
Endro terpaku menatap potret lamanya bersama Mentari yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Gadis yang pernah berkunjung ke hatinya, namun hanya menempati sebagian Sisinya saja.
Tapi potret Gadis itu masih tetap mampu membuatnya tersenyum. Mungkin sebuah Memori Indah kembali terbuka dalam benaknya saat itu.
Jemari Endro meraba wajah pucat yang terlukis di dalam photo.
"Kamu konyol, Mentari... Sangat konyol... Aku bahkan tidak mampu menolak kedatanganmu ke dalam hatiku. Kamu membuat aku tetap bisa merasakan kenyamanan jika berada di dekatmu. Kamu selalu mendukung apa pun yang aku usahakan, menyemangati hidupku dan bahkan kamu menjaga hak milikku hingga hari terakhirmu." Tiba-tiba cairan bening mengalir dari sudut mata Endro.
Meski dia tersenyum, namun luka itu tetap terasa olehnya.
"Andai waktu dapat kembali. Aku ingin kamu membantuku mengeluarkan Desri dari dalam hatiku, Mentari.
Aku tidak ingin merasakan sakit seperti ini. Terlalu lama, bahkan hingga mati datang menghampiriku mungkin. Aku salah telah membiarkan dia masuk tanpa memberitahumu sebelumnya barang sedikit pun.
Jika seandainya kala itu Aku memberanikan diri untuk memberitahu mu, aku yakin kamu tidak akan marah. Tapi kamu pasti malah membantuku untuk mengusirnya secara perlahan, bukan?.
Hanya saja aku terlambat, Mentari. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkannya Sampai detik ini. Aku semakin mengenal dirinya, dan itu malah membuatku semakin menaruh rasa Karena sifatnya yang begitu berbeda.
Dia seorang anak dari seorang ibu dan Ayahnya, Seorang Istri dari suaminya, Seorang sepupu dari lelaki yang telah menjahati dirinya, seorang menantu, seorang ipar, seorang teman dan sekarang seorang ibu dari Nummi yang saat ini berada di sini. Gadis tujuh belas tahunan yang begitu berambisi mendengar kisah tentangmu dariku.
Desri seorang yang istimewa bagi semua orang yang mengenalnya. Kamu tahu... Bahkan aku pikir aku tidak akan pernah menangis jika bukan karenanya." Endro meraih photo itu dan membawanya ke balkon kamarnya.
Disana, Endro memeluk photo Mentarinya dan mengulang kembali kisah mereka dalam benaknya. Perlahan, dia memejamkan matanya dan memori itu pun kembali bermain dalam ingatannya.
*****
__ADS_1
Seusai acara mendoa di rumah Endro, Mentari kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur yang biasa di tempatinya semenjak tinggal di rumah itu.
Baru saja Mentari memejamkan matanya nya hendak tidur, tiba-tiba telinganya malah mendengar pintu kamar itu dibuka dan ditutup kembali oleh seseorang yang masuk dari luar.
Mentari terduduk karena saking terkejutnya.
"E... Endro..." Jerit Mentari. Dia terperangah melihat kedatangan Endro tanpa aba-aba sebelumnya.
"Hai... Kamu kenapa? Kok gugup begitu?" Endro bersikap pura-pura Acuh melihat keterkejutan di wajah Mentari.
"Kamu ngapain kesini?" Pertanyaan Endro hanya mampu disahuti dengan pertanyaan pula olehnya.
"Lho... Kok kamu malah nanyanya gitu? Kamu lupa ya? Tadi aku kan udah melakukan ijab qobul dengan Bapak penghulu di KUA untuk menikahi kamu." Ujar Endro sembari terus mendekat kearah Mentari yang terlihat salah tingkah olehnya.
"I-Iya... A-aku ingat... Ta-tapi..." Meskipun dia mengerti, hanya saja dirinya tidak mampu menghentikan perasaan malunya saat itu.
"A-aku tidak terbiasa berbagi kamar sama lelaki..." Sahut Mentari malu-malu.
"Lalu, Kapan aku akan menunggumu menjadi terbiasa? Sedangkan kita sudah sah menjadi suami istri. Jika pun besok, jawabannya akan tetap sama. Kamu belum terbiasa. Maka dari itu, kita mulai dari sekarang." Endro terus saja bertingkah seperti menggoda istrinya yang terlihat tersara bara karenanya.
Endro semakin mendekat, dia memutar tubuh Mentari dengan perlahan dan lembut. Mentari yang gugup pun hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya saat diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang baru saja menikahi dirinya.
"Malam ini, aku biarkan kamu tertidur di sampingku. Tapi tidak untuk malam-malam berikutnya, Ya." Bisik Endro di telinga Mentari.
Mentari segera membuka matanya kembali. Dia bernafas lega mendengar ucapan Endro, hanya saja rasa gugupnya belum sepenuhnya hilang.
__ADS_1
"Ya sudah... Sekarang kamu tidur. Kalau kamu tidak tidur..."
"Kalau aku tidak tidur?" Potong Mentari dengan berani.
"Aku akan memakan habis kamu, malam ini." Ancam Endro.
"Aku tidur..." Ujar Mentari bergegas kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.
Endro tersenyum geli memerhatikan tingkah Mentari yang dirasanya begitu polos.
Waktu kita SMA dulu, kamu nggak segugup ini. Tapi sekarang kamu jauh berbeda, ya...~ Gumam Endro seraya mengambil posisi pembaringannya di samping Mentari.
Endro memerhatikan wajah gadis yang selalu dilindunginya itu. Dan saat itu berada dalam satu kamar dengannya. Menjadi pasangan sahnya menurut agama dan hukum. Wajah polos yang membuatnya menyerah dalam mendapatkan cintanya di kota tempat dirinya kuliah.
Aku yakin, Mentari. Kamu mampu membuat aku mencintaimu setelah ini. Aku akan bersabar untuk itu, dan aku akan terus memulainya hingga aku lupa bahwa aku pernah jatuh cinta di luar sana sebelum menikahi dirimu.
"Selamat malam, Istriku." Ucap Endro seraya mengecup dahi Mentari yang telah terlelap nyenyak di sampingnya.
Mungkin dengan memandangi wajah istrinya itu, Dia mampu merasakan cinta bersamanya. Maka disanalah cerita cinta itu pun dimulai.
.
.
.
__ADS_1
.
.