
Setelah semalaman mengurung diri, pagi itupun Endro juga tidak menampakkan tanda-tanda bahwa dia akan keluar dari kamarnya.
Nummi menghala nafasnya dengan berat. Wajahnya terlihat sendu dan muram. Dia sangat merasa bersalah dengan kondisi Endro saat itu. Dia berpikir bahwa itu semua ulah dirinya.
Jika Seandainya saja dia tidak meminta Endro untuk menceritakan kisah hidupnya bersama Mentari, mungkin luka itu tidak akan tergores lagi, pikir Nummi dari semalam.
Waktu terus berlalu, hingga hari itu dzuhur pun usai. Nummi kembali ke soffa di ruangan depan kamar Endro. Berjaga-jaga agar lelaki paruh baya itu keluar dari peraduannya.
Benar saja. Belum lama dia duduk disana, pintu kamar Endro terdengar berderik. Sepertinya lelaki paruh baya itu hendak keluar.
Nummi hanya menatap tanpa berani menyapa. Dia bukan enggan, akan tetapi dia segan. Dia takut jika hati Endro belum merasa baik saat itu.
"Sayang? Kamu lagi apa?" Tanya Endro dengan santai seperti tidak bermasalah sedikit pun.
"O umm... Itu... Nummi mau nonton, Om." Sahutnya berbohong sambil menunjuk ke arah TV yang tidak menyala di depannya. Dia gugup seakan tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.
"Owh... Om mau ke pabrik. Kamu ikut?" Tawar Endro.
"Eh?" Nummi ternganga mendengar ajakan Endro yang terlihat baik-baik saja. "Ooh... Apa tidak akan merepotkan, Om?" Tanyanya lagi menyahuti dengan perasaan sungkan.
"Memangnya kamu berniat hendak merepotkan Om, nantinya?" Tanya Endro berpura-pura seolah ragu hendak membawa Nummi untuk ikut bersama dirinya.
"Eh?" Gadis itu semakin terlihat salah tingkah dibuatnya. "Ya enggak sih, Om..." Cengirnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jika enggak, mending ikut. Om kasihan sama kamu. Dua harian ini, kamu juga di rumah saja, kan?" Ajak Endro terdengar memaksa untuk kali itu.
"Ya udah deh, Om... Nummi siap-siap dulu..." Angguknya menyetujui. Sebenarnya dia senang, hanya saja dia merasa aneh dengan tingkah Endro saat itu.
"Om tunggu, ya... Lima menit..." Tegas Endro bergurau.
"Ooommm..." Sahut Nummi terdengar protes dengan wajahnya yang terlihat memelas.
__ADS_1
"Hehehe... Iya, iya..." Cengir Endro cengengesan.
Setelah Nummi menghilang di balik dinding, Endro kembali menekuk wajahnya. Senyuman di bibirnya mendadak pudar. "Maafin Om ya, Sayang..." Desir Endro lirih sendiri.
*****
Suasana begitu dingin saat mereka satu mobil dalam perjalanan ke pabrik. Tidak ada suara selain suara deru mesin mobil yang mereka tumpangi. Mereka sama-sama canggung kali itu.
Endro mengerti perasaan Nummi. Merasa bersalah karena telah membuatnya bercerita kembali. Padahal, Endro sendirilah yang ingin untuk didengar oleh dirinya.
"Om..." Panggil Nummi lirih. Dia memberanikan diri untuk mencairkan suasana beku yang tercipta di antara mereka.
"Iya? Kenapa, Sayang?" Tanya Endro seraya menepiskan senyuman hangat di bibirnya.
"Nummi minta maaf, ya... Pasti gara-gara..." Ucap Nummi menggantung.
"Sayang..." Potong Endro cepat. "Jika kamu masih membahas tentang rasa bersalahmu, lebih baik kamu lupakan, Nak." Pinta Endro lirih.
"Om baik-baik saja kok... Malahan semakin membaik. Om tidak melupakan apa pun kenangan Om bersama Mentari. Bahkan, Om mengingat sesuatu yang penting, yang sempat terlupa kala itu. Semua berkat adanya dirimu, pendengar Om yang baik." Tutur Endro kembali getir.
"Tuh kan... Om sedih lagi." Ujar Nummi dengan wajah ikut muram.
"Om tidak akan sedih lagi..." Ikrar Endro kembali tersenyum.
"Janji?" Pinta Nummi menatap wajah Endro penuh harap.
"Janji, Sayang..." Sahut Endro meyakinkan. "Oh Iya... Keponakan Om mau kesini loh, Jum'at besok?"
"Keponakan? Om punya keponakan?" Nummi seakan tidak percaya mendengar kabar dari Endro tentang rencana kedatangan keponakannya.
"Punya, Sayang... Om baru tahu itu." Sahut Endro membenarkan. "Kamu masih ingat cerita tentang Ibunya Om, bukan?"
__ADS_1
"Masih, Om..." Angguk Nummi menyahuti.
"Nah itu... Om kan pernah cerita bahwa Ayah Om bilang, Ibu Om punya kakak laki-laki. Jadi, cucu beliau itulah keponakan Om." Ujar Endro menjelaskan. Dia benar-benar bersikap seolah telah melupakan kesedihan dirinya kembali.
"Owh gitu... Keponakan Om, cewek apa cowok?" Tanya Nummi tampak senang.
"Cowok, Sayang. Dia kuliah di Universitas XXX. Semester dua."
"Waaah hebat... Fakultas apa, Om?" Tanya Nummi begitu antusias mendengar cerita Endro.
"Ekonomi dan Bisnis, Sayang..."
"Waaahhh benar-benar hebaaatt... Hmm, nggak sabar deh bisa kenal sama keponakan om. Pasti seru. Nummi bisa bertanya-tanya tentang Universitas itu. Nummi kan mau kuliah disana juga, Om..." Seru Nummi benar-benar kesenangan. Endro hanya tersenyum memandangi wajah girang gadis itu. "Oh iya, Om. Ayah dan Bunda juga bakal jemput Nummi loh... Mereka datangnya hari sabtu."
"Tidak ingin Om antar saja?" Tawar Endro.
"Tidak usah, Om. Lagian Bunda merindukan Nini... Bunda ingin sekalian berkunjung ke makam..." Sahut Nummi menolak tawaran Endro.
"Oh begitu..."
"Iya, Om...?"
Aku juga merindukan mereka. Besok pagi, aku akan kesana... Pasti mentari akan senang disana jika aku kunjungi~ Batin Endro.
.
.
.
.
__ADS_1
.