
Endro duduk di balkon belakang rumahnya. Dia masih terlihat rapuh dan lelah. Pertanyaan yang banyak di dalam benaknya, belum kunjung terjawab. Ia terus mencoba mencari, menelaah kembali, dan menerawang jauh. Segalanya telah dia lakukan, tapi dia masih saja merasa buntu.
Dia berpikir, Mentari mungkin belum memaafkannya di sana. Dia hendak rebahan, menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke kursi santai di balkon itu. Akan tetapi, matanya tiba-tiba menyeruak, menggeliat kembali dari lelahnya. Dia menampak Nummi tengah bersandar di bangku taman belakang sambil menatap langit berbintang. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Gadis itu sejak kedatangan keponakannya, Candra tadi siang.
Gadis itu selalu menghindari tempat-tempat Chandra berada. Bahkan ia lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya.
Baru saja Endro berpikir hendak menghampiri Nummi ke sana, tiba-tiba matanya melihat Chandra juga mengarah ke tempat Nummi duduk.
Endro terus memperhatikan dua anak remaja itu, meski dia sendiri tidak dapat mendengar apa yang tengah mereka obrolkan di sana.
Yang terlihat oleh matanya ketika Chandra hendak mendekat kepada Nummi, namun Nummi malah cepat-cepat bangkit dari duduknya hendak menjauh.
Mereka tampak seperti Mentari dan Endro waktu masih SMA. Yang satu jutek, yang satu lagi berusaha untuk mendekat. Tapi ngomong-ngomong, apa yang telah terjadi di antara mereka, ya? Endro berguman melihat mereka, bahkan sampai senyum-senyum sendiri karenanya.
Mereka berdua memang keponakanku, tapi bukan berarti perasaan mereka terhalang karenanya, kan? Mereka seperti terlibat benci-benci tapi cinta. Eh... Ngomong-ngomong mereka sudah tahu cinta apa belum ya?~ Endro geli sendiri memikirkannya.
Senyumnya kembali merekah. Entah apa yang akan terjadi jika esok mereka pergi dari sini? Mungkinkah aku akan merasa kesepian lagi?Hilang arah, dan tentunya merana sendiri.~ Senyum Endro kembali memudar. Dia melanjutkan niatnya yang tertunda tadi. Rebahan.
__ADS_1
*****
Wajah gadis itu tertekuk kesal. Sesekali dia menengadah ke langit, memerhatikan bintang yang tiada indah-indahnya bagi dirinya saat itu.
Entah apa yang terjadi pada moodnya yang tiba-tiba down sedari pertemuannya dengan Chandra tadi siang.
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki seseorang membuatnya menoleh. Dengan cepat, dia bangkit hendak menjauh dari sana ketika dia mengetahui siapa yang datang. Ya, yang datang Chandra, keponakan Endro.
"Nummii..." Panggil Chandra. Mendadak, langkah Nummi terhenti seketika. Dia menoleh berat kepada lelaki muda di belakangnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Chandra mengabaikan kekesalan di wajah gadis itu.
"Bicara apa? Sepertinya kita tidak punya pokok pembicaraan deh." Ketus Nummi kembali membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Chandra.
"A-aku mau minta maaf..." Seru Chandra kembali menghentikan langkah Nummi.
__ADS_1
Nummi beringsut mundur. Dia kembali duduk di bangku semula tempat ia duduk tadi. "Duduklah, Kak..." Pintanya tanpa menoleh.
Chandra menurut. Dia duduk di samping Nummi yang berjarak setengah meter darinya.
"Kak Chandra mau bicara apa?" Tanya Nummi tanpa mengurangi ketegangan di wajahnya.
"Aku mau kasih surat ini sama kamu waktu terakhir kali. Tapi kamu 'nya masih marah, Dik..." Ujar Chandra sambil memainkan kertas berlipat dalam pegangannya.
"Su-surat apa itu?" Nummi menoleh bingung. Oktaf suaranya menurun drastis ketika Chandra memanggilinya dengan panggilan 'Dik'.
"Nanti saja kamu membacanya. Setelah kita berpisah dari sini. Ini mungkin tidak penting bagi kamu, tapi penting buat aku." Ujar Chandra sembari menyodorkan kertas di tangannya kepada Nummi.
"Memang aku tidak boleh membukanya sekarang? Atau nanti di kamar?" Tanya Nummi keheranan. Sungguh membuat tanda tanya permintaan aneh lelaki itu.
"Tidak boleh, Dik... Please, ya... Jangan buka ketika aku masih ada di hadapan kamu. Di dalamnya ada nomor HP aku. Kapan pun kamu membuka dan membacanya, aku akan selalu menunggu kamu menghubungi aku lewat nomor itu." Pinta Chandra berharap.
"Kok sekarang jadi aku-kamu? Loe-gue yang dulu kemana?" Dahi Nummi mendadak keriting. Dia sedikit geli dengan perubahan bahasa Chandra yang dikenalinya.
__ADS_1
"Kamu tidak nyaman dengan panggilan loe-gue itu bukan? Maaf ya..." Ucap Chandra semakin membuat Nummi bingung.
"Bagi aku kasar." Ketus Nummi seakan membenarkan.