
Endro berjalan ke luar ruangan. Kenangan disana membuat pikirannya terasuk. Bahkan dia sendiri tidak mampu mengendalikan akal dan pikirannya.
Nummi yang mengerti perasaan Endro saat itu, tidak mampu mencegahnya. Dia terus mengikuti kemana langkah kaki Endro membawa mereka.
Hingga, sampailah mereka di sebuah taman yang terletak di belakang sekolah itu. Endro duduk di atas rumput jarum yang terbentang disana. Dia sedikit tersenyum. Mungkin bayangan masa lalunya yang melintas di matanya kala itu.
Endro kembali melanjutkan ceritanya.
*****
Ketika semua teman-teman sekelasnya lengah. Dengan mengendap-endap, Endro menarik lembut tangan Mentari.
"Endro... Kamu mau membawaku kemana?" Bisik Mentari terlihat kesal.
"Sssttt..." Balas Endro seraya meletakkan telunjuknya ke bibir Mentari. Mentari menurut, meski dia bingung dengan perlakuan Endro terhadap dirinya.
"Ngapain lagi kita kesini, End?" Tanya Mentari ketika mereka sampai di hamparan padang ilalang belakang sekolah. Ya, semenjak mereka diketahui telah berdamai, mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi dari warga sekolah lainnya. Mereka berbicara bebas dimana pun selama masih di dalam sekolah itu.
"Mereka berisik..." Dengus Endro sembari membawa gadis itu duduk di sampingnya.
"Padahal... Aku ingin sekali melihat mereka latihan." Sungut Mentari.
"Sudahlah, besok-besok kan bisa. Lagian kita tidak ambil bagian dalam memerankan drama. Kamu membacakan puisi, sedangkan aku membawakan lagu." Endro merebahkan tubuhnya, dan berbaring di pangkuan Mentari.
"Endro... Kamu ngapain? Nanti kalau ada yang lihat, bagaimana?" Tanya Mentari panik.
"Diamlah sebentar. Mereka sibuk, jadi tidak ada yang akan melihat kita. Kecuali Dia."
"Dia? M-maksud kamu...? Hmm..." Mentari menjadi gugup. "Lalu... Apa kamu tidak malu kepada-Nya?"
"Aku malu..." Sahut Endro singkat. Dia memejamkan matanya.
__ADS_1
"Lah teruuusss? Endoroo...?" Mentari menggoyangkan bahu Endro. Namun Endro tetap tidak mau bergeming lagi.
"Masa' dia tidur?" Gumam Mentari. Wajahnya terlihat jengkel. "Dia memang selalu berbuat semau dirinya saja." Gerutunya lagi.
Mentari semakin memandang lekat wajah Endro. Dia sedikit tersenyum. Ternyata dia benar-benar tampan...
Tangan kanannya hendak diangkatnya untuk membelai kecil rambut Endro. Tetapi kembali diurungkannya. Ada rasa malu di dalam hatinya. Tapi lebih terasa mendamaikan jika memandangi wajah polos lelaki itu.
Lelaki yang beberapa kali membuatnya lolos dari kekejaman keluarga angkatnya.
Mentari berusaha melindungi wajah Endro dari sengatan sinar matahari dengan kedua tangannya. Dan menghalau setiap nyamuk yang berusaha menghisap darah lelaki itu.
Sudah hampir sejaman Mentari menahan rasa penat di pinggulnya dan keram di bagian kedua kakinya, barulah Endro terbangun. "Sudah berapa lama kita disini?" Tanya Endro dengan suara serak khas bangun tidur. Dia mengucek-kucek kedua bola matanya yang sedikit menyipit.
"Sudah lima jam..." Dengus Mentari berpura-pura kesal.
"Haahhhh? Yang benar saja?" Tanya Endro panik seraya bangkit dari pangkuan Mentari. "Kenapa tidak membangunkan aku?" Tanyanya lagi.
"Siapa suruh tidur kaya orang mati gitu? Untung tidak aku tinggal. Kalau aku tinggal, entah binatang apa yang akan memangsamu." Rutuk Mentari semakin membuat-buat rasa kesal di wajahnya. Entah berapa kuat dia menahan agar tidak tertawa dan luluh saat itu melihat wajah Endro yang dipenuhi rasa bersalah.
"Hmm... Biasa... Dari awal galak, akan seterusnya galak." Ujar Endro berpura-pura tidak mengacuhkan wajah kesal Mentari.
"Apa? Kamu bilang aku apa?"
"Galak..."
"Ishh... Dasar... Tidak tau terimakasih." Dengus Mentari hendak berlalu meninggalkan Endro seorang diri disana. Namun dengan cekatan, tangan Endro menahan lengan Mentari.
Mentari terkejut dan hampir terjerembab olehnya. Dan lagi-lagi, lengan kiri Endro menampung bahu Mentari. Terjadilah kontak mata diantara mereka berdua. Begitu dekat. Ingatan mereka kembali saat pertama kali mata mereka beradu. Ya, ketika Endro menyandarkan tubuh Mentari ke dinding kala itu.
Debaran itu kembali terulang lagi, membuat mereka gugup dan salah tingkah satu sama lainnya. Mentari berusaha bangkit dan melepaskan diri dari dekapan Endro.
__ADS_1
Dia tidak berani menatap mata lelaki di hadapannya saat itu. Jantungnya berdetak tak sesuai irama biasanya. Begitu tak karuan dan terasa menyebalkan bagi dirinya.
Dia merasa dipermalukan oleh perasaannya sendiri di depan lelaki itu.
Mentari kembali memutar tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu sebelum dirinya tak bisa ia kuasai lagi. Dan kali itu, Endro membiarkannya saja. Dia bahkan juga merasakan hal yang sama. Sama-sama bagai di mabuk perasaan sendiri.
Rasa gengsinya terlalu tinggi untuk menilai perasaannya terhadap gadis itu.
Apa benar, aku berniat menikahinya hanya untuk melepasnya dari kekejaman keluarga Pak Alex saja?
Apa aku sama sekali tidak memiliki perasaan khusus terhadap dirinya?
Ah entahlah... Suatu hari nanti, aku pasti akan menemukan jawabannya...
Endro bergumam sendiri di dalam hatinya, berusaha memberi keyakinan terhadap pemikirannya tentang perasaannya kepada gadis itu.
.
.
.
.
.
Mungkin ada kesalahan, sehingga reviewnya lama.
Sabar ya teman2..
Terus dukung karya Radetsa dengan komentar, kritik dan sarannya.
__ADS_1
Terimakasih...
Salam satu layar...