ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
KEPUTUSAN


__ADS_3

Sore sepulang kerja, Endro mendapati Nummi berada di halaman belakang rumahnya. Dengan langkah berat, Endro memberanikan dirinya untuk menemui gadis itu.


"Sore, Sayang..." Endro menyapa Nummi yang tengah memberi makan ikan-ikan di dalam kolam. Gadis Itu tampak melamun di sana.


"Om Endro..." Serunya begitu senang mendapati Endro telah berada di sampingnya.


"Hey... Kok kamu reaksinya gitu? Seperti kita tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun saja..." Goda Endro berpura-pura tidak mengerti isi pikiran Nummi.


"Habiiis... Seharian kemarin, Om tidak muncul. Nummi kan jadi khawatir..." Sungutnya kembali terlihat murung.


"Iya sayang... Maaf... Om kemarin sibuk sekali. Itupun pekerjaan Om masih terbengkalai di pabrik. Dan makanya pagi-pagi sekali, Om tadi langsung berangkat. Alhamdulillah, pekerjaan yang terbengkalai kemarin nya sudah beres..." Tutur Endro berusaha merayu Gadis itu agar tidak cemberut lagi.


"Hehehe... Nummi terlalu berlebihan ya, Om. Nummi mengerti kok, Om. Harusnya Nummi yang minta maaf sama Om." Ujar Nummi kembali bersikap santai dan biasa-biasa saja.


"Terima kasih, sayang..." Ucap Endro sembari mengelus lembut kepala Nummi. "Sini Om bantu." Tawarnya meminta makanan ikan di tangan Nummi.


"Oke om..." Dengan bersemangat, Nummi menyodorkan makanan ikan yang dipegangnya ke tangan Endro.


Mereka berdua sejenak hening. Berusaha memikirkan perkataan apalagi yang akan mereka ucapkan untuk memulai obrolan di antara mereka di senja Selasa itu.


"Om..." Panggil Nummi lirih. Kali itu, dia mengalah dengan keadaan.

__ADS_1


"Hmm..." Sahut Endro bergumam kecil.


"Om jujur ya..." Pinta Nummi sungkan. Entah apa yang di pikirannya saat itu.


"Apa Sayang?" Tanya Endro tidak mengerti.


"Apa sebenarnya Om terluka, jika Om menceritakan kembali tentang Bibi Mentari?" Nummi menggigit bibir bawahnya karena menahan perasaan tidak enaknya yang menggebu muncul dengan seketika.


Endro terdiam. Wajahnya terlihat sendu penuh lara. Tangannya yang sedari tadi aktif menebarkan makanan ikan ke kolam pun, terhenti seketika.


Melihat reaksi itu, Nummi semakin dilema. "Pastinya iya ya, Om. Nummi minta maaf, Om." Nummi semakin menyesal dan merasa bersalah.


"Harusnya begitu, sayang. Om terluka..." Aku Endro getir. "Tapi, Om akan lebih merasakan kehampaan dan Kesunyian lagi, jika Om tidak kembali menceritakan tentang Mentari." Tambahnya Seraya tersenyum tipis. Dia menengadah untuk menghapus air bening yang menggenang di matanya.


Dengan menceritakan kembali, Om sadar betapa bahagianya Om bersama mentari kala itu, Nak. Hal yang selama ini begitu gengsi untuk Om akui.


Tidak seharusnya Om meragukan hati om kala itu.


Memang benar kata orang. Sakitnya cinta akan terasa, jika orang yang mencintai kita telah pergi jauh untuk selamanya meninggalkan kita seorang diri. Sakitnya cinta akan terasa, apabila dia tidak lagi hadir memberikan kebahagiaan untuk kita.


Cinta telah merebut seluruh kesadaran Om. Dia tidak lagi mengindahkan sebuah kesalahan yang patut Om jauhi. Namun, dia membuat kebenaran tidak lagi dapat terbukti. Dia membalikkan seluruh keadaan, Om. Membuat Om rapuh karena telah meragukan kehadirannya.

__ADS_1


"Om...? Om tidak apa-apa, kan?" Panggil Nummi membuyarkan lamunan Endro. Ya, Endro tampak melamun memikirkan kebimbangan di hatinya.


"Eh... Ti-tidak, sayang. Om akan lanjutkan kembali cerita Om, jika kamu masih bersedia menjadi pendengar yang baik untuk Om."Putus Endro begitu yakin dan mantap dengan hatinya.


Mungkin merasa menyesal lebih baik baginya, daripada keliru mengabaikan Apa yang sebenarnya dia rasakan selama itu. Dan dengan mengulang kembali masa lalunya, dia akan tahu kebenaran tentang perasaannya yang tersembunyi di dalam Dirinya Sendiri.


"Nummi bersedia Kok, Om. Bahkan, Nummi telah menunggu-nunggunya..." Sahut Nummi tampak berbinar mendengar keputusan Endro.


"Ayo kita duduk di bangku itu..." Tunjuk Endro ke sebuah bangku yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri saat itu. "Berdiri disini akan melelahkan untuk mendengar cerita Om yang panjang." Tambahnya lagi sembari melayangkan sering kecilnya.


Nummi mengangguk senang. Dia benar-benar tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya saat itu.


Mereka melangkah menuju ke bangku yang ditunjuk Endro. Disana, Endro kembali melanjutkan ceritanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2