
"Mentari..." Panggil Endro.
"Ya?" Mentari kembali membalikkan tubuhnya ke arah Endro.
"Ini..." Endro memberikan sebuah amplop panjang kepadanya.
"Apa ini?" Tanya Mentari bingung. Dia membolak balikkan amplop itu.
"Berikan saja kepada Bapakmu..." Perintah Endro.
"Tapi..."
"Tidak usah pakai tapi-tapian... Aku sudah berjuang keras hari ini untuk itu. Bahkan aku rela berada di ruang kepala sekolah dan menghabiskan jam istirahatku disana, hanya demi mendapatkan tanda tangan beliau." Tutur Endro.
"Aku hanya bertanya... Kenapa kamu marah?" Sungut Mentari merasa kesal.
"Aku tidak marah. Anggap saja itu kejutan untukmu." Ujar Endro seraya kembali mendekat ke arah Mentari. Dia menyelipkan anak rambut Mentari yang nakal ke belakang daun telinga gadis itu.
"Baiklah... Aku tidak akan bertanya lagi." Mentari menyerah. Perlakuan Endro terhadap dirinya, mampu melupakan masalah yang sedang menantinya di rumah.
"Semangat... Sampai bertemu kembali, Mentari." Suara Endro memarau. Dia sangat takut, jika waktu membuatnya terpisah di persimpangan itu.
"Terimakasih, Endro. Semoga waktu mempertemukan kita kembali." Ujarnya berusaha tegar di depan lelaki itu. Lelaki yang sudah membuatnya merasa hidup sepanjang hari.
*****
"Endroo..." Teriak Mentari ketika memasuki gerbang sekolah mereka.
"Heeyy... Tumben, kok datangnya cepat hari ini." Endro menghentikan langkahnya dan menunggui gadis itu menyamai posisi dirinya.
__ADS_1
"Entahlah... Sepertinya kali ini, mereka sedang berbaik hati denganku." Ujar Mentari menyahuti pertanyaan Endro.
"Aku tidak yakin..." Cibir Endro.
"Kenapa?" Mentari menolehkan wajahnya ke arah Endro. Dia menatap bingung reaksi lelaki itu.
"Memangnya kamu bangun pukul berapa tadi?" Endro tidak menyahuti, dia malah bertanya balik kepada gadis itu.
"Pukul tiga." Ungkap Mentari masih dengan bingung.
"Nah... Mungkin karena kamu bangun pagi, makanya kamu cepat sampainya ke sekolah." Ujar Endro.
"Tidak juga. Mereka akan selalu membuatku terlambat, meski aku bangu pukul dua sekalipun." Sungut Mentari mengenang nasibnya.
"Memangnya begitu?" Endro terlihat terkejut mendengar pengakuan Mentari.
"Aku semakin penasaran." Gumam Endro pelan.
"Nanti, aku akan cerita." Ujar Mentari berjanji. "Oh iya... Makasih ya, End."
"Makasih untuk apa?" Endro berlagak tidak tahu.
"Makasih... Berkatmu, aku diizinkan ikut perkemahan akhir sekolah oleh bapakku." Ujarnya.
"Benarkah?" Endro terlihat jujur dengan ekspresi keterkejutannya itu. Meski dia yakin. Tapi dia tidak bisa memastikan itu pada sebelumnya.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa punya ide untuk itu, End?" Tanya Mentari penasaran.
"Karena... Kata Nini, Pak Alex tidak akan membiarkan orang-orang tahu tentang perlakuan mereka terhadapmu. Apalagi untuk masalah sekolah. Jadi, pagi kemarin aku membuat surat resmi yang menghimbau siswa-siswi kelas dua belas untuk wajib mengikuti perkemahan itu. Padahal kan tidak..." Tutur Endro seraya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Lalu? Hubungannya dengan kepala sekolah di jam istirahat, apa?" Tanya Mentari belum puas.
"Untuk memastikan keresmian surat itu, aku memohon kepada Pak Kepala agar beliau mau menandatanganinya. Aku beralasan, aku sangat ingin untuk ikut. Hanya saja, ayahku melarang karena terlalu mengkhawatirkan diriku." Sambung Endro. Dia terlihat membangga.
"Waaah... Pandai berakting juga kamu. hemm." Dengus Mentari. Tapi dia tampak senang akan hal itu.
"Endro gituuu..." Endro sedikit mengangkat kerah bajunya untuk membanggakan dirinya di depan gadis itu. "Kamu senang?"
"Aku senang..." Sahut Mentari tersipu.
"Kalau begitu, teruslah tersenyum seperti ini. Khususnya di depanku. Agar aku tidak terlalu mengkhawatirkan kamu, Mentari." Pinta Endro. Dia sungguh berharap terhadap gadis itu. Matanya menatap lekat wajah pucat Mentari.
"Eh... Itu loncengnya sudah berbunyi. Ayo kita masuk, End. Sepertinya bakalan ada pengumuman untuk hari ini." Ajak Mentari. Dia sengaja menghindar. Karena saat itu, debaran yang tercipta di dalam dadanya sangat mengganggu pikirannya.
Dia takut jika perasaan itu membuatnya menjadi serakah. Mentari berlalu meninggalkan Endro yang masih mematung disana.
Maaf Mentari... Aku tahu... Saat ini kamu baik-baik saja, hanya karena berada di hadapanku, bukan? Aku ingin waktu cepat berlalu, agar aku bisa mengobati kamu dari rasa sakitmu itu.
Membawamu pergi dari mereka yang tidak memperlakukanmu secara adil dan baik. Aku khawatir Mentari... Tapi aku belum bisa berbuat apa-apa saat ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1