ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
TUAN MUDANYA JATUH CINTA


__ADS_3

Waktu terus berlalu tanpa mampu mengobati luka di hati Endro. Masih dalam kondisi yang sama, air mata dan senyum yang tak pernah muncul lagi Sejak saat itu dari dirinya.


Lima tahun berlalu. Dia masih saja berperan sebagai pengawal untuk orang-orang di rumah mewah itu. Rasa bersalah dan hutang Budinya yang begitu dalam terhadap almarhum Ridwan Ghani, membuatnya tidak mampu meninggalkan Nur dan kedua anaknya.


Sesekali, Yuni dan Arkhan berusaha menggodanya, membuatnya mau untuk tersenyum meski hanya sedikit saja. Akan tetapi percuma, dia tidak bisa melakukannya. Endro merasa bibirnya begitu berat hanya untuk melengkung saja.


Suatu hari, Arkhan tiba-tiba datang dan merangkul tubuhnya dari samping dengan begitu erat. Tuan mudanya itu tampak berbahagia dari raut wajahnya yang bersinar. Sementara, Endro sendiri begitu sangat mencemaskannya. Arkhan keluar tanpa bersama dirinya dan tidak pula memberitahukannya ke mana ia akan pergi tadinya.


"Tuan Arkhan... Kau ke mana saja?" Tanya Endro tampak cemas seraya mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Arkhan, tanpa memedulikan binar-binar di wajah Tuan mudanya itu.


"Dari suatu tempat, di mana Aku menemukan cinta sejati ku..." Sahut Arkhan begitu antusias dan tidak memahami kecemasan di wajah pengawalnya. Dia seperti sedang dimabuk kepalang. Membayangkan sesuatu yang hanya dia dan Tuhanlah yang tahu.


Dahi Endro mengkerut seketika mendengar jawaban konyol dari lelaki yang bukan lagi termasuk remaja labil di hadapannya saat itu. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan si Arkhan, Putra almarhum malaikat baiknya, seseorang di antara tiga orang yang harus dilindunginya di sana.


"Tuan... Kau baik-baik saja, 'kan?" Tanya Endro lagi. Ia dibuat keheranan bercampur bingung sendiri melihat tingkah Arkhan yang tidak biasa seperti itu.

__ADS_1


"Tidak, End... Aku bahkan lebih dari baik-baik saja saat ini. Aku menemukannya... Aku menemukannya, End... Dia cinta sejatiku... Aku jatuh cinta..." Teriak Arkhan seakan pikirannya tengah melayang-layang saat itu.


"Siapa dia, Tuan?" Tanya Endro mencoba mengikuti suasana hati Arkhan yang tampak berbahagia.


"Dia...? Dia...?" Senyuman penuh sumringah di wajah Arkhan langsung pudar. Seketika, jari telunjuknya bermain-main di dagunya. Mencoba memikirkan sesuatu. "Aaah... Ini semua gara-gara kamu, End. Jika saja kamu tidak meneleponku tadi..." Sungut Arkhan kecewa.


"Kok bisa gara-gara saya, Tuan? Memangnya kalian tidak sempat kenalan?" Tanya Endro tanpa rasa dosa.


"Tidak..." Sahut Arkhan singkat sembari menggeleng-geleng kecewa. "Aku menemukannya di pinggiran jalan, dia sedang menangis karena ayahnya kritis di rumah sakit. Bahkan saking paniknya, dia hampir diserempet motor. Beruntung aku juga berada disana. Kalau tidak, aku tidak akan menemukan bidadari secantik dia." Tutur Arkhan menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis tadinya.


"Terakhir, aku mengantarkannya ke rumah sakit XXX. Tempat ayahnya dirawat." Ujar Arkhan memberitahukannya.


"Ya sudah tuan... Kita kesana sekarang." Ajak Endro. Tapi baru saja mereka melangkah hendak pergi, tiba-tiba ponsel Arkhan berdering di dalam kantong celananya.


Endro melirik ke arah Arkhan yang juga membalas lirikannya. "Yuni..." Ujar Arkhan seakan menjawab pertanyaan dari mata Endro.

__ADS_1


Endro mengangguk. Dia hanya berdiri menunggu tuan mudanya itu selesai berbicara dengan adiknya.


"Sepertinya saat ini Tuhan tidak mengizinkan kita mencarinya, End. Yuni minta dijemput, dan dia juga meminta kita untuk menemaninya penelitian ke tempat wisata-wisata." Tutur Arkhan. Dia menghela nafasnya yang terasa berat saat itu.


Lagi-lagi, Endro merasa gagal dan bersalah. Baru saja dia melihat kebahagiaan di rona wajah tuan mudanya itu semenjak Ridwan Ghani meninggal kala itu. Tetapi tanpa sengaja ia malah mengacaukannya. Membuat lelaki itu tampak murung dan kecewa.


"Aku baik-baik saja..." Ungkap Arkhan mendapati perasaan bersalah itu di wajah Endro. "Jika dia jodohku, maka taqdir akan mempertemukan kami kembali..." Sambungnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2