
Mobil Endro memasuki rumah minimalis miliknya. Di pekarangan rumah itu sudah terparkir mobilnya Arkhan.
Hidung Chandra, keponakannya terlihat mengendus-endus sesuatu ketika Endro membuka pintu mobilnya.
"Ada apa Chandra?" Tanya Endro keheran melihat tingkah aneh keponakannya itu.
"Ini, Om... Ada bau-bau sedap gitu. Bi Hana lagi masak ya, Om?" Tanya Chandra seolah sudah akrab dengan ART di rumah Endro.
"Sepertinya Bunda Desri yang masak. Om hafal betul aroma rendang buatannya." Sahut Endro tersenyum lebar.
"Bunda Desri? Apa itu adik angkat Om, yang tadi di terminal Om ceritakan?" Tanya Chandra lagi.
"Betul sekali. Dia juga punya anak gadis. Cantik lagi. Sudah hampir dua minggu ini dia berada disini. Kalian memang belum saling mengenal, karena setiap kali Om mengajak orang tuanya bertemu Papa, Mama dan Kakekmu, dia juga selalu berhalangan sepertimu. Dia siswi yang aktif di sekolahnya, sama sepertimu waktu di SMA dulu.
Nah, ini kesempatan bagi kalian untuk saling bertemu. Mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Kamu pasti akan senang jika berkenalan dengan mereka." Ujar Endro panjang lebar menceritakan keluarga Arkhan kepada keponakannya itu.
"Wah... Jadi nggak sabar bertemu dan mengenali mereka, Om." Ucap Chandra seraya membuka sabuk pengaman yang masih bersilang di dadanya.
__ADS_1
*****
Suara mobil Om Endro... Pasti keponakan Om juga ada di luar. Aku nggak sabar pengen kenal dia. Dia pasti baik seperti Om Endro.~ Batin Nummi bergumam senang. Dia kembali berkaca dan merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan.
"Sayang... Sepertinya Om 'mu sudah datang, Nak. Ayo kita temui mereka. Bunda juga belum pernah bertemu keponakan Om Endro sebelumnya." Ajak Bundanya begitu bersemangat.
"Bunda duluan saja... Nanti Nummi nyusul." Elak Nummi dengan wajah yang tiba-tiba merah merona.
"Ya, sudah. Tapi jangan lama-lama ya, Sayang. Nggak enak..." Pesan Desri seraya berlalu meninggalkan Nummi yang tampak tersipu.
Ya ampuuun... Kenapa aku jadi deg-degan gini, ya? Kayak mau ketemu jodoh saja.~ Umpat Nummi dalam hati kepada dirinya sendiri.
Tidak... Tidak mungkin... Mudah-mudahan aku salah. Banyak kok suara orang yang mirip. Jangankan suara, wajah saja banyak yang mirip malah.~ Gumam Nummi menggeleng. Dia bergidik ngeri memikirkan sesuatu. Entah apa. Nummi kembali melanjutkan langkahnya hendak berbaur bersama orang tuanya di sana.
"Jadi Bunda, adik angkatnya Om Endro itu?" Tanya Chandra sembari menyalami Desri dan Arkhan bergantian. Desri mengangguk dan tersenyum menyahuti. "Tapi... Rasa-rasanya aku pernah melihat Ayah dan Bunda, deh. Dimana, ya?" Dahi Chandra sampai keriting berusaha mengingat sesuatu.
"Ah ya... Om sampai lupa, Nak. Kamu sekolah di SMAN 1 UNGGUL XXX, kan? Mungkin kamu pernah melihat Bunda nganterin anaknya ke sana?" Ujar Endro meringankan beban pertanyaan di pikiran keponakannya itu.
__ADS_1
Langkah Nummi kembali terhenti mendengar ucapan Endro. Hah??? Kami juga satu sekolah???~ Gumam Nummi panik. Siapa dia sebenarnya?.
"Jadi anaknya Bunda juga sekolah di sana?" Chandra terperangah mengetahuinya. "Waahh penasaran... Harusnya kami saling mengenal ya, Bund?" Ucap Chandra kegirangan. Dia terlihat deg-degan, meski bibirnya terpaksa tersenyum saat itu.
"Iya, benar... Dia adik kelas kamu dulunya. Namanya..."
"Kak Chandra?" Nummi datang menghampiri mereka. Dia terlihat ketus dan jutek ketika mengetahui siapa keponakan Endro sebenarnya. Wajahnya tampak tidak bersahabat menatap Chandra begitu lekat.
"Nummi???" Chandra tak kalah terkejut. Dia segera bangkit dari duduknya untuk memastikan penglihatannya.
"Tuh kan... Kalian memang sudah saling mengenal." Ucap Arkhan tersenyum. Mereka sama sekali tidak melihat isyarat permusuhan dari wajah Nummi dan Chandra. Begitu pun dengan anak-anak itu, mereka berusaha membuat orang tua di dekat mereka tidak kebingungan melihat tingkah mereka satu sama lain.
.
.
.
__ADS_1
.
.