ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
DIMANA MENTARI


__ADS_3

Hari pernikahan yang telah diputuskan itupun datang. Endro dan ayahnya datang bersama beberapa orang tetangga sebagai kerabat yang akan menyukseskan acara pernikahan itu.


Mereka disambut dengan bunyi riuh alat musik tradisional di kota mereka. Acaranya terkesan begitu mewah yang membuat takjub para undangan.


Namun, ketika tibalah mereka di tempat Ijab dan qobul akan dilangsungkan, Endro sama sekali tidak menemukan mentarinya. Para kerabat dan undangan pun menunggu kedatangan mempelai wanitanya.


Waktu terus berlalu, keringat telah bercucuran dari tubuh mereka mereka yang berada di ruangan itu. Hiruk-pikuk pun terdengar dari bisik-bisikan mulut mereka yang merasa jengah karena menunggu terlalu lama disana.


Di sisi lain, tempat yang masih terjangkau dari pandangan mata Endro. Tampak Juwita mondar-mandir dengan cemas. Endro berdiri dan segera menghampirinya.


"Ada apa?" Tanya Endro ketus. Dia tahu bahwa wajah itu bukanlah sebuah kebenaran yang diungkapkan oleh hati Juwita.


"A... A..."


"Dimana Mentari?" Tanya Endro lagi tanpa berniat menunggu jawaban dari kakak angkatnya Mentari itu. Dia mulai merasa curiga dengan situasi disana.


"Itu dia... Mentari... Mentari...." Juwita masih berlagak gugup di depan Endro.


"Jangan bertele-tele... Cepat katakan... Dimana Mentari?" Endro bertanya dengan suara yang mulai meninggi. Sia mencengkram kedua lengan Juwita dengan erat.


"Mentari... Dia... Dia kabur..."


Endro tercengang. "Tidak mungkin... Kamu pasti berbohong, kan?" Tanya Endro lagi. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Juwita kepadanya.


"Itulah yang sebenarnya..." Sahut Juwita berusaha lantang di depan Endro. "Bukankah dari awal Mentari tidak ingin menikah dengan kamu?" Tambahnya lagi berusaha mengacaukan pikiran Endro saat itu.


"Kamu jangan mengada-ada... Ini pasti akal-akalan kamu dan orang tuamu lagi, kan?" Endro semakin tidak percaya dengan ucapan Juwita.


"Ada apa ini, End?" Kamil, Ayahnya Endro tiba-tiba datang karena mendengar keributan yang dihasilkan oleh suara Putranya itu.


"Mereka lagi-lagi mempermainkan kita, Yah. Dari awal, aku sudah tidak percaya melepas Mentari kepada mereka." Endro mengusap kasar wajahnya. Suaranya menggebu mengatakan hal itu kepada Kamil.


"Memangnya apa yang terjadi, End?" Tanya Kamil lagi berusaha menenangkan Endro.


"Dia bilang... Mentari kabur, Yah." Suara Endro melunak pasrah. Dia seperti orang linglung yang kehilangan arah saat itu.


"Ka-kabur? Kabur bagaimana, Nak?" Kamil ikut panik setelah mendengar jawaban dari Endro.


"Entahlah, Yah." Endro mengambil pandangannya ke arah Juwita. Dia menatap tajam gadis itu dengan mata elangnya. "Ini pasti akal-akalan dia dengan orang tuanya, Yah." Tuduh Endro seraya menunjuk tajam ke wajah Juwita.

__ADS_1


"Apa-apaan kalian ini, hah?" Alex datang menghampiri mereka untuk membela anaknya. "Kenapa kalian bersikap kasar kepada putriku?"


"Dimana Mentari?" Tanya Endro lagi kepada Alex.


"Kami tidak tahu. Bukankan anakku sudah bilang, bahwa calon istrimu itu kabur?" Ujar Alex tak kalah beringas.


"Ini pasti ulah kalian, kan? Kalian yang sudah merencanakan ini semua, kan?" Tanya Endro bertubi-tubi. Dia benar-benar tidak percaya dengan yang diucapkan oleh putri dan bapak di hadapannya itu.


"Untuk apa lagi kami melakukannya? Kami bahkan bisa mendapatkan apa yang kami mau jika pernikahan ini tetap berlangsung." Alex tak kalah dalam berkilah. Dia semakin mempersulit keadaan saat itu. Entah apa yang mereka rencanakan, namun Endro tetap yakin bahwa itu semua adalah akal-akalan dari mereka.


Hanya saja, Endro dan Kamil tidak mampu berkutik mendengar penuturan bapak angkatnya Mentari. Memang benar, sepengetahuan mereka hanya itulah yang Alex mau sedari dulu.


"Lalu bagaimana ini, End?" Bisik Kamil.


Juwita dan Alex mendengarnya. Dia melihat kecemasan di wajah Kamil karena para tamu sudah menantikan acara pernikahan itu. Mereka diam-diam menyeringai senang.


"Aku akan mencari Mentari, Yah. Aku masih tidak percaya dengan mereka." Sahut Endro terdengar ketus ketika melihat ke arah Alex dan Juwita. Dia segera melangkah hendak meninggalkan posisinya saat itu.


Wajah Juwita memerah. Dia segera menahan lengan Endro tanpa rasa malu. "Lalu bagaimana dengan pernikahan ini?"


"Pernikahan tidak akan terjadi tanpa ada mempelai wanitanya..." Sahut Endro. Dia menepiskan tangan Juwita dengan kasar dan melanjutkan kembali langkahnya.


"Lalu bagaimana dengan tamu-tamunya? Mereka pasti merasa kecewa sekarang." Ucapan Juwita membuat langkah Endro kembali terhenti. Juwita tersenyum, dia berpikir bahwa Endro telah termakan oleh ucapannya.


"Aku tidak peduli..." Sahut Endro kemudian tanpa menoleh.


Kamil terdiam. Sejenak, dia menatap kemarahan di wajah Juwita yang memerah. Kecurigaan Endro memang beralasan sepertinya. Tapi apa lagi yang saat ini mereka rencanakan? ~ Batin Kamil.


Kamil segera pula meninggalkan Alex dan putrinya itu.


Juwita masih tidak mau menyerah, dia berlari mengejar Endro yang sudah mencapai halaman rumahnya.


"Kamu mau mencarinya kemana?" Cegahnya berusaha menahan Endro.


Endro tak menyahut. Dia terus berjalan meski Juwita terus-terusan menghalangi dirinya.


"Endro... Apa kamu tidak kasihan dengan keluargamu? Mereka pasti saat ini merasa dipermalukan oleh Mentari. Lalu kenapa kamu masih mencarinya?" Tanya Juwita dengan suara tersengal-sengal.


"Mentari tidak pernah ingin mempermalukan aku dan keluargaku. Aku yakin, ini pasti ulah kalian." Hardik Endro yang sudah mulai risih karna ditahan terus oleh Juwita.

__ADS_1


"Bapakku kan sudah bilang, untuk apa kami melakukannya. Lagian pernikahan ini bukan kemauannya Mentari." Bantah Juwita lagi.


"Apa maksudmu?"


"Dia mengatakan kepadaku, kalau dia tidak ingin menikah denganmu. Dia sudah memiliki lelaki lain dihatinya." Tutur Juwita mengada-ada. Dia baru saja mengarang cerita di depan Endro, agar Endro mengurungkan niatnya untuk mencari Mentari.


"Itu bohong..." Tukas Endro tidak percaya.


"Itu benar..." Juwita memasang wajah memelas agar Endro mau mempercayai ucapannya.


"Endro... Bagaimana ini? Para tamu undangan sudah banyak yang mengeluh dan protes, Nak." Kamil datang mendekati mereka. Dan tampak dari kejauhan, Nini memerhatikan mereka dengan harap-harap cemas kala itu.


"Kita batalkan saja pernikahan ini, Yah." Putus Endro. Juwita yang mendengarnya pun tercengan.


"Ba-batal?" Gumam Juwita ketakutan. "Ja-jangan..." Cegahnya.


"Kenapa memangnya? Apa kamu yakin Mentari akan datang?" Tanya Endro ketika melihat reaksi Juwita.


"Jika dibatalkan, keluarga kita akan malu. Dan suatu hari nanti, para tamu tidak akan percaya lagi untuk datang ke pesta yang kita buat." Tuturnya cemas.


"Aku tidak peduli itu..." Ketus Endro.


"Tapi bagaimana dengan keluargaku?" Potong Juwita cepat.


"Itu urusanmu dan keluargamu."


"Tidak... Aku tidak mau di hari pernikahanku nantinya tidak ada tamu yang berdatangan." Ujar Juwita tampak ketakutan.


"Lalu harus bagaimana lagi?" Tanya Endro begitu acuh dengan derita yang di keluhkan Juwita kepadanya.


"Kamu nikahi aku saja..." Pintanya terdengar begitu tiba-tiba. "Ya... Dengan menikahiku, itu mungkin bisa menjadi solusi untuk kita, Bukan?" Tambahnya lagi tanpa rasa malu.


Kamil dan Endro terdiam. Mereka saling pandang seakan mencari jalan keluar di saat situasi seperti itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2