak peduli hendak bertanya kepada siapa diantara mereka. Yang dia mau hanyalah menemukan Mentarinya.


"Dasaaar... Bocah tidak tahu sopan santun." Maki Alex. Dia menghampiri Endro yang berdiri di ambang pintu rumahnya dengan amarah yang memuncak.


"Kenapa ribut-ribut, Buk, Paak..." Juwita muncul dari dalam hendak melihatat situasi, namun dia begitu tercengang mendapati Endro dengan gagah berdiri di depan pintu rumahnya. "Si-siapa dia, Buk...?" Tanyanya begitu terpesona melihat kharisma Endro yang terpancar.


"Entahlah... Ibu juga tidak tahu..." Sahut Lita seraya mengikuti Alex yang hampir mencapai posisi Endro.


"Siapa kamu? Dan apa tujuanmu mencari Mentari?" Tanya Alex lagi semakin garang.


"Tidak penting siapa saya... Yang penting beritahu dimana Mentari." Ketus Endro berapi-api.

__ADS_1


"Mentari? Apa perlumu dengannya, hah? Dia saat ini tengah menjadi tambang emas bagi saya." Ujar Alex menyeringai. Dia terlihat begitu menjijikkan dengan tawa serakahnya itu.


Tawa Alex seakan tawa bahagia. Bahagia telah menciptakan api membara di hati Endro. Sedangkan dia tidak menyadari bahwa kebahagiaan yang dia rasakan, sebenarnya adalah musuh terbesarnya. Ya, keserakahan dan ketamakan.


Endro bergerak hendak ke dalam. Namun dengan cepat Alex menahannya. "Benar-benar kurang ajar kamu. Berani sekali kamu masuk ke dalam rumahku tanpa seizinku, hah..." Maki Alex lagi.


Endro tidak peduli, dengan kuat dia melepaskan cengkraman tangan Alex di lengannya yang sudah tampak kekar di usianya saat itu.


"Mentariiii... Mentari kamu dimana? Mentariii..." Endro berkeliling mencari Mentari di setiap sudut dan setiap kamar rumah itu. Namun sekeras usahanya mencari, dia tetap tidak menemukan Mentari.


Lagi-lagi, Alex menyeringai penuh kemenangan. Sedangkan Juwita tampak kesal melihat Endro yang begitu panik mencari Mentari.


"Endrooooo..." Teriakan Mentari akhirnya terdengar oleh telinga Endro. Dan spontan, wajah Alex berubah masam. Seringai menjijikkan itu pun berubah garang.


Endro mengikuti asal suara Mentari. Dia semakin marah mendengar suara Mentari yang semakin lama semakin terdengar sayu. Berkali-kali Bunyi suara gedoran pintu terdengar seiring dengan teriakan Mentari.


"Jika kamu berani melangkah lagi, saya akan memanggil polisi untuk kelancangan kamu masuk ke rumah orang tanpa permisi." Teriak Alex.


Endro tidak menggubris ucapan Alex. Yang dia ingin, hanyalah membawa Mentari dari sana. Mengeluarkan gadis itu dari neraka dunia yang diciptakan keluarga angkatnya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2