ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
MEMANFAATKAN


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Endro, Alex dan Lita datang menemui Mentari dan mencoba merayunya. Mereka tidak pernah berhenti mengganggu Mentari yang baru saja lepas dari cengkraman mereka.


Cukup berbasa-basi, dan itu membuat Mentari terlihat jengah melayani berbagai ucapan lunak yang mereka buat-buat. " Ada apa bapak dan ibu datang ke sini?" Tanya Mentari dengan hati resah. Dia sangat tahu, orang tua angkatnya itu tidak akan pernah datang kepadanya jika tidak ada kemauan dari mereka.


"Sombong sekali kamu sekarang, Nak. Meskipun kamu sudah menikah, bukan berarti kita putus hubungan, kan?" Ujar Lita dengan wajah memelas.


Nak? Hah... Drama apa lagi yang sedang mereka mainkan?~ Batin Nini yang mendengar ucapan Lita dari ruang belakang. Mentari sengaja meminta Nini untuk tidak ikut mendengar perbincangan mereka secara langsung sebelumnya. Dan bukan berarti pula Mentari merahasiakan itu semua dari Nini yang sudah dianggapnya sebagai nenek kandungnya.


"Iya, Mentari. Kami berdua hanya merindukan anak kami saja. Benarkan, Buk?" Timpal Alex ikut berdrama.


"Iya, betul... Kami kan sudah lama tidak mendengar kabarmu, Nak. Dan juga, kami ingin minta maaf kepadamu atas kejadian terakhir. Itu semua, murni idenya Juwita. Bapak dan Ibu sebenarnya tidak tahu apa-apa, Mentari." Ujar Lita memberitahukan tanpa ditanya oleh Mentari.


Mentari tak menyahut untuk itu. Wajahnya terus saja bersikap datar dan berani menatap kearah Alex dan Lita dengan tatapan tajam. "Bapak dan Ibu tidak usah berbelit-belit. Sebaiknya, Bapak dan Ibu katakan saja, apa tujuan kalian datang ke sini?" Mentari terlihat muak. Dia bahkan tidak merasa luluh dengan ucapan-ucapan Alex dan Lita.


"Hmm. Baiklah... Jika kamu memaksa kami, Nak. Sebenarnya, kedatangan Ibuk sama Bapak kesini untuk meminta bantuan kepadamu." Lagi-lagi Lita menampakkan ketidakberdayaan dirinya di depan Mentari.


"Ibuk dan Bapak butuh bantuan apa dari aku?" Tanya Mentari acuh. Bau-bau tidak enak sudah tercium oleh firasatnya sedari tadi.


"Begini Mentari. Bapak meminjam uang kepada Pak Jamal." Ujar Alex terlihat berat. Raut wajah Mentari pun mulai tampak berubah karenanya. Dia mencium rencana licik lagi dari kedua orang tua angkatnya itu.


"Dan Bapak malah menggadaikan lahan perkebunan yang diberikan bapak mertuamu itu kepadanya." Tutur Alex melanjutkan ceritanya.


"Jadi?" Mentari mulai menanggapi. Dia begitu kecewa mendengar penuturan Alex tentang menggadaikan tanah perkebunan milik Ayah mertuanya itu. Padahal, dia begitu berharap agar lahan itu kembali kepada Ayah mertuanya lagi.


"Bapak tidak sanggup menebus tanah itu lagi, Mentari. Tanah itu diambil oleh Pak Jamal. Jika Bapak tidak memberikannya, maka Pak Jamal akan melaporkan Bapak ke kantor polisi." Alex terlihat memelas. Wajah garangnya terlihat melunak saat itu. Lita juga mengangguki ucapan Alex dengan wajah sedih yang dibuat-buatnya.

__ADS_1


"Jadi, kami ingin meminta bantuanmu agar mau minta lagi sama mertuamu yang kaya akan tanah itu, Mentari." Pinta Alex tanpa rasa malu.


"Apa Pak?" Keterkejutan Mentari membuat dia bangkit dari duduknya seketika. Wajahnya memerah berapi-api. Dia tidak hanya kecewa karena tanah itu sudah lepas kepada orang lain. Tetapi dia juga marah atas kemauan Bapak angkatnya itu.


"Ibuk mohon Mentari... Kasihani kami, Nak." Pinta Lita mengiba.


"Ibu sama Bapak benar-benar keterlaluan. Tidak seharusnya Bapak dan Ibuk datang kesini. Sekarang Ibu dan Bapak pergi..." Usir Mentari tanpa rasa iba. Dia malah kecewa dengan kedua orang tua angkatnya itu. Dia merasa sudah cukup mendengar ocehan-ocehan Alex dan Lita yang tidak berguna sama sekali oleh dirinya.


"Tapi Mentari..." Lita tidak menyerah. Dia terus merengek merayu Mentari.


"Aku bilang pergi, ya pergi, Pak, Buk..." Teriak Mentari marah. Hatinya begitu panas karena kelakuan Alex dan Lita yang lagi-lagi mencoba untuk memanfaatkan dirinya.


"Apa begini caramu membalas kami, Mentari? Kami bahkan sudah membuatmu merasakan lengkapnya menjadi seorang anak." Hardik Lita merasa misinya telah gagal.


"Iya, Buk. Kalian sudah membuatku merasakan lengkapnya menjadi seorang anak. Tapi apa Bapak dan Ibuk lupa? Kalau kalian sudah mengambil balasannya selama ini dariku, hah? Harta peninggalan orang tuaku, hidupku, kebahagiaanku, tenagaku dan bahkan tanah milik mertuaku.


Alex bangkit dari duduknya. Dia menatap garang ke arah Mentari yang tidak lagi takut terhadap dirinya sebelum pergi dari rumah itu. Hal yang sama juga dilakukan Lita dan mengikuti suaminya pergi dari sana.


Setelah kepergian orang tua angkatnya, Mentari kembali duduk dengan lemas. Dia menumpahkan kemarahannya lewat air mata yang sudah ditahannya sedari tadi.


"Sudahlah, Nak. Kamu sudah melakukan hal yang tepat." Ujar Nini datang menenangkan dirinya.


"Niniii... Hiks... Hiks... Hiks..." Mentari terisak. Dia segera memeluk tubuh tua Nini. "Mereka selalu berbuat sesuka hati mereka, Ni. Bahkan mereka tidak malu datang kesini untuk memanfaatkan Mentari." Adunya.


"Mereka memang akan seperti itu seterusnya, Nak. Kamu yang sabar, ya. Nini yakin, mereka pasti tidak akan lagi berani datang kesini setelah kamu menolak mereka tadi." Ujar Nini lagi sembari mengelus lembut pundak Mentari.

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika mereka datang lagi, Ni?. Mereka tidak akan pernah jera. Dulu saja, Mentari sampai akan mereka jual demi menebus perkebunan dekat danau, Ni." Isak Mentari semakin menjadi-jadi dalam pelukan Nini.


"Itu semua tidak akan terjadi lagi, Nak. Sekarang kamu sudah milik Nak Endro. Nak Endro pasti akan melindungi kamu."


"Iya, Ni... Tapi untuk kali ini, Endro dan Ayah tidak perlu tau dulu ya, Ni. Mentari tidak ingin Endro kepikiran. Apalagi Endro sedang sakit." Pinta Mentari memelas.


"Nak Endro sakit? Sejak kapan, Nak?" Nini terlihat khawatir mendengar kabar tentang Endro dari Mentari.


"Semalam, Ni. Badannya panas sekali. Endro demam tinggi."


"Lalu kenapa Nak Endro masih saja ke kebun? Seharusnya dia istirahat saja di rumah." Tanya Nini semakin mencemaskan Endro.


"Mentari sudah minta agar Endro nggak ke kebun untuk hari ini, Ni. Tapi Endro maksa. Endro bilang, kasihan Ayah. Akhir-akhir ini Ayah tampak tidak sehat." Tutur Mentari terlihat sendu.


"Hmm... Dia selalu begitu. Dan benar, akhir-akhir ini Ayahnya memang juga tampak lemah jika Nini lihat." Ujar Nini membenarkan ucapan Mentari.


Mentari mengangguk. "Jadi Nini maukan, merahasiakan yang tadi dari Endro dan Ayah?. Mentari percaya sama Nini, mereka pasti tidak akan lagi berani untuk datang ke mari." Ucap Mentari memohon. Meski Mentari sendiri ragu, tetapi dia tetap meyakinkan Nini agar tidak terbebani dengan permasalahan yang tengah dia alami.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2