ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
SANG PEMILIK DOMPET


__ADS_3

Sekitar lima belas tahunan yang lalu, Endro pernah mengadakan kunjungan dengan investor perkebunan teh miliknya di perusahaan Ghani Group pusat. Tanpa dirinya sengaja, matanya mendapati sebuah dompet yang terjatuh di lobby.


Endro berusaha mencari tahu sang pemilik dengan melihat tanda pengenal di dalam dompet itu.


"Endrooo..." Tiba-tiba terdengar seruan Arkhan dari belakangnya. Arkhan mendekati posisi tempatnya berdiri. Dia masih termangu memerhatikan KTP pemilik dompet yang ditemukannya. "Kenapa kamu masih ada disini, End? Bukankah tadinya ingin ke rumah?" Tanya Arkhan keheranan.


"Iya... Tapi saya menemukan ini. Sepertinya ini milik investor yang baru." Sahut Endro Seraya memperlihatkan KTP yang dipegangnya kepada Arkhan.


"Benar... Ini Pak Arif, klien saya yang baru saja berminat menjadi investor perkebunan 'mu, End. Mungkin dia tidak sengaja menjatuhkan dompetnya." Ujar Arkhan membenarkan dugaan Endro ketika melihat foto di dalam KTP yang disodorkan pengawalnya itu kepadanya.


"Apa sebaiknya saya antarkan terlebih dahulu dompet ini? Alamat rumahnya juga tidak terlalu jauh, sekitar satu jaman lah..."Pikir Endro terdengar meminta saran.


"Apa perlu saya temani?" Tawar Arkhan.


"Tidak usah... Biar saya sendiri yang mengantarkannya. Kasihan Anak dan istrimu sudah menunggu di rumah. Ini kan hari ulang tahun Nummi. Lagian saya bisa berterima kasih langsung kepada beliau secara pribadi atas investasi darinya." Tolak Endro.


"Baiklah... Saya pulang dulu. Tapi ingat... Kau jangan sampai terlambat. Saya tidak mau Nummi menangis di hari pentingnya ini." Tegas Arkhan.


"Siaaap..." Sahut Endro menyeringai kecil.


"Hati-hati..." Ucap Arkhan segera berlalu meninggalkan pengawalnya itu.


*****


Benar saja, satu jam lebih sedikit Endro akhirnya menemukan alamat sang pemilik dompet. Rumah yang cukup mewah, bahkan hampir setara dengan rumah Arkhan.


Agak ragu-ragu, Endro turun dari mobilnya untuk bertanya kepada satpam rumah itu.


"Permisiii..." Seru Endro memanggil satpam yang tengah duduk di pos jaga samping pagar.


"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya satpam itu seraya mendekat ke arahnya.


"Apa benar ini rumahnya Pak Arif?" Tanya Endro sembari memperlihatkan foto di KTP.

__ADS_1


"Wah... Benar sekali, Tuan. Ini majikan saya, Pak Arif." Sahut satpam itu membenarkan.


"Saya ingin bertemu beliau. Tadi saya menemukan dompet beliau terjatuh. Jadi saya mau mengembalikannya. Bisakah?" Tanya Endro terdengar ramah.


"Oh... Tunggu sebentar, tuan. Saya akan telepon beliau terlebih dahulu. Soalnya beliau juga belum pulang, tuan." Ujar Satpam.


"Baiklah... Saya tunggu." Ucap Endro membiarkan satpam itu menelepon majikannya.


"Bagaimana?" Tanya Endro ketika melihat satpam itu telah mengakhiri panggilannya dengan sang majikan.


"Tuan masuk saja terlebih dahulu. Majikan saya sebentar lagi sampai. Beliau tadi mampir ke pemakaman almarhum mamanya terlebih dahulu, makanya Beliau sedikit terlambat, Tuan." Ujar Satpam seraya membukakan pintu gerbang untuk Endro.


Endro menurut dan segera masuk kembali ke dalam mobilnya.


Setelah Endro memasuki rumah sang pemilik dompet, sepasang suami istri yang masih terlihat muda dan sebaya dengan dirinya tampak menghampiri posisinya. Sang suami tengah meggendong putra kecil mereka yang masih berumur sekitar tiga tahunan kala itu.


"Selamat sore, Tuan, Nona..." Sapa Endro ramah kepada mereka.


"Sore, Tuan..." Sahut mereka hampir bersamaan.


"Benar, Tuan... Saya sedikit ada perlu dengan beliau. Kata satpam, Pak Arif sebentar lagi akan sampai." Sahut Endro membenarkan.


"Kalau begitu silakan masuk, Tuan. Ayah saya akan marah jika membiarkan tamu hanya berdiri di luar saja." Ajak lelaki itu begitu ramah. Tampak balita mungil dalam gendongannya tertawa ke arah Endro.


"Yaa Ampun... Manisnya..." Puji Endro sembari mencubit gemes pipi balita itu. Merasakan sentuhan Endro, sang balita menjulurkan tangannya meminta diri untuk di gendong.


"Pah... Tumben anak kita bersikap manis seperti itu kepada orang asing? Biasanya nggak pernah mau disentuh dianya..." Ujar istri dari lelaki itu terlihat bingung sendiri.


"Iya ma... Nggak tau juga. Entah aura apa yang dimiliki tuan ini..." Sahut lelaki itu juga ikut keheranan seperti istrinya.


Endro hanya tersenyum mendengar percakapan suami istri di hadapannya saat itu. Dia dengan senang hati menggendong sang balita dan mengikuti suami istri itu masuk ke dalam rumah mereka.


Sesampainya di dalam, Endro dipersilakan duduk di ruang tamu. Dia dengan cadelnya menirukan suara bayi untuk bicara menggoda balita laki-laki dalam gendongannya.

__ADS_1


"Tuan sudah punya anak?" Tanya papa dari balita yang digendonginya itu.


Sesaat Endro terdiam. Dia menampakkan senyuman getir di bibirnya. Pikirannya kembali menerawang jauh. "Sudah... Jika mereka, Istriku yang saat itu sedang mengandung anakku masih hidup..." Sahut Endro kemudian. Wajahnya begitu sendu menjawab pertanyaan yang baru saja diterimanya dari tuan rumah. Tampak cairan bening kembali memenuhi kantung matanya.


"Hah? M-ma-maaf tuan..." Ucap lelaki itu tampak merasa bersalah. Istrinya juga merasa tidak enak mendengar jawaban Endro yang terdengar getir di telinganya.


Endro kembali tersenyum, mencoba melupakan kesedihan yang baru saja merasuk ke dalam hatinya. "Tidak apa-apa... Santai saja. Semua itu sudah berlalu..." Ucap Endro seolah tidak mempermasalahkan.


"Assalamu'alaikum..." Seseorang terdengar mengucapkan salam dari pintu utama rumah itu. Dia tidak lain adalah Pak Arif, orang yang ingin ditemui Endro saat itu.


"Wa'alaikumussalam..." Sahut mereka hampir bersamaan. Mereka bangkit dari duduk untuk menyambut kedatangan Pak Arif.


Pak Arif melangkah gontai menghampiri mereka dan mengisyaratkan agar mereka kembali duduk.


"Loooh... Bukannya Anda pemilik kebun teh di kota XXX itu, bukan? Orang yang saya temui di perusahaannya Arkhan" Tanya Pak Arif terkejut mendapati Endro berada di sana.


"Banar, Pak." Sahut Endro membenarkannya. "Nama saya Endro, Pak." Ucap Endro memperkenalkan dirinya kepada Pak Arif.


"Apa kamu juga yang telah menemukan dompet saya?"


"Iya benar, Pak. Itu tujuan utama saya datang ke mari. Sekaligus ingin menyapa Bapak. Saya sangat berterimakasih atas keikutsertaan Bapak menjadi investor dalam usaha saya." Ujar Endro.


"Waahh. Terima kasih kembali, Nak Endro. Anda masih muda, tetapi anda mampu menjadi orang sukses seperti ini. Saya sangat senang bisa menjadi salah satu investor di perkebunan Anda. Apalagi di kota itu. Di kota itu ada sebuah kenangan yang tidak bisa saya lupakan, meski saya belum bisa untuk mendatanginya." Tutur Pak Arif bernostalgia. Sebuah memori yang tidak Endro ketahui bermain-main di benaknya.


Dahi Endro mendadak keriting. Ada pertanyaan di benakanya, tapi tidak sanggup untuk ia lontarkan. Mungkin sebuah privasi untuk Pak Arif yang tidak perlu ia ketahui. Dia masih lelaki dingin yang tidak suka banyak tanya kala itu.


Dia hanya tersenyum menyahuti ucapan Pak Arif sembari mengangguk-angguk kecil.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2