
"Endro..." Suara lirih Mentari terdengar menyapa lelaki yang berada beberapa langkah di belakangnya.
Kala itu, mereka berjalan beriringan dengan pakaian seragam sekolah yang masih melekat di tubuh mereka masing-masing. Hanya saja terlihat sedikit acak-acakan dari waktu keberangkatan mereka di pagi harinya.
Ya, siang itu mereka telah kembali dari tempat mereka biasa menuntut ilmu. Dan seperti biasa, mereka akan pulang bersama. Kali itu, Endro berjalan di belakang Mentari dengan ke dua tangannya berada dalam kantong samping celana yang dipakainya.
Dari sepanjang jalan yang mereka tempuh, baru sapaan itulah yang terdengar dari mereka berdua. Mentari tidak menghentikan langkah kakinya yang berjalan pelan memunggungi Endro. Dia pun tidak menoleh sedikit pun ke belakang.
"Endro...?" Panggilnya lagi dengan posisi yang masih sama.
"Jangan memanggilku, jika tak berniat berbicara denganku." Ketus Endro mengabaikan panggilan Mentari.
Mentari menghentikan langkahnya. Dan hal itu, spontan membuat Endro ikut menghentikan langkahnya juga. Mentari memutar tubuhnya menghadap ke arah Endro. Dia menatap lekat wajah lelaki itu dengan tatapan penuh keseriusan.
Dia mencoba mencari celah untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan saat itu.
"Ada apa?" Tanya Endro mulai merespon sikap Mentari.
"Aku menyukaimu...!"
Hening.
Mata Endro berkedip dengan sekali kedipan. Mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh gadis di hadapannya saat itu.
Entah arti apa yang tergambar dari raut wajahnya, yang pasti dia sedikit tersenyum mendengar pengakuan Mentari.
"Kenapa kamu diam?" Mentari yang merasa kehabisan harga diri, mulai memanyunkan bibirnya. "Kamu bahkan ingin menikahiku..." Celutuknya. Dia kembali memutar tubuhnya dan meninggalkan Endro yang masih mematung disana.
__ADS_1
"Aku pun juga menyukainya. Dia cantik, pintar, baik... Dan rambutnya juga panjang." Gumam Endro tanpa di dengar lagi oleh Mentari.
Gadis itu sudah menjauh. Dia seakan-akan merasa telah kehilangan harga dirinya di depan Endro, karena dia telah berani menyatakan perasaannya kepada lelaki itu.
Begitulah cara perpisahan mereka di siang itu. Ungkapan perasaan Mentari, yang tak berbalas kepastian dari Endro.
*****
"Ayah..." Panggil Endro ketika dirinya telah usai makan siang dengan Kamil, Ayahnya.
"Hummm?" Sahut Kamil tanpa menoleh sedikit pun kepada putranya itu. Dia masih saja sibuk mengasah parang miliknya dengan batu asah.
Tapi dia selalu begitu. Sosok pendengar yang baik untuk putranya, tanpa mengabaikan pekerjaannya sendiri.
"Mentari bilang, dia menyukaiku..." Adu Endro tanpa basa-basi. Dia tahu, ayahnya akan mengerti dengan perasaannya. Karena terkadang, ayahnya juga mampu memerankan sosok ibu untuknya.
"Padahal, aku juga menyukainya. Dia cantik, baik, pintar. Dan rambutnya panjang..." Ungkap Endro sedikit menerawang. "Apa karena itu juga ayah menikahi ibu?"
Pertanyaan Endro benar-benar menghentikan pekerjaan Kamil.
"Tidak..." Sahut Kamil. "Karena ibumu anak orang kaya..." Ujarnya sembari menatap lekat wajah putranya yang tampak terkejut oleh pengakuannya. Dia berbicara tidak yang sebenarnya. Dia hanya menguji kedewasaan putranya itu.
"Padahal aku berniat akan menikahi Mentari, Yah. Tapi dia hanyalah anak angkat dan tidak memiliki kekayaan." Ujar Endro polos.
"Jangan bumbui niatmu dengan melihat rupa, sifat dan matrealitas seseorang untuk menikahinya, Nak. Ayah pikir, di usiamu yang tujuh belas tahun ini, kamu telah memiliki pola pikir dewasa. Tetapi kamu belum bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk..."
"Aku tidak mengerti, Ayah." Ungkap Endro jujur.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar berniat ingin menyelamatkan gadis itu?" Tanya Kamil sedikit menekan perasaan Endro.
"Tentu, Ayah. Kasihan dia..." Jawab Endro yakin dan terlihat mantap.
"Apa kamu yakin, kamu bisa menerimanya meski kamu tidak merasakan apa-apa di dadamu ketika bersamanya?"
"Aku bahkan merasakan itu..." Selanya cepat.
"Tidak, Nak. Bahkan untuk mengasihani sekalipun, kamu juga akan merasakan hal itu. Jantungmu akan berdetak, dan memaksamu melakukan hal yang tidak kamu mengerti.
Menikah, bukanlah sebuah hubungan yang didasarkan atas kemauan. Tapi menikah, adalah sebuah hubungan yang akan menghasilkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kamu hasilkan. Dan itu pun, jika kamu ingin.
Menikahlah dengan seseorang yang meskipun sebelumnya kamu tidak mencintainya. Tapi kamu yakin, setelah menukah, kamu bisa mencintainya. Menikahlah dengan perempuan, jika bersamanya kamu tidak akan menemukan kebahagiaan lain di luar sana.
Menikah itu bukanlah sekedar gurauan, menyelamatkan atau membahagiakan. Tetapi di dalam pernikahan, kamu akan mengalami banyak hal. Yang pasti, akan ada hal yang paling menyakitkan...
Jadi, apa kamu yakin di usiamu sekarang membahas tentang pernikahan?" Kamil menjelaskan panjang lebar terhadap kekeliruan putranya tentang pernikahan. Sesuatu yang dijanjikannya untuk Mentari.
.
.
.
.
.
__ADS_1