
Mentari mengerjapkan kan matanya sedikit demi sedikit. Deru nafasnya terdengar kasar, kali itu tampaknya dia mulai tersadar dari pingsannya yang entah Sudah berapa lama.
"Nini..." Dia memanggil wanita tua di sampingnya saat itu. Wanita tua yang selalu mengkhawatirkan dirinya semenjak tahu bagaimana hidupnya di sisi Alex.
"Nak Mentari... Nak Mentari sudah sadar?" Seru Nini begitu senang mendengar Mentari memanggil dirinya, meski di kedua matanya yang sudah hampir mengabur di usia senjanya itu masih menyimpan cairan bening yang siap keluar kapan pun juga.
Endro dan Kamil yang mendengar seruan Nini, segera mendekat. Mereka tersenyum lega setelah melewati masa-masa yang menegangkan sebelumnya karena melihat kondisi gadis malang itu.
"Nini... Apa Endro dan Kak Juwita telah menikah?" Tanya Mentari tanpa mau menoleh ke arah Endro.
Endro termangu sesaat, kemudian dia mendekat dan duduk di samping Mentari yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
"Apa mesti itu hal yang perlu kamu pertanyakan ketika kamu baru saja tersadar dari pingsanmu, hmm?" Endro menanyainya dengan lembut, meski dia sendiri bingung akan tujuan Mentari menanyakan tentang pernikahannya bersama Juwita. Pernikahan yang tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun.
Mentari tak menyahut, dia masih enggan untuk menoleh ke arah Endro.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi kepadamu, Nak?" Kamil ikut mendekat dan angkat suara untuk menanyainya.
Mentari berusaha bangkit dari pembaringannya.
"Mereka... Hiks... hiks... hiks..." Belum sempat Mentari menjelaskannya, isak tangisnya telah terlebih dahulu pecah menyayat suasana.
"Tenanglah, nak. Ada apa? Apa yang telah mereka perbuat kepadamu?" Nini segera mendekap tubuh Mentari dan mengusap lembut bahunya. Nini berusaha menenangkan gadis itu.
"Mereka menyekapku disana, Ni. Ju-juwita... Juwita... Dia mau membunuhku... Hiks... Hiks... Hiks... Dia mau menabrakku..." Isak Mentari ketakutan. Tubuhnya bergetar dalam dekapan Nini.
Endro dan Kamil tercengang mendengar pengakuan Mentari. Hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Betapa kejamnya Alex terhadap Mentari.
"Tapi kenapa mereka melakukan itu?" Tanya Kamil dengan geram.
Mentari masih tersedu-sedu.
"Semalam... Mentari berusaha kabur dari mereka, Yah." Sahutnya di sela-sela isak tangisnya.
"Tapi kenapa kamu harus kabur, Mentari?Kenapa, hmm? Apa kamu benar-benar tidak memercayai kami?" Giliran Endro yang bertanya. Emosinya tersulut seketika.
"Bukan begitu, End..." Bantah Mentari cepat.
"Lalu apa Mentari? Apa?" Endro semakin mendesak Mentari. Tampak guratan kekecewaan lagi di wajahnya.
"Aku tidak lari dari pernikahan kita, End. Aku hanya lari dari mereka. Aku ingin lari ke sini. Aku ingin memberitahukan kepadamu tentang rencana licik mereka... Mereka..." Mentari kembali menggantung ceritanya. Dia seakan sudah tidak sanggup lagi melanjutkan ceritanya. Tubuhnya semakin bergetar seperti orang ketakutan.
"Kamu tenanglah, Nak." Kamil semakin mendekat dan berusaha menenangkan Mentari. "Kenapa dengan mereka? Apa lagi yang mereka rencanakan?"
__ADS_1
"Kak Juwita berencan..." Ingatan Mentari kembali pada saat dia menguping pembicaraan Juwita dengan Alex dan Lita sehari sebelumnya.
^^^^^
Nanti malam, selepas semua orang pulang ke rumah mereka masing-masing. Aku akan membuat Mentari tidak sadar hingga esok. Aku bahkan sudah membeli obat tidur untuknya.
Dan pagi-pagi sekali, aku akan minta Bima buat datang kesini.
Siapa Bima? Tanya Alex memutuskan ucapan Juwita.
Bima itu lelaki gila yang suka ngejar-ngejar Mentari, Pak. Dia pasti tuh bisa diandalin.
Jadi... Pas Endro dan keluarganya datang, Juwita akan membuat mereka melihat Mentari seolah-olah telah berkhianat dan hanya mempermainkan mereka.
Para tamu kan udah pada datang, sementara pernikahan tidak bisa dilanjutkan. Maka di saat itulah, aku akan bersedia dinikahi oleh Endro. Secara, mana mau keluarganya dibuat malu jika pernikahan itu dibatalkan.
^^^^^
"Tapi apa tujuan mereka melakukan itu, Nak?" Tanya Kamil masih bingung.
"Kak Juwita suka sama Endro, Yah. Dan demi bisa menikah dengan Endro, dia bahkan membujuk Bapak dan Ibuk dengan menjanjikan seluruh tanah milik Ayah kepada orang tuanya." Ujar Mentari menjelaskan.
"Hah?" Endro tercengang. Dia bergidik ngeri mendengar penuturan Mentari.
Kamil mangut-mangut. Dia baru mulai paham kenapa Juwita bersikukuh ingin dinikahi oleh Endro tadinya.
"Loh, Nini. Aku cuma keras kepala soal tidak mau menikahi Juwita ya..." Bantah Endro yang merasa tersinggung mendengar pernyataan Nini tentang dirinya.
Kamil dan Nini tertawa kecil mendengar protes Endro, Sedangkan Mentari hanya sedikit tersenyum melihat tingkah malu-malu Endro di depannya.
"Ya, sudah. Sekarang kamu istirahat ya, Nak. Kami akan keluar dulu." Ujar Kamil sembari mengusap lembut kepala Mentari.
"Baik, Yah. Terima kasih..." Sahut Mentari sedikit sungkan. Kamil mengangguk kecil dan segera beranjak keluar dari kamar itu. Nini pun juga melakukan hal yang sama.
Dan tinggallah mereka berdua saat itu.
"Kenapa masih di sini? Aku kan di suruh istirahat oleh Ayah." Ujar Mentari terdengar ketus. Walau hatinya saat itu begitu senang karena berada di samping Endro.
"Kamu takut ya, jika aku menikahi Juwita?" Tanya Endro menggoda Mentari.
"Ya, iya lah aku tak..." Mentari menghentikan ucapannya. Wajahnya yang pucat itu pun tiba-tiba merona karenanya.
"Cieee... Kamu cemburu, Ya?" Ledek Endro semakin menggoda Mentari.
__ADS_1
"Iiih... Kamu apaan sih? Siapa yang cemburu?" Elak Mentari semakin gugup dan salah tingkah. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah Endro.
"Tuh... Mukanya merah. Berarti kamu benaran cemburu, kan?"
"Enggak... Aku nggak cemburu. Aku takut saja ayah akan rugi punya menantu tamak seperti kak Juwita." Elaknya tanpa mau lagi melihat ke arah Endro.
"Beneran?"
"Iya... Atau jangan-jangan kamu senang ya, jika Kak Juwita naksir kamu. Hayo ngaku..." Mentari menunjuk Endro dan memberanikan diri berpura-pura mencari kebenaran di mata Endro.
"Ih siapa juga yang senang?" Sahut Endro tampak bete mendengar tuduhan Mentari terhadapnya.
"Kenapa ketus begitu? Atau jangan-jangan benar lagi ya?" Mentari membalas menggoda Endro.
"Ih... Nggak sudi." Ketus Endro. Dia semakin bergidik ngeri kala mengingat Juwita memintanya untuk menikahi kakak angkatnya Mentari itu.
"Makanya... Jangan suka tebar pesona di depannya..." Kali itu, Mentari yang bersikap jutek terhadap Endro.
"Tebar pesona?" Endro yang merasa tidak bersalah, malah kesal mendengar ucapan Mentari.
"Iya... Kalau enggak, nggak mungkin juga Kak Juwita suka sama kamu..."
"Dia nya saja yang jelalatan, ya. Lagian, aku sudah tampan dari lahir." Aku Endro percaya diri sambil berbisik di telinga Mentari.
Mentari terkejut mendengarnya. Jantungnya berdebar tak karuan ketika wajah Endro begitu dekat dengan dirinya saat itu.
"Iiiih... Kamu apaan sih... Sana keluar... Aku sudah disuruh istirahat oleh ayah tadi..." Usir Mentari sambil mendorong tubuh Endro darinya.
"Iya... Iya... Selamat istirahat calon istriku..." Ujar Endro menyerah. Dia bangkit hendak keluar dari kamar yang dihuni Mentari.
Diam-diam, Mentari tersenyum di belakan Endro.
"Jangan senyum-senyum..." Endro tiba-tiba kembali berbalik menghadap ke arah Mentari.
Mentari gelagapan. Dia sesegera mungkin menghapus senyuman yang terpancar di bibirnya itu. "Siapa yang senyum-senyum?"
"Hehe..." Endro menyeringai. Dia kembali dan benar-benar keluar dari kamar itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.