
Malam sebelum pernikahan kala itu.
Mentari tampak mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali, dia menggigit kuku ibu jarinya dengan perasaan cemas. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Pikirannya terus melayang kepada Endro. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, yang jelas dia begitu ketakutan.
Mentari berusaha mengintip keadaan di luar kamarnya dan memastikan tidak ada orang yang berada disana.
"Sepertinya Kak Juwita, Bapak dan Ibuk sedang sibuk. Aku harus bisa kabur dari sini. Aku harus memberitahukan rencana mereka kepada Endro." Gumam Mentari.
Secara mengendap-endap, Mentari keluar dari sana. Tubuhnya saat itu cukup kuat untuk berlari ke rumah Endro. Karena beberapa hari itu, Juwita memperlakukannya dengan baik dan mengatur pola makannya. Meskipun ada maksud dan tujuan tertentu di balik itu semua.
Tapi sayang, baru saja Mentari mencapai seratus meter dari rumah, seseorang yang berpartisipasi dalam mempersiapkan pesta melihatnya dari kejauahan. Orang itu malah mengadukannya kepada Juwita.
"Juwita... Itu kan Mentari? Dia mau kemana? Padahal besok adalah hari pernikahannya..." Tanya orang itu tanpa mengetahui apa pun.
"Hah? Mana?" Tanya Juwita begitu terkejut mendengar aduan orang itu kepadanya.
"Itu..." Telunjuk orang itu mengarah kepada Mentari yang terlihat membayang dari kejauhan, karena cahaya remang-remang yang diciptakan lampu jalanan yang tidak terlalu terang malam itu.
Juwita ternganga. Dia terlihat geram karenanya. Dengan cepat, dia mengambil mobil bapaknya dan mengejar Mentari.
"Juwita... Kamu mau kemana, hah?" Seru Alex yang tiba-tiba datang karena mendengar suara mesin mobilnya.
"Masuk, Pak." Pinta Juwita tanpa menjawab pertanyaan bapaknya.
Tanpa pikir panjang lagi, Alex pun menurut.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Alex setelah berada di dalam mobil, di samping Juwita.
"Mentari kabur, pak."
"Apa?" Alex terkejut mendengar ucapan Juwita. "Kabur? Kabur bagaimana? Kenapa dia kabur?"
"Entahlah, Pak. Untung saja ada orang yang liat..." Ujarnya masih terlihat geram.
"Kurang ajar anak itu..." Maki Alex ikut geram mendengar kaduan Juwita.
__ADS_1
"Sepertinya dia sudah tahu rencana kita, Pak." Terka Juwita berusaha menebak apa yang telah terjadi saat itu.
"Kok bisa?"
"Juwita juga tidak tahu, Pak. Lihat saja, kali ini dia tidak akan Juwita kasih ampun lagi." Ujarnya berapi-api. Tangannya dengan kuat menekan stir bulat di depannya itu. "Sudah cukup sandiwaranya. Dikasih hati, malah ngelunjak."
Juwita menekan pedal gas di kakinya dengan begitu kuat. Amarahnya mengendalikan dirinya saat itu, hingga ia berniat hendak menghabisi Mentari.
……
Mentari semakin mempercepat langkahnya ketika cahaya dari lampu mobil milik Alex semakin mendekat ke arahnya.
Mentari terkejut ketika menyadari mobil itu hendak menabraknya dari arah belakang. Dengan sigap, dia mengelak ke pinggiran jalan hingga dirinya terjerembab disana.
Mentari mengusap kedua lutut dan tangannya yang terasa perih, kemudian berusaha lari kembali. Tapi sayang, tenaganya tidak memungkinkan lagi untuk itu.
"Mau lari kemana lagi kamu, hah?" Hardik Juwita garang. Lengan Mentari dicengkramnya dengan begitu kuat, sehingga Mentari terdengar meringis kesakitan karenanya. "Untung kamu tidak aku buat mati tadi."
"Le-lepaskan... Lepaskan aku..." Pinta Mentari memelas. Namun dia memintanya kepada Juwita yang tidak perperasaan terhadapnya. Yang selalu menginginkan penderitaan untuk dirinya.
Mentari ternganga, dia bahkan percaya dan berusaha mengambil kesempatan untuk kabur lagi. Baru dua langkah menjauh, Juwita malah menarik rambut Mentari yang panjang. Dia menyeret adik angkatnya itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Sa-sakit... To-tolong le-lepaskan... Sakit..." Ringis Mentari setengah berteriak.
"Diaaam... Dasar, tidak tahu diri..." Makinya dengan suara keras melebihi suara Mentari. "Masuk..." Perintahnya berapi-api seraya mendorong tubuh Mentari.
Mentari pasrah. Dia menurut untuk masuk ke dalam mobil itu. Alex tampak menyeringai melihat kedua putrinya yang berbeda itu. Satu kebanggaannya, dan yang satu lagi budak untuk tambang emasnya.
"Sekarang kamu akan membawanya kemana, Juwita?" Tanya Alex begitu penasaran dengan rencana putri kebanggaannya itu.
"Bapak lihat saja, nanti Bapak akan terkejut karenanya." Seringai Juwita. Dia kembali melajukan mobilnya ke suatu arah yang tidak asing lagi bagi mereka.
Jalan satu arah ke tempat perkebunan Kamil berada. Alex yang tahu itu, tidak ingin bertanya-tanya lagi. Dia hanya akan menyaksikan sendiri apa yang hendak diperbuat oleh Juwita terhadap Mentari.
Benar saja, mobil yang dikendarai Juwita berhenti di depan perkebunan Kamil yang tampak subur meski di malam hari.
Juwita kembali menyeret Mentari untuk turun dari mobil itu, dan Mentari sendiri sudah tidak lagi berdaya untuk berontak. Mereka membawa masuk Mentari ke dalam kebun. Disana, Juwita mengikat Mentari.
__ADS_1
"Ke-kenapa sa-saya diikat?"
"Kenapa? Kamu masih bertanya kenapa? Kamu tahu ini dimana, bukan?." Juwita menggamit pipi Mentari dengan geram. Kedengkiannya terhadap adik angkatnya itu membutakan hatinya, sehingga dia bertindak begitu kejam kepadanya.
"Ini tanah yang akan diberikan Ayahnya Endro sebagai mahar, bukan?." Aku biarkan kamu memilikinya untuk semalam ini. Tapi jangan pernah bermimpi untuk menikah dengan dirinya. Mengerti?"
"Aku tidak butuh apa pun dari pernikahanku dengan Endro. Bukankah kalian yang menginginkan tanah ini?" Sahut Mentari memberanikan diri membantah ucapan Juwita.
"Pak... Asal Bapak tahu... Jika aku tidak jadi menikah dengan Endro, maka Bapak tidak akan jadi memiliki tanah ini. Karena apa? Dia tidak akan sudi menikahi anakmu itu..." Keberanian yang diucapkan Mentari membuat Alex tampak ragu.
Juwita semakin geram, ditambah lagi karena melihat keraguan di wajah Bapaknya. Satu tamparan keras melayang di pipi Mentari.
"Kenapa memangnya, hah? Aku cantik. Bahkan lebih cantik darimu." Ujar Juwita merasa yakin, meski hatinya pun juga ikut ragu saat itu.
Takut mendengar ocehan lain dari Mentari, Juwita segera membekap mulut gadis malang itu dengan sebuah tali kain.
"Silahkan nikmati malam di perkebunan milik calon mertuamu yang tidak jadi. Dan bersiaplah untuk mendengarkan kabar pernikahanku dengan Endro besok siang." Tutur Juwita berbisik di telinga Mentari.
Air mata Mentari berjatuhan dengan deras. Dia sudah tidak mampu lagi berteriak saat itu.
"Ayo, Pak. Kita pergi sekarang." Ajak Juwita kepada Alex. Alex menyeringai dan mengikuti putrinya yang jahat itu. Mereka akhirnya meninggalkan Mentari yang terikat disana.
Berkali-kali Mentari mencoba berteriak. Tapi sia-sia. Suaranya bahkan tidak bisa menembus ikatan di mulutnya itu. Dia semakin terpukul dan ketakutan dalam gelapnya malam.
Endro... Tolong aku... Tolong aku, End... Aku takut sendirian disini~ Mentari meratap di dalam hatinya.
Beruntung gemintang dan satu bulan menemaninya, dan sebuah keajaiban dengan kedatangan sekelompok kunang-kunang yang menghiasi malamnya disana. Menghapus rasa takutnya dalam kesendirian di malam itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1