
Mentari tetap diam. Dia hanya perlu menunggu Juwita untuk bicara. Dia tahu, saat itu bukanlah sifat kakak angkatnya. Berlemah lembut dan sopan santun terhadap dirinya yang sebelum-sebelumnya selalu bertindak memusuhinya.
"Mentari... Ada sesuatu yang ingin kakak katakan kepadamu, Dek." Tatapan memelas penuh drama tergambar jelas di wajah Juwita.
Mentari tidak bertanya ataupun menanggapi ucapan Juwita. Dia hanya terus menunggu apa yang akan dibicarakan Juwita kepadanya.
"Kakak minta maaf atas sikap kakak selama ini terhadap kamu. Sekarang, Kakak sadar. Kakak sangat jahat." Lagi-lagi Juwita memelas. Dan kali ini dia mengeluarkan air mata buayanya agar Mentari percaya dan bersikap simpati terhadap dirinya.
"Kakak dengar, kata Bapak kamu akan menikah? Benarkah itu, Dek?"
"Kalau iya, memangnya kenapa kak?" Akhirnya Mentari buka suara. Dia semakin tidak sabaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Juwita kepadanya.
"Itu bagus. Kamu akan terbebas dari Bapak dan Ibuk..." Ujar Juwita terlihat mengiba. Dia menepikkan sedikit senyumannya agar terlihat benar-benar tulus mengucapkannya.
Ada apa dengannya? Bukankah selama ini dia yang selalu membuat aku dihukum sama Bapak dan Ibuk?~ Batin Mentari merasa curiga dengan sikap baru Juwita.
"Tapi... Ada satu hal yang harus kamu tahu, Dek. Bapak dan Ibu punya rencana licik lagi..." Ujar Juwita menjelaskan kepada Mentari yang sudah mulai mendengarkan ucapannya.
"Rencana? Rencana apa, Kak?" Mentari begitu terkejut. Dia mulai serius untuk mendengarkan kata-kata kakak angkatnya itu.
__ADS_1
Merasa telah berhasil membuat Mentari termakan oleh ucapannya yang dibuatnya, Juwita semakin mendramatis suasana hati Mentari.
"Kamu pernah mendengar Bapak akan membeli tanah perkebunan milik Pak Kamil, Bukan?"
"Iya... Aku pernah mendengarnya beberapa tahun yang lalu." Sahut Mentari. Dia tampak berpikir sejenak. Tidak mengerti maksud dari pembicaraan Juwita.
"Tanah itu milik Bapak calon suaminya kamu ini, Dek."
"Lalu?" Mentari masih belum mengerti arah jalan pembicaraan Juwita.
"Bapak akan memberi syarat terhadap calon suami kamu. Jika dia ingin menikahi kamu, maka bapaknya harus menyerahkan tanah perkebunannya itu kepada Bapak." Juwita tampak ragu-ragu mengatakannya. Dia ingin Mentari mengerti maksud dari ucapannya itu.
"Padahal kamu kan tahu, Dek. Alasan Bapak calon suami kamu itu tidak mau menjualnya, karena tanah itu sangat berharga baginya. Tanah itu adalah peninggalan orang tuanya pula." Tambah Juwita lagi. Dia semakin memanas-manasi Mentari agar mau berpikir ulang untuk menerima pernikahan itu.
Rasa iri dan dengki di dalam hatinya, membuat dia lupa bahwa materi bukanlah segalanya dalam kehidupan.
Mentari merasa terpuruk mendengar cerita Juwita. Air matanya jatuh tanpa permisi lagi. Keraguan pun bermunculan di dalam hati dan pikirannya seketika.
Dia menoleh ke arah Endro yang masih memerhatikan dirinya dan Juwita dari jarak kejauhan. Mentari tidak takut jika Ayah Endro menolak syarat dari bapaknya. Tapi dia tahu, Endro bersama Ayahnya adalah orang yang sangat baik. Mereka berdua pasti melakukan apa pun untuknya.
__ADS_1
Dari pengorbanan Endro saja, dia telah melihat bahwa lelaki itu bersungguh-sungguh terhadap dirinya. Dan itu yang membuatnya ragu kembali.
Endro bahkan telah mengorbankan kuliahnya yang hanya tinggal sejengkal lagi. Dia tidak ingin Ayahnya Endro juga mengorbankan tanah warisan yang dimilikinya hanya untuk gadis seperti dirinya.
Juwita tampak senang melihat keraguan itu. Dia yakin, Mentari akan mundur. Dan dirinya sendiri yang akan maju dengan rencananya yang lain.
Endro juga melihat ketidaknyamanan Mentari. Dia juga melihat Mentari tengah kebingungan saat itu. Tapi dia lebih memilih untuk menunggu mereka usai berbicara.
"Kakak cuma mau memberitahu itu saja, Dek. Kamu hati-hati ya. Dan, semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu. Mereka pasti akan melakukan apa pun untuk kamu. Cuma sepetak tanah, kok. Sedangkan almarhum kakeknya terkenal sebagai juragan tanah di kota ini. Mereka punya banyak tanah lainnya." Juwita semakin membuat suasana hati Mentari merasa tidak enak dengan kata-katanya. Mentari bahkan tidak tahu pula apa tujuan Juwita berbicara seperti itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1