
Endro tampak gusar. Dia terlihat begitu gelisah pagi itu. Semua teman-temannya yang juga ikut serta dalam perkemahan, telah berada di pekarangan sekolah.
Namun, pagi itu dia sama sekali belum melihat gadis berwajah pucat itu datang. Padahal, pembina mereka telah memberitahukan bahwa bus yang akan membawa mereka sudah hampir sampai untuk menjemput.
Dan benar saja, belum sepuluh menit bus itu sudah terparkir di depan gerbang.
Aduh... Mentari dimana? Kenapa dia belum datang juga? Apa Pak Alex tidak jadi mengizinkannya?~ Berbagai pertanyaan bermunculan di benak Endro. Rasa khawatir juga ikut menyerang dirinya.
"Endro... Kenapa kamu masih melamun? Ayo naik..." Tegur salah seorang gurunya yang juga ikut menjadi pengawas di acara perkemahan itu.
"Ba-baik, Pak." Sahutnya gugup. Dengan perlahan, Endro masuk ke dalam mobil. Dia terlihat kecewa saat itu.
Bus itu pun akhirnya melaju dengan perlahan. Tapi, dengan tiba-tiba kembali berhenti.
Senyum Endro kembali merekah ketika mendapati sosok Mentari. Matanya tak berkedip menatap ke arah gadis itu.
"Boleh duduk disini?" Tanya Mentari kepadanya. Endro mengangguk. Kebetulan, kursi di sebelahnya juga kosong. "Makasih..."
"Kamu baik-baik saja, bukan?" Bisik Endro ketika Mentari sudah duduk di sebelahnya.
"Aku baik..." Sahut Mentari ikut berbisik.
"Syukurlah kalau begitu... Aku bahkan sampai terlalu mengkhawatirkan dirimu." Mentari tersenyum mendengar pengakuan Endro.
Hanya dengan waktu sepuluh menitan, jarak tiga kiloan dari sekolah ke perbatasan pun dapat ditempuh oleh bus itu. Mereka telah sampai ke lokasi perkemahan.
"Wuuuah... Bebas..." Seru Mentari ketika telah berada disana. Dia menghirup dalam udara segar yang berhembusan di bawah pohon-pohon rindang daerah itu.
__ADS_1
Dari kejauhan, Endro tersenyum melihat tingkah gadis itu. Endro mendekat. Dengan sengaja, dia menyenggol bahu mentari hingga tubuh ramping itu pun sedikit terhuyung karenanya.
"Endroooo." Bisiknya dengan geram.
"Kenapa?" Tanya Endro cuek. Dia tidak memerdulikan kekesalan di wajah gadis itu. "Seperti baru keluar dari penjara saja."
"Aku bahkan baru keluar dari neraka..." Gerutu Mentari. Dia beranjak meninggalkan Endro yang menyeringai senang melihat tingkah lucunya itu.
Meski hanya untuk dua malam, setidaknya kamu bisa merasakan kebebasan disini. Aku akan membuat kamu menikmatinya, Mentari.~ Gumam Endro membuat janji dengan dirinya sendiri.
Mereka semua disibukkan dengan tugas masing-masing yang telah dibagi oleh pengawas mereka. Dan Endro mendapat tugas untuk mencari kayu di hutan bersama rombongannya. Sedangkan Mentari dan rombongannya mencari dimana sumber air terdekat.
Sementara, sisanya mendirikan tenda disana.
Endro terus mencari, hingga dia tidak sadar telah terpisah dari teman-temannya.
"Jika ada kesempatan, aku akan mengajak Mentari kesini." Gumam Endro seraya turun ke tepian danau.
"Nah... Sepertinya kayu itu mati." Ujar Endro menatap sebuah pohon. Di pohon itu terdapat ranting yang sudah patah dari pohonnya dan terkulai ke bawah.
Ketika Endro berusaha memotong ranting itu, sebuah benda menimpa kepalanya.
"Aww... Apa itu?" Jeritnya. Dia mengumpat kecil karena menahan rasa sakitnya.
"Kotak apa itu?" Endro menatap tajam ke arah kotak yang ditemukannya. Dengan sedikit ngeri, dia meraih kotak itu dan membukanya.
"Kertas?" Endro mengambil salah satu dari beberapa lembar kertas yang ada di dalamnya. Dan perlahan membukanya. Endro terkesiap ketika membaca sedikit tulisan di awalnya.
__ADS_1
Dear Endro...
"Endro...? Apa yang dimaksud dalam surat ini adalah Endro namaku?" Batinnya. Dia kembali melanjutkan membaca isi kertas itu.
Maaf End... Aku keterlaluan mengataimu anak pungut, ya? Hanya saja, aku belum bisa berhenti untuk itu. Jujur, aku hanya iri denganmu, End.
Kalau bisa, beri aku maaf di lain waktu.
Bukan aku tidak mengerti perasaanmu. Tapi dengan mengataimu seperti itu, tidak akan mengurangi kebahagiaanmu memiliki ayah sebaik ayahmu, bukan?
Andai orang tuaku masih hidup... Mungkin aku tidak akan semenderita ini. Hanya saja, dengan tidak adanya mereka, aku bisa mengenali dirimu.
Aku berharap, suatu hari nanti kita bisa berteman. Tapi, tolong sedikit tersenyumlah. Aku menjadi urung untuk meminta maaf kepadamu, jika kamu masih jadi lelaki pendiam seperti itu.
Dariku, Mentari yang gelap...
"Mentari? Kenapa ada ini disini? Apa dia sering berkunjung kemari? Tapi bagaimana mungkin?" Endro tampak berpikir keras. Namun, dia tak kunjung menemukan jawabannya. Hingga dia memutuskan untuk membaca surat-surat itu kembali sampai habis.
.
.
.
.
.
__ADS_1