ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
RUMAH BAK ISTANA


__ADS_3

Endro menatap takjub dengan kedua bola matanya, sebuah rumah megah bak istana berdiri di hadapannya saat itu. Tubuhnya bergetar tak percaya, bahwa alamat yang akan dijumpainya itu terlihat bagai istana kediaman ratu dan raja di negeri dongeng.


Begitu elegan dan menampakan lebih dari sekedar apik, seperti sebuah rumah biasa.


"Permisi, Pak. Selamat sore..." Sapa Endro kepada seseorang yang menjaga gerbang di rumah itu.


"Iya... Selamat sore, Den... Ada yang bisa saya bantu?" Sahut orang itu Seraya mendekat ke arah Endro. Penjaga itu pun juga menawarkan bantuan kepadanya.


"Apa benar ini rumah Tuan Ridwan Ghani, Pak?" Tanya Endro terdengar sopan dan lembut. Sesekali dia melirik ke tulisan di secarik kertas yang digenggaminya sedari tadi.


"Benar sekali, Den... Ini kediaman Ghani. Aden siapa? dan perlu apa?" Tanya penjaga itu tak kalah sopan.


"Saya Endro, Pak." Sahutnya memperkenalkan diri. Endro sedikit membungkukkan kepalanya memberi hormat.


"Ooh... Den Endrooo... Iya, iya, saya ingat... Tadi itu, tuan Ridwan juga sudah memberitahukan kepada saya, bahwa akan ada tamunya yang bernama Endro. Ternyata Aden orangnya?" Sahut penjaga tampak begitu senang. Penjaga itu segera membukakan gerbang dan mempersilakan Endro untuk masuk.


"Terima kasih, Pak." Ucap Endro Seraya melangkah ke dalam pekarangan rumah mewah itu.


"Sama-sama, Den. Aden bisa langsung masuk ke dalam. Saya akan menelepon tuan Ridwan dari sini dan memberitahukan kedatangan Aden." Ujar penjaga itu sembari menunjuk lurus ke arah pintu utama rumah mewah yang berjarak sekitar seratus meter dari posisi mereka saat itu.


"Baik, Pak. Sekali lagi, terima kasih..." Ucap endor seraya meninggalkan sang penjaga yang juga hendak berbalik ke pos jaga.


Endro melangkahkan kakinya yang gemetar. Seumur-umur, dia tidak pernah membayangkan akan memasuki kawasan semewah itu. Bahkan untuk bermimpikan saja tidak.


Belum sampai dirinya di teras rumah, seorang gadis telah berjingkak ria menemuinya. Gadis lima belas tahunan yang perawakan tinggi dan periang. Tubuhnya begitu elok di pandang. Sungguh cantik. Bibirnya tak berhenti tersenyum sedari mata Endro melihat dirinya.

__ADS_1


"Kamu ya yang bernama Endro?" Tanya gadis itu begitu antusias. Dia bergelayut manja di lengan kekar milik Endro.


"Yuniii..." Seru salah seorang, lelaki paruh baya yang tidak asing di mata Endro. Ya, tentunya dari ke empat orang yang menyambut kedatangan dirinya sore itu. Tuan Ridwan Ghani, penyelamatnya, malaikat berwujud manusia yang dikirim Tuhan kepada keluarganya, orang asing yang baik baginya.


"Iya Papa..." Sahut gadis yang bergelayut manja di lengan Endro. Dialah Yuni. Yuni menarik lembut lengan Endro untuk memasuki istana yang di rajai oleh Ridwan Ghani di dalamnya.


"Kamu bahkan tujuh tahunan lebih kecil, Sayang..." Ucap Ridwan Ghani terlihat tidak senang mendengar sapaan putrinya kepada Endro.


"Tidak apa-apa kan, Endro?" Tanya Yuni santai dan menatap Endro penuh paksaan mengiyakan ucapannya.


"Eh? Ti-tidak apa-apa kok, Nona. Nona bebas memanggil saya apa saja." Sahut Endro gugup.


"Yuni hanya punya satu kakak, yaitu Kak Arkhan. Tampan dan sangat sayang kepada Yuni. Kalau Endro... Dia akan tetap menjadi pria gagahnya Yuni sejak bertemu Papa sampai selama-lamanya. Bukan Orang lain... Keluarga..." Tuturnya penuh penekanan tanpa ingin diganggu gugat lagi.


"Ya... Arkhan setuju ucapan Yuni, Pah, Mah..." Ucap seorang lelaki muda yang memanggili dirinya dengan sebutan Arkhan, tentunya juga anak si tuan Ridwan Ghani. Dia membenarkan pernyataan adik satu-satunya itu.


"Hadeuh... Hadeuh... Terserah kalian..." Ucap Ridwan menyerah kalah. "Nah... Nak Endro... Kamu sudah lihat sendiri, bukan? Mereka Putra dan putri saya. Sedangkan yang cantik ini, Nur, istri saya." Ujar Ridwan kembali, memperkenalka keluarga kecilnya. Tampak bahagia dan harmonis.


"Sore Nyonya..." Sapa Endro begitu sopan.


"Sore, Endro..." Balas Istri Ridwan dengan lembut.


"End... Makasih ya. Berkat kamu, kami masih bisa merasakan punya Papa sampai saat ini." Ujar Arkhan haru dan diangguki oleh adiknya, Yuni.


"Eh?" Kening Endro mengkerut. Dia sungguh tidak mengerti tentang apa yang dikatakan oleh putra malaikatnya itu.

__ADS_1


"Kalian tolong bawakan barangnya Endro ke kamarnya ya. Mama dan Papa masih ada perlu dengan Endro..." Perinta Nur kepada kedua anaknya itu.


"Baik, Ma..." Sahut mereka hampir bersamaan dan berlalu masuk ke dalam rumah mewah itu dengan menjinjing tas milik Endro.


"Kamu yang sabar ya... Pasti setelah ini, kamu akan menemukan kebahagiaanmu. Suami saya telah menceritakan semuanya. Hanya saja kepada mereka..." Nur menggantung ucapannya karena terlalu berat untuk ia sendiri sampaikan.


"Istri saya ini sengaja meminta saya untuk merahasiakannya kepada mereka. Mungkin balas budi lebih baik bagi pemikiran mereka, dari pada merasa berjasa kepada orang lain. Agar mereka bisa belajar saling menghargai dan peduli terhadap orang lain. Karena istri saya mendidik mereka dengan sangat baik.


Begitu pun kami berharap kepadamu, Nak." Tutur Ridwan begitu tulus. Istrinya, Nur mengangguki ucapan suaminya itu.


Mata Endro berkaca-kaca mendengar ucapan kedua suami istri di hadapannya. "Terima kasih, Tuan... Terima kasih, Nyonya. Saya masih tidak percaya masih ada orang sebaik Tuan dan Nyonya." Ucap Endro begitu terharu akan kebaikan Ridwan dan istrinya.


"Masuklah... Istirahat dengan senyaman mungkin. Mulai besok, kamu akan saya bawa kemana pun saya pergi. Kamu bisa sambil belajar bersama saya." Perintah Ridwan mempersilakan Endro masuk ke dalam istananya.


"Baik, tuan..." Sahut Endro mengikuti Sepasang suami istri itu masuk. Dia masih tidak menyangka dengan keajaiban yang diatur tuhan dalam beberapa waktu sejak pertemuannya dengan Ridwan Ghani.


Begitu terharu dan terus mengucap syukur kepada yang kuasa.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2