
Hal yang sama juga dilakukan Endro. Kamil, ayahnya meminta agar Mentari tidak boleh tahu tentang masalah apa yang telah menimpa orang tua angkatnya itu.
Mereka adalah orang yang saling menjaga perasaan orang-orang yang mereka sayangi, tanpa mengindahkan beban berat yang mereka tanggung sendiri.
Bagi Kamil, tanahnya yang telah diberikan kepada Alex sudah dianggapnya hilang. Dia dari awal tidak pernah memikirkan Bagaimana caranya untuk mendapatkan tanah itu lagi.
"Sayang..." Panggil Endro ketika mereka telah bersiap untuk duduk dan rebahan pada malam itu di atas tempat tidur mereka.
"Hmm? Ada apa, Sayang?" Sahut Mentari seraya menolehkan wajahnya ke arah Endro yang bersandar di sampingnya.
"Besok, aku akan menjual sayuran hasil panen dari kebun kita ke pasar. Sepertinya Ayah tidak ikut, beliau semakin lemah tampaknya." Tutur Endro menerawang. Wajahnya terlihat sendu ketika mengatakan kondisi ayahnya yang semakin memburuk saat itu.
"Apa sebaiknya kita ajak Ayah ke rumah sakit saja, Sayang. Kasihan Ayah..." Usul Mentari ikut terlihat mengkhawtirkan mertuanya itu.
"Aku sudah lakukan itu. Tapi Ayah malah bersikukuh menolaknya." Ujar Endro tampak habis pikir. Dia benar-benar mencemaskan keadaan Ayahnya yang beberapa hari itu tampak lemas dan lemah. Wajah Ayahnya yang kurus kering dan memucat.
"Begini saja, Sayang. Besok sepulang kamu dari pasar, kita ajak Ayah ke rumah sakit. Kita harus yakini Ayah, agar Ayah mau menuruti permintaan kamu." Ucap Mentari menenangkan hati suaminya yang gundah.
Endro mengangguk. Dia meraih tangan Mentari dan memeluknya dengan erat. Melihat tingkah manja suaminya, Mentari mengelus-elus lembut kepala Endro.
Elusan dari tangan Mentari membuat Endro merasa lebih rapuh. Dia semakin merasa tidak berdaya dengan suasana hatinya saat itu. Air mata yang sudah lama tidak ia keluarkan, tiba-tiba mengalir begitu saja dari ruas-ruas tepi matanya.
Dia merasa sesak pada malam itu. Entah mungkin firasatlah yang tengah mendatanginya sebagai petanda buruk yang akan dia alami.
"Kamu menangis?" Tanya Mentari cemas ketika merasakan hangatnya air mata Endro yang jatuh ke lengannya.
"Aku tidak tahu kenapa! Tapi hatiku merasa ngambang saat ini, Sayang. Rasanya berbeda dari sakit." Bisik Endro terdengar getir.
"Apa kamu terlalu mengkhawatirkan Ayah?" Tanya Mentari tak mengerti dengan perasaan suaminya saat itu.
"Entahlah, Sayang. Aku tidak tahu. Jangan jauh-jauh dari aku untuk saat ini, ya! Aku mohon..." Pinta Endro. Suaranya terdengar memarau.
__ADS_1
"Aku tidak akan kemana-mana kok, Sayang. Entah kenapa, aku bahkan juga tidak ingin beranjak dari kamu sedetik pun. Aku ingin tetap berada di samping kamu." Ujar Mentari lirih.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Endro seraya mengecup punggung tangan Mentari. "Sayang!" Panggilnya lagi dengan lirih.
"Hmm? Kenapa, Sayang?" Tanya Mentari menunggu ucapan suaminya.
"Aku minta maaf. Karena sampai detik ini belum bisa kasih kamu apa-apa." Ujar Endro tak berdaya.
"Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu bahkan sudah beri aku satu hal yang sangat besar dan tidak ternilai harganya, Sayang." Bantah Mentari seolah tidak setuju dengan pernyataan suaminya itu.
"Aku memangnya ngasih kamu apa?" Tanya Endro heran. Dia menatap mata Mentari begitu dalam dengan perasaannya.
"Kebahagiaan... Kamu sudah memberikan itu untukku, Sayang. Cukup kebahagian bagiku. Dan tidak ada hal lain lagi yang aku inginkan dari suami yang bertanggung jawab sepertimu." Tutur Mentari. Suaranya terdengar lirih penuh kejujuran. Air matanya ikut mengalir bersama keluarnya perasaannya saat itu.
"Apa kamu benar-benar bahagia?" Tanya Endro lagi seolah memastikan.
"Apa kamu ada lihat kebohongan di mataku?"
"Jika suatu hari nanti kamu kehilangan arah, kamu carinya di photo itu saja ya." Tunjuk Mentari mengarah ke photonya yang terpajang di dinding kamar mereka. "Kamu harus ingat, kamu bahkan ngorbanin banyak hal untuk orang itu. Bahkan Ayah juga..."
"Kenapa harus photo kamu?" Tanya Endro dengan alis mengkerut.
"Karena kamu melakukannya dengan tulus, Sayang." Ujar Mentari seraya menggamit kedua pipi Endro dengan telapak tangannya yang halus.
"Iya. Tapi kenapa mesti photomu?" Tanya Endro tak mengerti.
Mentari tersenyum tipis. "Memangnya kenapa? Kamu tidak ingin melihat photoku? Atau ada photo atau orang lain dalam hidup kamu?" Tanya Mentari sedikit cemberut.
"Bukan begitu, Sayang. Kenapa tidak langsung memelukmu seperti ini saja?" Tanya Endro semakin menguatkan pelukannya ke tubuh Mentari.
Mentari tertawa kecil karena merasa geli. "Aku kan tidak selalu ada di sampingmu, Sayang." Ujarnya di balik tawanya itu.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau kemana? Apa kamu ada pikiran untuk meninggalkan 'ku, hmm?" Balas Endro bersungut kecil.
"Tidak... Tidak sekalipun. Aku akan selalu bersama kamu. Sampai aku tiada di bumi ini. Bahkan jika aku mati, aku ingin mati dalam pelukanmu." Ujar Mentari kembali membuat hati Endro terkikis pilu.
"Tidak boleh..." Ketusnya.
"Kenapa tidak boleh, Sayang? Kita tidak akan pernah tahu kapan kita harus pergi."
"Kamu tahu. Kamu membuatku menjadi lelaki berguna yang tidak lagi manja seperti sebelumnya. Kamu memotivasi hidupku. Dan kamu menyadarkan aku, bahwa aku masih tergolong orang yang beruntung karena masih memiliki Ayah." Ucap Endro dipenuhi rasa takut. Takut jika Mentarinya lepas dari dirinya.
"Aku tidak tahu itu. Yang aku tahu, suamiku begitu gagah dari dahulu. Dia bukan lelaki manja. Dia bahkan mengeluarkan aku dari lubang kesengsaraan dengan tangannya sendiri..."
Mereka terus saja berbincang semalaman. Saling mengakui apa-apa yang telah mereka rasakan satu sama lainnya. Dan itu semua tidak lepas dari perasaan di hati mereka masing-masing. Berbagai ungkapan dan pernyataan cinta yang mereka rasakan keluar dan terlontar dari mulut mereka dengan kejujuran.
Mereka menghabiskan malam itu dengan saling tatap dan saling memeluk. Memberi kehangatan untuk diri mereka masing-masing. Dan saling menguatkan untuk diri mereka yang sama-sama rapuh saat itu.
Berbisik menghabiskan waktu yang mereka sendiri tidak tahu akan berakhir kapan.
Mereka bahkan tidak menyadari, bahwa mereka pun terlelap dalam waktu yang tidak tahu pabilanya. Yang mereka tahu, malam itu mereka bersama dalam kurun waktu yang terasa panjang dari sebelum-sebelumnya.
Mereka sama-sama tidak ingin melepaskan barang sedetik pun. Membiarkan nafas mereka bersatu dan bertukar satu sama lain. Saling mendengarkan suara-suara yang diciptakan oleh deru nafas mereka. Dan tertidur dalam kedamaian yang diciptakan oleh detak jantung mereka.
Mereka tidak saling menyadari, bahwa air mata mereka mengalir ketika mata mereka telah terpejam.
.
.
.
.
__ADS_1
.