
Indah sekali ciptaan 'Mu, Allah... Begiiitu indah...
Aku bersyukur, Engkau memberiku hadiah semua ini. Berupa kebun yang luas dan berjaya hasilnya. Kau buat aku banyak berderma dengan pemberianmu ini, Yaa Allah...
Endro menatap luas kebun di hadapannya itu. Dia tersenyum puas penuh kebahagiaan. Tiada tara dan tak pernah terlihat sebelumnya, senyumnya itu. Kecuali ketika dirinya mendengar kabar tentang kehamilan Mentari, istrinya. Dia sendiri pun masih mengingat itu.
"Aku mencintaimu, Mentari... Istriku... Sayangku... Ibu dari putriku...." Ucap Endro berbinar.
"Aku juga mencintaimu, Sayang..." Tangan Mentari memeluk pinggang Endro dari belakang. Dia datang Entah dari mana. Kepalanya bersandar di punggung Endro. Kala itu, wajah Endro terlihat muda kembali. Begitu tampan dan masih kencang.
Masya Allah... Betapa romantisnya mereka. Sepasang Manusia ciptaan-Mu, Allah...
Endro membuka pelan tangan Mentari yang melingkar di pinggangnya. Dia memutar posisi tubuhnya menghadap kepada istri tercintanya itu.
"Cantik... Lesung pipi mu menggodaku, sayang..." Puji Endro seraya menautkan dahinya ke dahi lebar Mentari. Dia berbisik, berucap kata romantis kepada istrinya itu.
"Ayaaaah... Ibuuu..." Suara seruan anak perempuan terdengar memanggil mereka. Di tangannya, ada keranjang kecil berisikan bunga-bunga mawar berwarna putih. Senyumannya persis seperti Mentarinya Endro.
Di pipi anak kecil itu juga terdapat lubang kecil yang menambah keimutan dirinya. "Sayang... Anak ayah datang?" Sahut Endro Seraya menyambut tubuh mungil yang berlari menghamburkan diri kepada-nya. "Kamu dari mana saja, Nak?" Tanya Endro sembari memeluk erat tubuh mungil itu. Air matanya menitik. Dia merasakan perih di dalam dadanya.
Sebuah kerinduan yang begitu dalam ia rasakan. Terakhir kali, Gadis kecil itu tidak memeluk dirinya. Menteri melarangnya untuk itu, dan membawa Gadis itu untuk pergi meninggalkan dirinya seorang.
"Aku dari taman bunga, yah... Lihat... Bunganya cantik kan, Yah?" Ucap gadis mungil itu membanggakan bunga-bunga yang sedari tadi berada dalam keranjang jinjingannya.
"Ya ampun... Cantik. Putih semua, ini nak." Puji Endro. Dilihat, di samping mereka, Mentari hanya tersenyum menyaksikan suami dan putrinya begitu akrab.
"Kata ibu, putih itu suci, Ayah... Aku mau menyerahkan bunga-bunga ini kepada Ibu, karena Ibu begitu Suci, bersih, cantik juga." Celotehnya panjang mengelu-elukan ibunya.
"Untuk Ayah mana, Sayang?" Dengan manja, Endro juga meminta untuk dirinya dari putrinya itu.
"Untuk Ayah???." Gadis kecil itu terlihat bingung sambil memerhatikan bunga-bunga di dalam keranjang yang di jinjingnya sedari tadi. "Tapi ini untuk ibu semua..." Ucapnya halus merasa tidak enak kepada Ayahnya itu.
"Untuk Ayah warnanya merah, Sayang..." Ujar Mentari seraya mendekat kepada suami dan putrinya.
__ADS_1
"Merah?" Kening gadis kecil itu mengkerut tipus sehalus sutra.
Mentari mengangguk. "Merah itu tandanya berani, Sayang. Ayah orangnya pemberani. Bahkan saaangat pemberani. Ayah begitu gigih dan berani memanggil kita..." Tutur Mentari menjelaskan.
"Benar begitu, Yah?" Gadis kecil itu menoleh kepada Endro meminta kebenaran darinya.
"Iya dong, Sayang. Ayah memang harus jadi pemberani agar bisa bertemu dua perempuan cantik Ayah ini..." Endro membenarkan. Dia menempelkan dahinya ke dahi gadis mungil itu. Begitu memanja.
"Tapiii... Mawar merahnya belum boleh dipetik sama penjaga taman, Yah." Sungutnya terlihat sendu. Dia begitu sedih karena tidak bisa memberi bunga untuk ayahnya itu.
"Kata mereka, mawar merah itu memang untuk orang-orang yang pemberani. Penjaga itu bilang, putih melambangkan jiwa, dan merah melambangkan tubuh. Tunggu ya, ketika Ayah sudah menetap bersama kami. Maka tubuh akan menemani jiwa seutuhnya. Aku akan setiap hari juga memetik mawar merah untuk Ayah." Ujar gadis kecil itu beralasan.
"Hmm begitu ya? Anak ayah yang pintar..." Ucap Endro tersenyum. Ia mengacak-acak pelan poni putrinya.
"Jangan pernah kesepian lagi, Sayang. Aku sudah menemukan cintamu, dan aku menunggu dirimu datang. Setiap waktu, aku akan datang bersama putri kita untuk menemani sepimu.
Teruslah berladang, agar kebaikan mengalir untuk Ayah dan kakek-kakekmu. Saat ini, mereka tengah menikmati manisnya teh dan strawberry hasil panen di kebunmu, Sayang." Bisik Mentari di telinga Endro.
*****
Endro menatap ke sekelilingnya dan menyadari bahwa dia masih berada di balkon belakang rumah. Kepalanya mendongak ke bangku taman belakang, bibirnya tersenyum mengingat kejadian semalam.
"Om Endrooo..." Seruan Nummi terdengar memanggilnya di mana-mana menyadarkan dirinya dari lamunan. Sepertinya gadis itu sedang mencarinya.
Endro bangkit dari kursi santai yang ia tempati saat itu dan berusaha mencari dari mana suara Nummi berasal. "Ada apa, Sayang?" Tanya Endro sembari mendekat ke arah Nummi yang sudah berada di depannya.
Nummi menghamburkan dirinya ke tubuh Endro. "Om kemana saja? Nummi cari-cariin dari tadi." Sungut Nummi masih dalam pelukan Endro.
"Kamu mencari, Om? Kenapa?" Endro balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
"Nummi akan berangkat sekarang sama Ayah dan Bunda, Om..." Ucapnya terlihat berat meninggalkan Endro.
"Sekarang? Kenapa tidak besok saja, Sayang? Kan kamu masuk sekolahnya hari Senin..." Ujar Endro dengan alis mengkerut. Dia melepaskan tubuh Nummi dari pelukannya, dan menatap lekat wajah gadis itu.
__ADS_1
"Iya... Tapi kata Bunda, Nummi harus siapin perlengkapan sekolah besok, Om. Sekalian istirahat, biar tubuh Nummi fit pas hari Seninnya." Tutur Nummi.
"Owh... Ya sudah. Tidak apa kok, Sayang. Lain kali kamu bisa kesini lagi. Kan dekat..." Ucap Endro menenangkan Nummi yang siap menangis sesaat lagi.
"Om juga harus sering berkunjung... Pokoknya harus lebih sering. Jangan lupa bawain Nummi strawberry juga ya, Om." Pinta Nummi terdengar memaksa.
"Iya... Nanti kamu mampir di sana, ya. Om akan telepon Chika untuk memetikan strawberry buat 'mu. Buat Silvi juga." Pesan Endro.
"Beneran, Om?" Tanya Nummi dengan mata melebar karena kesenangan.
"Iya... Tapi jangan lupa, ya. Nanti Om juga akan kasih tahu sama Ayah." Sahut Endro.
"Yeeeey... Makasih, Om..." Ucap Nummi begitu senang dan kegirangan.
"Iya, Sayang..." Endro mengecup dahi Nummi, keponakannya juga.
^^^^^
Waktu terus berlalu. Semua berangsur pergi meninggalkan dirinya ke kota mereka. Dimulai dari Nummi dan kedua orang tuanya, hingga Chandra, keponakannya.
Saat itu Endro kembali sendiri ditemani Bi Hana dan Pak Harun yang selalu setia menemani dirinya.
Hanya saja, sejak saat itu semua terasa berbeda baginya. Dia tidak lagi kesepian seperti hari-hari sebelumnya. Itu berkat keingintahuan Nummi tentang masa lalu dirinya.
Dia lebih sering tersenyum, dan mungkin menangis untuk hal-hal yang diperlukan. Dia tidak lagi Endro pendiam, dingin dan kaku seperti sebelumnya. Karena mentarinya telah percaya dengan cintanya, dan dia yakin itu.
Beberapa kali dia berkunjung ke kediaman Ghani, dia juga sering menampakkan dirinya yang sebenarnya. Bodor dan humor. Dia lebih sering bertingkah seperti Tom and Jerry dengan Arkhan tanpa kepura-puraan lagi. Dia lebih sering tertawa lepas, selepas-lepasnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.