ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
MEMBAWA PERGI MENTARI


__ADS_3

Endro terus melangkah kearah suara dan teriakan yang diciptakan oleh Mentari. dia sama sekali tidak memperdulikan ancaman Alex terhadap dirinya.


Berkali-kali Alex mencoba menghalanginya, namun dengan sekuat tenaga Endro menepis tubuh Alex.


Tidak ada yang sanggup didengarnya saat itu selain teriakan Mentari memanggil namanya. Dan tidak ada kekuatan yang sanggup menahan dirinya untuk menemukan sosok Mentarinya.


Dia terus berjalan penuh kekuatan ke arah yang dia yakini ada Mentari disana.


"Mentari? Kamu ada di dalam?" Serunya seraya mendekatkan kepalanya ke daun pintu sebuah kamar.


"Endrooo... Aku disini... Tolongin aku, Endro..." Suara Mentari terdengar memarau. Tidak sekuat pertama kali dia mendengarnya.


"Tenanglah Mentari... Aku akan membawamu pergi dari sini. Kamu tunggu ya. Awaslah dari pintu. Aku akan membukanya untukmu." Ujar Endro menenangkan Mentari yang terdengar pasrah dari dalam kamar itu.


"Berani kamu melakukannya, saya benar-benar akan memanggil polisi." Hardik Alex lagi mengancam Endro.


"Silakan... Kita pastikan siapa yang akan dibawa polisi terlebih dahulu." Sahut Endro berani. Dia tidak gentar dengan ancaman Alex terhadapnya.


Alex tertegun. Dia tidak sanggup berkutik sama sekali mendengar keberanian Endro.


Dalam hitungan beberapa kali, Endro akhirnya mampu mendobrak pintu kamar itu hingga terbuka.


Hati Endro benar-benar bagai teriris belati menyaksikan pemandangan di depan matanya saat itu. Mentari sungguh terlihat menyedihkan. Rambutnya yang berantakan dan lengan bajunya yang koyak membuat Endro tertegun. Mata gadis itu menyembab, dan berkali-kali terdengar sesengukkan darinya.

__ADS_1


Dia salah. Benar-benar salah pikirnya. Selama ini dia merasa Mentari tidak semenderita itu. Tapi bahkan, dia tidak sanggup melihat keadaan gadis itu untuk pertama kalinya semenjak dari perpisahan kala itu.


Mentarinya dibuat tidak selayaknya manusia oleh mereka. Memperlakukannya dengan sekena hati tanpa perasaan.


Endro marah. Dia benar-benar marah. Emosinya memuncak saat itu. Dia mencoba mencari sesuatu untuk memberi pelajaran kepada mereka-mereka yang telah membuat Mentarinya sedemikian rupa.


Ketika mata Endro mendapati vas bunga di atas nakas, dia berpikir untuk mengambilnya. Tetapi Mentari sungguh tahu jalan pikiran Endro. Dengan cepat, tangan Mentari menahan lengan Endro.


Dia menggeleng pelan, berharap Endro tidak melakukan itu.


Endro semakin emosional melihat wajah pucat Mentari yang memohon pengampunan untuk mereka darinya. Dia memeluk Mentari dengan begitu kuat. Dan hal itu, diam-diam membuat Juwita menjadi kesal dan marah.


"Ayo kita pergi dari sini..." Ajak Endro. Dia menyelimuti bahu Mentari dengan sweater yang sebelumnya melekat di tubuhnya.


"Kamu tidak usah memikirkan mereka. Yang penting keselamatan kamu, Mentari. Kamu tidak aman lagi disini. Bahkan dari sebelum-sebelumnya. Maaf telah membuat kamu menungguku lama untuk menjemputmu." Ujar Endro berusaha meyakinkan hati Mentari.


Endro tahu, gadis itu ragu untuk meninggalkan keluarga angkatnya itu.


"Mentari... Ayo... Ayah dan Nini sudah menunggu kita di luar." Bisik Endro lagi.


Pada akhirnya Mentari menurut.


Endro benar-benar terlihat seperti hero yang telah menyelamatkan hidupnya Mentari dari ambang kehancuran yang baru saja akan ia alami.

__ADS_1


Sepeninggal mereka keluar dari sana, tamu Alex terdengar marah besar. Dia merasa dirugikan oleh Alex setelah membayar mahal Mentari.


Alex begitu marah terhadap Endro. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melampiaskannya kepada Mentari. "Saya bersumpah akan membuatmu membayar ini, Mentari."


"Bapak... Siapa orang yang membawa Mentari tadi?" Juwita yang tidak memerdulikan kemarahan bapaknya, merengek menanyakan tentang Endro.


"Apa penting siapa dia, hah?" Ketus Alex yang begitu geram melihat kemenyean Juwita.


"Ibuk... Siapa dia?" Merasa tidak mendapat jawaban dari Alex, Juwita malah bertanya kepada ibunya yang hanya bisa ikut menatap geram kejadian tadi tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Ibu tidak tahu. Jangan tanya kepada ibu..." Ketus Lita seraya mengikuti Alex yang keluar dari kamar itu.


"Iiiihh... Semua tidak tahu. Hmmm, nanti kalau bapak berhasil membawa Mentari pulang lagi, aku akan tanya kepadanya. Pria itu tampan juga..." Gumam Juwita yang hanya sibuk memikirkan Endro sedari pertama melihatnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2