ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
TAK MENGENAL FIRASAT


__ADS_3

Endro berangkat dengan mengendarai mobil tua milik ayahnya. Kala itu hatinya masih terasa gundah sejak meninggalkan rumah sederhana yang dihuninya bersama ayah dan istrinya itu. Namun, perjalanannya bersama waktu telah diatur oleh takdirnya, jauh sebelum dia hidup.


Hatinya semakin tidak karuan ketika Mentari sempat meminta dirinya untuk berpamitan pada calon anaknya yang masih berada dalam kandungan istrinya itu.


Sementara di sisi lain. di rumahnya, Mentari begitu senang karena kedatangan Nini Setelah beberapa lama kepergian Endro tadinya. Dia memeluk Nini Seperti telah lama tidak bertemu dengan wanita tua yang sudah dianggapnya nenek.


"Ckckck... Ada apa dengan kamu, Nak? Kenapa tiba-tiba begini?" tanya Nini merasa heran dengan perlakuan Mentari terhadap dirinya.


"Nini... Mentari ingin makan masakan Nini. Nini mau tidak, masak untuk Mentari hari ini?" Rengek Mentari yang masih saja merangkul tubuh Nini hingga ke dalam rumah.


"Iya... Nini mau... Memangnya kamu ingin makan apa hari ini, Nak?" Tanya Nini memanjakannya.


"Apa pun. Bagi Mentari, semua masakan, jika Nini yang memasaknya akan terasa lebih lezat." Sahut Mentari tampak begitu riang.


"Baiklah. Nini akan masak capcay-capcay itu loh... Kamu mau?" Tanya Nini seperti sulit menyebutkan namanya.


"Capcay, Ni?" Tanya Mentari kesenangan.


"Iya, itu. Capcay." Ulang Nini membenarkan.


"Mau banget, Ni. Hmm jadi nggak sabar." Rengek Mentari tanpa mau melepaskan apitan tangannya ke lengan Nini.

__ADS_1


"Ya sudah... Nini dilepas atuh, Mentari. Kalau kamu nempel begini terus, bagaimana Nini bisa masak?" Ujar Nini bertingkah seolah terlihat jengkel, meski tidak sebenarnya.


"Hehehe... Iya..." Mentari melepasnya sambil cengengesan sendiri.


"Oh, iya. Bagaimana keadaan Ayah mertuamu, Nak? Apa dia ikut dengan suamimu ke pasar?" Tanya Nini yang baru saja mengingat Kamil.


Dia juga tahu dengan kondisi Ayahnya Endro beberapa hari terakhir. Begitu lemah dan kurus.


"Ayah ada di kamar beliau, Ni. Nanti sore, Endro akan bawa Ayah ke rumah sakit." Ujar Mentari kembali murung.


"Kamil mau?" Tanya Nini berharap.


"Mau, Ni. Tadi aku dan Endro sudah membujuk Ayah." Sahut Mentari lagi seraya tersenyum halus.


Mentari mengangguk. "Iya, Ni. Mentari percaya itu. Bisa saja usia Ayah jauh lebih panjang dibanding usia Mentari, meskipun beliau lebih tua." Ujar Mentari menghibur dirinya sendiri.


"Iya. Kamu benar. Nini yakin, Ayah kalian pasti baik-baik saja." Nini membenarkan tanpa mengenal firasat apa pun. Dia kemudian beralih untuk memulai pekerjaannya, memasak untuk ibu-ibu hamil yang tengah mengidam, pikirnya.


Setelah selesai memasak, Nini menyiapkan dua piring makanan. Yang satu untuk Mentari, dan yang satunya lagi untuk Kamil. Orang lain yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri semenjak dia sendiri pun sudah mulai lupa kapannya.


"Bagaimana keadaanmu, Nak Kamil?" Tanya Nini ketika dirinya telah dipersilakan masuk ke kamar Kamil.

__ADS_1


"Sudah lumayan membaik, Bu. Alhamdulillah..." Sahutnya masih terdengar lemas.


"Alhamdulillah... Kalau begitu, kamu coba makan, ya. Perutmu juga butuh diisi..." Pinta Nini seraya menyodorkan sepiring nasi yang sudah lengkap dengan sayur dan lauknya.


"Terima kasih, Bu. Tapi aku tidak selera sama sekali. Nanti kalau aku lapar, aku akan ambil sendiri, Bu." Elak Kamil menolak.


"Nak Kamiiil..." Paksa Nini tetap menyodorkan piring yang berisi nasi di tangannya itu. "Pantas saja anak menantumu sangat mengkhawatirkan dirimu, Nak. Kamu bahkan tidak mau makan sama sekali. Padahal sudah hampir pukul sepuluh begini." Tambah Nini berlagak kecewa.


"Baiklah, Bu. Tapi saya tidak janji akan menghabiskannya." Ujar Kami menurut. Dengan sangat terpaksa, dia mengambil piring berisi nasi yang disodorkan Nini kepadanya.


"Ya sudah. Kamu paksakan untuk memakannya, supaya kamu punya energi sedikit. Ibu keluar dulu, kasihan menantumu membereskan rumah sendirian. Dia mungkin dalam masa ngidam saat ini." Pamit Nini.


"Baiklah, Bu. Sekali lagi, terima kasih, Bu." Ucap Kamil.


Nini mengangguk dan segera meninggalkan kamar Kamil, dan membiarkannya menyantap makanannya dengan nyaman.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2