
"Aku iri dengan kamu, End..." Ungkap Mentari lirih. Setiap kata yang terucap dari bibirnya, hanya terdengar getir di telinga Endro.
"Kenapa?" Endro tampak mengerutkan dahinya mendengar pengakuan Mentari.
"Karena kamu bahagia...
Karena kamu memiliki Ayah yang sangat baik, meski kamu tidak lagi memiliki ibu. Kamu bahagia, End. Kamu juga memiliki Nini yang sangat menyayangi kamu."
Persimpangan jalan yang memisahkan tujuan mereka, menyisakan rasa kepenasaranan di diri Endro.
Tanya tak berjawab memenuhi keseluruhan ruang di benaknya. Entah apa yang dimaksud gadis itu, dia sama sekali tidak mengerti.
Mentari tahu dari mana kalau aku bahagia memiliki Ayah? Mungkinkah Nini yang sudah memberitahukan kepadanya?
Ah... Mungkin saja. Nini saja seakan tahu semuanya tentang Mentari... Mungkin, mereka saling berbagi cerita.
Endro terus melangkahkan kakinya di bawah terik mentari yang sesungguhnya.
Enggak kini, mungkin esok... Nasib kamu akan berubah Mentari.
Endro menatap langsung cahaya matahari yang seakan berada di puncak kepalanya kala itu untuk beberapa detik.
Seperti matahari yang akan menerangi dunia, dan kamu akan menerangi duniaku.
"Niniii..." Seru Endro ketika mendapati Nini tengah menyapu di halaman gubuknya.
"Nak Endro... Mampir dulu, Nak." Nini menghentikan pekerjaannya seraya mendekat ke pagar yang terbuat dari bilah bambu di depan gubuknya itu.
__ADS_1
"Nini masak apa hari ini? Endro ingin makan masakan Nini hari ini." Pintanya.
"Wah... Beruntung sekali Nini tadi masak banyak, Nak. Ayo masuk. Nini masak oseng-oseng tempe kacang sama sayur kangkung kesukaanmu." Tutur Nini begitu bersemangat. Wanita itu benar-benar terlihat tulus memperlakukan Endro.
"Itu mah, Endro yang beruntung, Ni." Ujar Endro senang. Dia menyelonong masuk dan langsung duduk di kursi kayu tempat meja makan berada.
Nini mengambilkan piring dan gelas untuk Endro. Dia menghidangkan makanan yang dimilikinya untuk lelaki yang sudah dianggapnya sebagai cucunya itu.
"Nini tidak sekalian makan, bersamaku?" Tanya Endro ketika menerima piring yang telah berisikan nasi beserta lauknya dari Nini.
"Nini masih kenyang, Nak. Kamu saja yang makan. Melihat kamu makan, Nini akan terasa semakin kenyang." Ujar Nini tersenyum.
"Ya sudah... Endro makan ya, Ni." Ujarnya yang disambut anggukan kepala Nini.
Endro makan dengan begitu lahap siang itu. Masakan wanita itu memang menjadi masakan favoritnya sedari dulu. Jika Kamil tidak sempat masak, maka Nini akan mengantarkan sebagian masakannya ke rumah Endro. Ditambah lagi, Kamil sering menyisihkan uang belanja untuk wanita itu.
"Makannya pelan-pelan... Nanti kamu tersedak." Ujar Nini memperingati.
Seusai makan, dia tidak langsung pulang. Endro akan berselonjoran terlebih dahulu untuk meluruskan urat perutnya di atas dipan milik Nini yang berada di ruang itu.
"Makasih ya, Ni. Perut Endro jadi kekenyanyan begini menikmati masakan, Nini" Ujar Endro menyeringai.
"Nini... Maaf..." Endro mengeluarkan sendawanya. Setiap kali dia akan bersendawa, maka setiap kali itu pula mulutnya terlebih dahulu mengucapkan kata maaf. Sedangkan Nini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Endro.
"Nini..." Panggilnya mulai getir.
"Humm." Sahut Nini singkat.
__ADS_1
"Mentari tau tentang Endro, Ni." Ungkapnya.
Nini menghentikan kegiatan yang dilakukannya saat itu. Dia menolehkan wajahnya kepada Endro. "Lalu?"
"Apa Nini yang memberitahu dirinya?" Endro mulai menyampaikan pertanyaan yang memenuhi ruang benaknya tadi.
"Tidak..." Sahut Nini singkat.
"Lalu? Dia tahu dari mana ya, Ni." Tanya Endro lagi dengan bingung.
"Dia tahu sendiri, Nak." Nini mendekat. Dia duduk di sebelah Endro. "Dia sering mengintipmu. Bahkan, dia rela mendapatkan hukuman dari bapaknya hanya untuk melihat kedekatanmu dengan ayahmu, Nak.
Mentari, setiap sorenya akan di suruh memetik hasil ladang oleh Alex. Dan setiap kesempatan itulah, Mentari akan memerhatikanmu dan ayahmu.
Mungkin dia berandai-andai bisa memiliki ayah seperti Kamil. Sesosok Ayah yang begitu lembut dan penyayang." Tutur Nini menjelaskan bagaimana perasaan Mentari yang selalu dilihatnya.
"Tapi... Bagaimana dengan hubungan kalian? Bukankah dia tidak ingin siapa pun tahu tentangnya?" Ujar Nini keheranan.
"Endro belum tahu, Ni. Endro hanya mendengar dari mulut Nini kala itu." Ungkap Endro yang sebenarnya.
Ya, mereka memang telah dekat. Tapi Endro sama sekali belum mengerti yang sebenarnya, kecuali status Mentari bagi keluarga Alex. Anak pungut...
.
.
.
__ADS_1
.
.