
Endro terus menelusuri jalan searah ke rumahnya. Dia sempoyongan melangkah tanpa alas kaki, seperti orang linglung yang tidak memiliki arah tujuan sama sekali.
"Naiklah, Nak..." Perintah Ridwan dari dalam mobil yang mengiringi langkahnya sedari tadi.
"Anda pulanglah, Tuan... Keluarga Anda pasti sudah menunggu di rumah..." Sahut Endro tanpa memerdulikan perintah Ridwan.
"Ayahmu masuk rumah sakit..." Ucap Ridwan melengahkan permintaan Endro.
Endro menghentikan langkah kakinya. Matanya membulat mendengar ucapan dari lelaki asing yang telah banyak membantunya dari kemarin mereka bertemu.
"A-Ayah saya masuk rumah sakit, Tuan?" Tanya Endro dalam keterkejutannya.
"Iya..." Ridwan Ghani mengangguk membenarkannya.
Tanpa pikir panjang lagi, Endro segera masuk ke dalam mobil di sebelah kemudi. Tidak ada suara lagi setelah itu. Mobil yang mereka kendarai sampai di rumah sakit tempat ayah Endro di rawat.
Di sana, di ruang tunggu telah duduk Nini dengan khawatir. Air matanya berlinangan mencemaskan seseorang yang terbaring di dalam ruang rawat. Seseorang yang hanya tetangganya, yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
"Nini..." Seru Endro sedikit berlari menghampiri wanita tua itu.
"Nak Endro..." Panggil Nini kembali, menyahuti seruan Endro.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Ayah, Ni?" Tanya Endro cemas.
"Dokter menunggumu, Nak. Cobalah temui..." Perintah Nini tanpa memberi kejelasan apa-apa tentang kondisi Kamil, Ayahnya Endro.
*****
Endro terdiam duduk melamun di bangku taman rumah sakit. Penjelasan dokter mengenai kondisi ayahnya saat itu, membuat dirinya semakin kacau.
Berkali-kali dia mencoba menangis, namun air matanya tak kunjung keluar. Seakan-akan seluruh duka diam-diam menghisap air matanya ke dalam. Bukan sengaja dirinya mereguk tangis, akan tetapi memang dia seakan tidak diizinkan untuk Menangis Lagi.
"Apa semua baik-baik saja, Nak?" Lagi-lagi, orang asing yang baik itu datang menghampirinya.
"Bisakah Anda tinggal untuk semalam ini lagi, Tuan? Maaf... Saya sempat meminta Anda untuk pergi. Tapi saya tidak punya siapa-siapa lagi selain sosok Ayah yang terbaring lemah di dalam, dan seorang wanita baik yang sudah saya anggap sebagai nenek saya sendiri. Dia juga sama seperti Anda, Tuan. Bukan siapa-siapa, tapi bisa menjadi orang terdekat saya." Pinta Endro memelas.
"Istri saya juga orang yang sangat baik. Dia tidak akan keberatan jika saya terlambat pulang, Nak." Sahut Ridwan menyetujui permintaan Endro.
"Terima kasih, tuan... Anda benar-benar orang asing yang baik. Tidak sekarang, tapi saya janji... Di hari yang akan datang, saya pasti akan membalas kebaikan Anda, Tuan..." Ucap Endro berikrar. Dia berbicara dengan sesungguhnya dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Saya tunggu itu, Nak. Maka dari itu, kamu harus bangkit..." Bujuk Ridwan menyemangatinya.
Endro mengangguk. "Sekali lagi, terima kasih, tuan." Ucapnya tulus.
__ADS_1
Ucapan Endro disambut senyuman hangat oleh Ridwan. "Jadi... Bagaimana kata Dokter mengenai kondisi Ayahmu, Nak?"
"Ayah saya memiliki riwayat penyakit jantung, Tuan..." Sahut Endro dengan wajah sendunya. "Hal yang sama sekali tidak saya ketahui sebelumnya."
"Yaa Allah..." Desir Ridwan terdengar lirih. Dia seakan merasakan apa yang dirasakan Endro saat itu.
Ketika istri meninggal dalam keadaan tragis dengan membawa buah hati mereka yang masih bersemayam dalam rahim istrinya itu. Lalu tak cukup itu, Ayahnya pun harus terbaring di rumah sakit.
"Untung ada, Tuan." Ucap Endro seraya memaksakan senyumannya.
"Kamu jangan bilang begitu. Semua sudah ada yang atur, nak." Ujar Ridwan sembari menepuk-nepuk pelan pundak Endro.
.
.
.
.
.
__ADS_1