
"Teman-teman... Lihat... Ada danau...!" Seru salah seorang anggota rombongan Mentari.
"Oh iya... Kita ambil air dari sana saja, yuk." Ajak yang lainnya menimpali.
"Ayo...
"Ayo...
"Ayo..." Yang lainnya juga ikut menimpali.
Ini bukannya danau yang dekat dari perkebunan bapak? Kok aku baru tau ya, dengan daerah perbatasan ini?~ Bathin Mentari ketika mendapati suasana disana.
Kebetulan... Aku akan mampir di pohon surat dulu, ah...
"Hey... Mentari... Ayo... Kenapa kamu masih bengong saja?" Ujar salah seorang teman Mentari mengusik lamunannya. Mereka telah selesai mengisi jeriken yang mereka bawa masing-masing.
"Oh.. Eh... I-iya. Kalian duluan saja. Aku mau cuci muka, tangan dan kaki dulu." Ujarnya gugup.
"Memangnya tidak apa jika kami tinggal? Kamu tidak takut?" Tanya temannya lagi.
"Tidak kok... Kalian tidak usah khawatir. Sebentar lagi, aku akan menyusul kalian." Sahut Mentari yakin.
"Ya sudah... Kami duluan, ya." Pamit teman-temannya seraya meninggalkan dirinya sendiri disana.
Setelah rombongannya itu menghilang dari pandangan matanya, Mentari sedikit berlari ke pohon yang berjarak sekitar dua puluh meter dari hadapan tempatnya berdiri.
"Endrooo..." Mata Mentari membulat ketika mendapati Endro tengah tersenyum-senyum membaca surat-surat yang dia buat selama itu.
"Me-Mentari? Kamu kok ada disini?" Tanya Endro gugup.
"Harusnya aku yang nanya. Kamu ngapain disini?" Ketus Mentari. Matanya tak henti menatap kotak kecil yang digenggami Endro sedari tadi.
"Oh.. Eh... Ini..." Endro menyodorkan kotak itu kepada Mentari. "Kamu ternyata suka menulis surat untukku ya? Tapi, kenapa tidak pernah mengiriminya?" Endro berlagak seperti ketangkap habis maling saat itu.
"Kamuuuu" Wajah Mentari memerah. Dia terlihat semakin geram.
__ADS_1
Dengan sigap, Endro mengambil langkah seribu dan berlarian di tepi danau itu. Sementara, mentari mengejarnya dengan sangat kencang pula.
"Iiiih... Kamu menyebalkan, Endro..." Mentari menghentikan larinya. Dia hampir menangis.
Endro kembali mendekati posisi Mentari yang berselonjoran sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu menangis?" Tanya Endro hati-hati. Guratan penyesalan terlihat jelas di wajah Endro.
"Aku malu tau..." Sungutnya tanpa mau membuka wajahnya.
"Aku nggak sengaja menemukannya, Mentari. Tadi, waktu aku hendak mengambil ranting itu, kotak suratmu ini jatuh menimpa kepalaku. Kamu lihat saja kepalaku, nih benjol." Ujar Endro beralasan. Dia menangkupkan kepalanya ke wajah Mentari.
"Iya..." Mentari memegangi kepala Endro yang sedikit membengkak. "Lagian... Siapa suruh kamu mengambil ranting yang itu. Seperti tidak ada ranting lain saja." Ujar Mentari kembali terlihat kesal.
"Aku juga mana tahu kalau ada ini disitu." Balas Endro membela diri. Dia masih mengusap-usap kepalanya yang sedikit benjol .
"Lain kali, jangan suka baca-baca. Ini privasi." Ketus Mentari masih kesal.
"Ya...Ya... Buk guru..." Endro mengalah. Karena wanita suka sentimen pikirnya.
"Tidak juga, palingan dua atau tiga kali dalam seminggu." Sahut Mentari.
"Dengan apa?"
"Jalan kaki... Aku akan berangkat jam tiga sorean, dan sampai rumah lagi jam delapanan malam. Disana, kebun bapakku." Telunjuk Mentari mengarah ke samping kiri mereka. "Sekitar dua ratus meteran lah."
"Jalan kaki??? Pasti melelahkan..." Endro sangat terkejut mendengar pengakuan Mentari.
"Aku sudah terbiasa... Malahan itu jauh lebih baik, dari pada harus di rumah." Ungkapnya getir.
"Apa begitu tersiksa menjadi dirimu, Mentari?" Tanya Endro lirih. Dia menggenggam jemari Mentari dan membawa gadis itu duduk di tepian danau.
Mentari tidak menyahut. Dia hanya tersenyum getir untuk itu, kemudian merebahkan kepalanya dan bersandar ke bahu Endro.
"Waktu itu, memang menyakitkan bagiku. Tapi setelah aku dekat denganmu, sudah tidak lagi. Aku hanya berpura-pura sakit saja di depan mereka. Agar Mereka berhenti menyakitiku untuk sejenak." Mentari mengatur nafasnya yang sempat tercekal di kerongkongannya.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu semua ya, kenapa aku suka mengataimu dulu?" Mentari menarik kembali kepalanya dan menatap lekat mata Endro.
"Jika itu bisa mengurangi rasa sakitmu, sekarang pun kamu masih boleh mengataiku." Ujar Endro. Dia sangat mengerti dari rasa sakit yang dirasakan gadis itu.
Mentari menggeleng. "Tidak akan... Siapa bilang dapat mengurangi rasa sakitku?"
"Kamu sendiri..."
"Aku pikir, iya... Rupanya, tidak sama sekali. Rasa sakit itu semakin bertambah ketika aku melihatmu marah, sedih dan kecewa."
"Kenapa?"
"Entahlah..." Mentari mengangkat bahunya tidak mengerti. "Aku lebih bahagia, jika sempat melihatmu bersama ayahmu dan mampir untuk mencicipi masakan Nini. Aku pikir, akan lebih mudah bagiku menjalani kehidupanku setelah kehilangan orang tua kandungku, jika aku bertemu dengan kalian." Tutut Mentari pedar.
"Setelah lulus nanti, apa kamu akan lanjut lagi le sekolah yang lebih tinggi?" Tanya Endro berharap menemukan jawaban yang bisa memuaskan hatinya.
Mentari menggeleng. "Tentu tidak, End."
Endro membuang nafas berat. Dia kecewa.
"Apa kamu akan sanggup bertahan untuk tiga tahun lagi? Aku akan usahakan membawamu pergi dari mereka." Endro meremas erat bahu Mentari.
"Entahlah..." Endro terlihat pasrah mendengar satu kata itu. "Tapi aku akan terus berusaha. Waktu tiga tahun itu, sama banyaknya dari pertemuan kita waktu MOS dulu, bukan? Sekarang sudah mau lulus saja." Ujar Mentari. Dia kembali melukis senyuman di bibirnya itu.
Endro akhirnya bernafas lega mendengar penuturan Mentari, meski dia tidak begitu yakin untuk itu. Rasa takutnya sangat besar terhadap sesuatu yang akan menimpa gadis itu, nantinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1