ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
KABAR BAHAGIA


__ADS_3

Aku tidak pernah berpikir, bahkan gerimis saja mampu membasah kuyup kan sekujur tubuh. Lalu Bagaimana jika dia adalah hujan? Bukankah itu akan lebih menyakitkan?


Aku meninggalkan banyak impianku, demi memenuhi sebuah janji. Dan hanya karena aku melihat ketulusan di mata Ayah. Saat itu Ayah menyerahkan Sepetak tanah yang Begitu Berharga baginya kepada Pak Alex, demi Mentari.


Aku tahu, mungkin Ayah bisa menerimanya. Tetapi tidak denganku.


Mentari... Banyak hal yang kami korbankan untukmu. Maka kumohon... Nikmatilah ini semua sebagai balasannya untuk kami.


Jangan pernah lagi menderita.


Pagi. Entah berapa kali pagi Semenjak itu. Endro melihat Mentarinya begitu anggun dengan gaun mini yang dikenakannya saat itu. Dia berjalan Santai dengan penuh kebahagiaan ke arah Endro. Ketika dirinya telah sampai di posisi suaminya, lengannya yang panjang dan halus melingkar di leher suaminya itu. Rambutnya yang tergerai indah itu pun ikut menyentuh naluri Endro.


Matanya berbinar menatap wajah suaminya yang masih terpana menyaksikan indah senyuman di bibirnya. Ada sesuatu yang perlu Endro ketahui mengenai masalah di dalam hatinya kala itu.


Dia terlihat terpesona, dia terpukau untuk pertama kalinya Setelah sekian kalinya mereka bersama.


"Endro..." Panggil Mentari halus dengan berbisik ke telinga Endro. Suaranya bagai menggetarkan jiwa suaminya yang kaku itu.


"Endro..." Panggil Mentari lagi Seraya menggoyangkan tubuh Endro yang masih terdiam karena pesonanya.


"Eh i-iya..." Sahut Endro gugup. Matanya tak berhenti menatap wajah Ayu istrinya. Mentari tersenyum, dia duduk di pangkuan Endro dan bersama-sama menatap keluar jendela untuk sejenak.


Entah ada apa lagi ini? Kenapa adrenalinku tidak menolak?~ Endro membatin. Lengannya yang kekar ikut melingkar di pinggang Mentari. Dia sedikit menengadah untuk melihat wajah istrinya yang tampak berbeda kali itu.


"Ada apa?" Tanya Endro begitu lunak. Jantungnya terasa berdebar tak karuan di saat itu.


"Aku ingin menyaksikan sebuah kebahagiaan yang akan terpancar di wajah suamiku. Aku tahu, beberapa hari ini kamu begitu lelah." Ucapan Mentari seakan membawa suaminya untuk berteka-teki.

__ADS_1


Namun saat itu yang Endro begitu sabar menyikapi hatinya yang terasa gelisah karena tekanan perasaan nya sendiri.


"Apa selama ini aku tampak tidak bahagia di matamu?." Tanya Endro mendikte istrinya.


"Aku tidak bilang begitu... Aku hanya bilang kamu terlihat lelah beberapa hari ini..." Mentari sedikit bersungut menanggapi ucapan Endro yang terdengar Ketus di telinganya.


Tawa Endro terberai seketika. Wajah istrinya saat itu mengingatkannya ketika ia masih di SMA kala itu. Suka cemberut dan mudah marah.


"Kamu begitu sensitif. Aku bahkan hanya ingin bertanya." Balas Endro sembari mengambil tangan kanan istrinya. Dia mengelusnya dengan lembut agar Mentari kembali tenang karenanya.


"Jika seandainya aku bertanya, akankah kamu menjawabnya?" Tanya Mentari sambil memainkan matanya yang berdelik menghadap ke langit-langit kamar itu.


"Asalkan pertanyaannya tidak susah..." Sahut Endro datar. "Tapi kamu mau bertanya apa dulu?"


"Apa hal yang paling membahagiakan dalam hidupmu?" Tanya Mentari seperti berharap.


"Aku hamil..."


Hening.


Suasana bagai waktu yang terhenti seketika. Tatapan Endro begitu dalam mengarah ke wajah Mentari yang berada dekat dengan wajahnya saat itu.


Endro menghentakkan nafasnya yang terasa tersekat saat itu. Dia mencoba untuk tersenyum dari keterkejutannya. Matanya memerah. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Mentari.


"Ini... Tidak mimpi, kan?" Tanyanya begitu gugup mendengar kabar bahagia itu.


Mentari tersenyum. Dia begitu terharu menapaki reaksi yang terlukis di wajah suaminya. Begitu bahagia menurutnya. Dia menggeleng seketika. Tangannya yang halus mengapit pipi Endro.

__ADS_1


"Ini tidak mimpi, Endro. Aku benar-benar tengah hamil saat ini. Nini yang memeberitahukanku." Ujar Mentari meyakinkam Endro.


Endro semakin memperlebar senyumannya. Dia membenamkan wajahnya ke ceruk leher istrinya yang berjenjang.


"Terima kasih, Mentari. Terima kasih atas kabar bahagia ini." Ucap Endro mempererat lingkaran tangannya di pinggang Mentari.


"Kamu benar-benar bahagia?" Tanya Mentari begitu kagum melihat cairan bening yang berlinangan di pelupuk mata suaminya itu.


Endro mengeluarkan istrinya itu dari pelukannya. "Hanya sebuah kesalahan dari lelaki buruk yang tidak bahagia mendengar kabar tentang kehamilan istrinya. Hanya lelaki bodoh yang tidak berbahagia mendengar kabar bahwa dia akan menjadi seorang Ayah, Sayang."


Mentari terpana. Kata sayang untuk pertama kalinya terdengar dari mulut suaminya itu.


"Sa-sayang?"


"Iya... Sayang. Kita sudah menikah. Sudah sepatutnya kita saling memanggil dengan kata itu, bukan? Apalagi kita akan memiliki anak. Kamu mau memanggil suamimu ini seperti itu?" Tanya Endro sembari mengelus lembut pipi Mentari.


Mentari mengangguk pelan. Dia tidak ragu, hanya saja dia sedikit malu.


"Terima kasih, Sayang. Aku janji, aku akan lebih giat lagi untuk kamu dan anak kita." Ikrar Endro kembali memeluk Mentari.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2