ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
IBU


__ADS_3

Hampir setengah jam Endro berbincang di rumah Pak Arif. Dia pun akhirnya memutuskan untuk berpamitan hendak pergi dari sana.


Ketika dia bangkit, matanya tidak sengaja menatap sebuah foto yang tergantung di dinding ruang keluarga itu. Awalnya Endro bersikap Acuh, namun kepalanya refleks menoleh kembali ke arah foto itu.


Nafasnya menderu hebat. Matanya membulat seketika. "I-Ibu..." Ucap Endro lirih. Langkahnya perlahan dengan gemetar mendekati dinding tempat foto itu terpajang. Ia ingin melihat lebih dekat agar terlihat jelas oleh matanya. "I-ibuuuu..." Ucapnya lagi dengan mata mulai memerah.


Pak Arif bersama menantunya terkejut bagai tersambar petir. Mereka menatap penuh tanda tanya ke arah Endro.


"Ibu? Apa maksudmu, Nak Endro?" Tanya Pak Arif tidak lagi mampu menahan gejolak emosional yang berapi-api dari dalam dirinya.


Tangan kanan Endro terangkat pelan. Telunjuknya mengarah kepada foto yang dipanggilnya Ibu. Foto seorang gadis cantik yang tersenyum bak mawar bermekaran di sana.


"Dia... Diaaa... Dia Ibuku, Pak Arif..." Ucap Endro terdengar sengau. Suaranya yang memarau mengungkapkan Siapa wanita dalam foto itu bagi dirinya.


"Adikku Lidya adalah Ibumu, Nak Endro?" Tanya Pak Arif seakan tidak percaya mendengar pengakuan Endro.


"Lidya?" Endro tampak berpikir sesaat. "Benar... Almarhum Ayahku bilang, nama ibuku adalah Lidya, Pak." Ujar Endro membenarkan. Air matanya mengalir begitu saja saat itu.


"Almarhum ayahmu?" Lagi-lagi Pak Arif bersama anak dan menantunya dibuat tercengang oleh ucapan Endro.


Endro dengan cepat merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto kecil dari dalamnya. "Perempuan cantik ini adalah ibu saya, Pak. Benar namanya adalah Lidya. Seorang perempuan yang sangat dicintai oleh Ayah saya." Ujar Endro seraya menyodorkan foto ibunya yang tersimpan lama di dalam dompetnya.


"Berarti... Kamu ini anaknya Kamil?" Tanya Pak Arif semakin tercengang ketika melihat foto adiknya keluar dari dompet Endro.


"Pak Arif tahu Ayah saya?" Tanya Endro mulai menyadari dirinya. "Owhhh... Saya ingat, pasti Pak Arif yang sudah menjebloskan Ayah saya ke penjara kala itu, bukan? Pak Arif yang sudah membuat saya terpisah dengan Ayah saya selama empat tahun kala itu." Tuduh Endro getir. Hatinya serasa berkecamuk mengingat cerita ayahnya.


"N-nak Endro... Nak Endro putra adik kandung saya, Lidya? Berarti Nak Endro kepanakan saya..." Tanya Pak Arif lagi seakan tidak percaya. Dia mencoba mendekati Endro dan menggapai lengan Endro. Seakan-akan dia ingin menjelaskan sesuatu kepada Endro. Tapi Endro malah menepisnya dengan lembut, dia mundur dan menggeleng kecewa.


"Maaf, Pak Arif... Saya tidak mengenal siapapun keluarga ibu saya. Semenjak saya tahu bahwa ibu saya tidak mungkin kembali lagi, saya percaya hanya ada Ayah saya dalam hidup saya." Tegas Endro berurai air mata.


Anak dan menantu Pak Arif ikut menangis menyaksikan drama yang terjadi di depan mereka saat itu.

__ADS_1


"Nak Endrooo..." Panggil Pak Arif berusaha mencegah langkah Endro.


"Pak Arif begitu tega menjebloskan Ayah saya ke dalam penjara. Membuat saya merasakan menjadi anak yatim piatu selama empat tahun. Beruntung ada nenek-nenek yang menjaga dan merawat saya kala itu. Kalau tidak..." Ucapan Endro menggantung. Dia sendiri tidak tahu akan jawaban apa yang ia punya untuk pertanyaannya sendiri.


"Maafkan saya, Nak Endro. Saya tahu, saya salah. Tapi saya benar-benar tidak tahu jika adik saya, ibu kamu mempunyai anak kala itu. Dia bahkan tidak pernah mengabariku sekalipun semenjak dia menikah dengan Ayahmu, Nak..." Ungkap Pak Arif memelas. Tampak penyesalan saat itu di wajah tuanya.


Endro tidak memerdulikan ucapan Pak Arif lagi. Dia tetap melangkah meninggalkan rumah itu dengan kecewa yang tergurat jelas di wajahnya.


Melihat kesedihan yang terpancar di wajah Pak Arif, putranya pun memberikan anaknya kepada istrinya. Dia berusaha mengejar Endro sampai ke gerbang rumahnya.


"Tuan... Tuan Endro... Tolong berhenti sebentar... Dengarkan penjelasan dari saya, tuan." Panggil lelaki itu berusaha menghentikan laju mobil yang di kendarai Endro.


Dengan terpaksa, Endro menghentikan mobilnya. Dia mengeluarkan sedikit kepalanya dan meminta lelaki itu menjauh agar tidak celaka.


"Saya tidak peduli tentang apa yang akan terjadi pada diri saya, Tuan. Saya hanya ingin agar Anda mendengar penjelasan dari saya terlebih dahulu." Pinta lelaki itu dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Memangnya Anda tahu apa, hah?" Tanya Endro ketus tanpa berniat untuk turun dari dalam mobilnya.


Endro terdiam. Dia berpikir sejenak dan pada akhirnya memutuskan untuk membuka mobilnya dan keluar dari dalamnya.


"Terima kasih, Tuan..." Ucap lelaki itu merendah.


"Namaku Endro... Panggil dengan sebutan itu." Perintah Endro dingin.


"Eh? M ba-baik, Endro..." Ucap lelaki itu gugup. "Saya Hanan..." Ujarnya mengenalkan dirinya kepada Endro.


Endro hanya mengangguk pelan.


"Ceritakan..." Perintah Endro terdengar ketus.


"Pernikahan Bibi Lidya dan Paman Kamil memang tidak direstui Nenek, tapi kakek merestui mereka.

__ADS_1


Mereka pun menikah tanpa pesta mewah. Setelah pernikahan mereka, Paman Kamil membawa Bibi Lidya ke kotanya. Hal yang membuat Nenek semakin tidak suka kepada Paman.


Suatu hari, kakek meninggal. Dan Papaku menghubungi Bibi. Dan saat itulah duka semakin besar menimpa keluarga ini. Kematian Kakek, dan kabar mengenai kecelakaan yang dialami Bibi Lidya.


Bagaimana mungkin Nenek merasa tidak terpukul karenanya. Jalan satu-satunya hanya melampiaskan kemarahannya kepada Paman Kamil.


Papaku sebenarnya tidak tega. Tapi demi nenek, dia pura-pura marah kepada Paman dan menjebloskan beliau ke dalam penjara.


Papa pikir, tanpa pengetahuan Nenek, papa membebaskan paman dalam waktu yang tidak seharusnya ia dibebaskan.


Paman dibebaskan dalam waktu satu tahun tahanan, Endro..."


"Tidak... Kamu berbohong." Bantah Endro. "Kenyataannya ayah saya dipenjara selama empat tahun."


"Kamu bisa cek sendiri kalau tidak percaya. Paman sendiri yang tidak ingin dibebaskan. Karena paman begitu terpukul dan merasa bersalah telah membiarkan bibi pergi sendirian kala itu.


Paman seperti orang stres yang selalu menunggu kedatangan bibi untuk datang menjemput dirinya ke dalam sel." Ujar Hanan meyakinkan Endro.


Endro terdiam. Air matanya semakin menderas membasahi pipi hingga ke baju yang dikenakannya.


"Saya bertanya kepada Nenek tentang siapa yang ada dalam foto itu. Dan beliau menceritakan semuanya kepada saya. Nenek tidak sebenarnya marah. Nenek hanya bersedih merasakan duka yang begitu dalam dihatinya sebagai seorang istri dan ibu yang ditinggal secara bersamaan oleh suami dan putrinya kala itu." Ungkap Hanan mulai terisak.


Endro hanya terlihat bingung antara percaya atau tidak. Dia mundur beberapa langkah. "Saya butuh waktu untuk ini." Ucapnya dan segera masuk kembali ke dalam mobilnya. Endro meninggalkan pekarangan rumah itu tanpa mengcapkan pernyataan apa pun.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2