ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
GELISAH


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Juwita berhenti di depan rumahnya. Disana, Ibu dan Bapaknya telah menunggu kedatangan dirinya dengan harap-harap cemas.


"Juwita... Kemana saja kamu, Nak? Ibu khawatir. Kamu kan belum terlalu mahir membawa mobil." Tanya Lita begitu mengkhawatirkan putri semata wayangnya itu.


"Tenang saja, Buk. Juwita baik-baik saja, Kok." Sahutnya begitu santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Juwita punya kejutan buat Bapak dan Ibuk." Tambahnya lagi seraya mendelikkan matanya ke arah mobil. Dia menyeringai penuh kemenangan saat itu.


Lita dan Alex memburu mengikuti arah mata Juwita. Api amarah kembali membakar jiwa mereka setelah mendapati Mentari disana. Dengan cepat, Lita mengejar posisi Mentari yang telah berdiri di samping pintu mobil itu.


"Akhirnya pulang juga kamu, haahhh. Setelah membuat marah dan mempermalukan kami beberapa hari ini." Seru Lita seraya menyeret Mentari ke hadapan Alex.


Awalnya Alex hanya menatap tajam Mentari. Dan kemudian, ia siap melayangkan tangannya untuk memukul gadis itu.


"Paaaakk... Jangan... Biarkan Mentari istirahat dulu." Cegah Juwita dengan cepat. Dia menarik lengan Mentari dengan lembut dan memintanya untuk masuk.


Mentari semakin dibuat bingung oleh kakak angkatnya itu. Jika pun niat Juwita hanya untuk menjebaknya, tetapi kenapa di depan Bapak dan Ibunya pun dia masih bersikap baik. Bahkan mereka tidak tahu jika Juwita baru saja pergi menemui Mentari.


Setelah Mentari menurut untuk masuk. Juwita mendekatkan bibirnya ke hadapan Alex dan Lita.


"Bukankah sapi yang akan dikorbankan, sebelumnya juga harus diperlakukan dengan baik?" Bisik Juwita. Dia kembali menyeringai puas dan segera meninggalkan kedua orang tuanya yang semakin terlihat kebingungan oeh sikap dirinya.


"Rencana apa yang sedang dimainkan oleh anakmu itu, Buk?" Tanya Alex kepada istrinya, lita.


"Entahlah, Pak. Ibuk juga tidak tahu. Tapi yang pasti, itu tidak menguntungkan untuk Anak pungut itu." Sahut Lita. Meski tidak tahu apa-apa, dia ikut menyeringai senang melihat aksi putrinya.


*****

__ADS_1


Apa Kamu pikir aku akan baik-baik saja, Mentari?


Dengan keputusan yang kamu ambil, aku semakin gelisah disini.


Tolong… Tolong bantu aku untuk sekali ini saja. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Inilah kesempatan yang paling tepat bagiku mengeluarkan kamu dari sana.


Mereka bukan orang baik yang dengan cepatnya bisa berubah Mentari. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan sekarang, hah? Kenapa tiba-tiba kamu dengan mudahnya memercayai mereka?


Endro tampak gelisah di depan rumahnya yang sederhana itu. Kedua tangannya dengan kuat menopang tubuhnya yang kekar di pagar kayu beranda rumah. Pikirannya tak lepas dari gadis berwajah pucat itu.


Dia tidak tenang.


Ia tidak yakin bahwa Mentarinya baik-baik saja malam itu.


"Jika hatimu ragu untuk melepasnya ke sana, maka segerakanlah niatmu untuk melamarnya, Nak." Kamil datang dan mengelus pelan pundak putranya. Iya tahu apa yang saat itu dipikirkan oleh Endro.


"Begitu pula dengan Ninimu, End. Dia sangat mencemaskan keadaan Mentari saat ini." Tambah Kamil lagi. Wajahnya tersirat tanda tanya, seakan menunggu Endro merespon perkataannya.


"Lalu aku harus bagaimana, Yah?" Tampak jelas kebingungan di wajah sendu milik Endro.


"Lamarlah dia. Bawalah dia pergi dari sana. Walau bagaimanapun, Alex punya kuasa atas dirinya. Dan itu juga berguna untukmu kelak, Nak. dia tidak akan pernah mencoba mengusikmu lagi nantinya, terutama Mentari." Tutur Kamil mencoba mengurangi kebimbangan di hati Endro.


Kamil sungguh tahu perasaan anaknya saat itu. Dia juga tahu, perasaan Endro murni sebuah ketulusan dan kebaikan tanpa memikirkan apa sebenarnya cinta terhadap gadis itu.


Dia berkata, karena dia juga mengkhawatirkan Mentari. Manusiawi. Memiliki perasaan belas kasih terhadap manusia lain.

__ADS_1


"Ataukah… Ada perempuan lain di hatimu saat ini?" Tanya Kamil berpura-pura menerka.


Endro terlihat gugup sebelum mampu menguasai kembali pikirannya. Pertanyaan ayahnya, membuat ia kembali mengingat gadis di taman kala itu.


Sejenak, pikirannya bertekad hendak melupakan gadis itu. Meski hatinya belum tentu setuju.


"Endro sangat ingat perkataan Ayah. Menikahlah dengan seseorang yang meski kamu tidak mencintainya, tapi kamu yakin jika menikah dengannya, kamu mampu mencintainya kelak. Dan Endro yakin, Yah. Meski Endro belum mencintai Mentari, tapi setelah menikahinya, Endro akan mencintainya.


Dia bukan gadis buruk, yang akan sulit buat Endro untuk jatuh cinta." Ujar Endro pasti. Dia benar-benar yakin saat itu dengan ucapannya.


Diam-diam Kamil tersenyum. Dia kembali menepuk-nepuk pelan pundak Endro.


"Jadi kapan kita akan kesana?" Tanya Kamil mulai bernafas lega.


"Besok pagi, Yah. Kalau Ayah tidak keberatan." Sahut Endro semakin yakin.


"Tentu tidak, End. Ayah malah setuju. Lebih cepat, itu akan lebih baik." Ujar Kamil senang dengan keputusan yang diambil oleh putranya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2