
Malamnya hujan turun begitu deras. Awalnya, rintikan air yang jatuh dari langit itu terdengar merdu menimpa atap rumah, perlahan dan berirama. Namun seiring waktu berlalu, kilat menyambar bersahut-sahutan dengan suara Guruh yang terdengar menggelegar. Lama-kelamaan suara rintikan itu pun berubah menyeramkan.
Bukan hanya serasa menghancurkan gendang telinga gadis tujuh belas tahunan itu saja, akan tapi seakan mampu menembus hati dan jantungnya. Dia terlihat panik mendengar suara air yang berpacu menimpa atap kamarnya, meski telah dilapisi plafon sekalipun.
selepas Isya, Nummi beristighfar beberapa kali. Dia takut jika hujan kali itu berubah menjadi azab yang diturunkan Tuhan ke bumi.
Nummi bergegas membuka kain putih yang membalut tubuhnya dan menutupi seluruh auratnya itu. Dia segera berlarian memanggil lelaki paruh baya pemilik rumah yang ditinggalinya untuk sementara semasa dia berlibur disana.
"Om Endro… Om… Om Endro..." Dia berlarian kesana kemari di setiap sudut ruang rumah itu. terlihat sekali dia begitu cemas dan mencari-cari.
"Nummi… Om Disini, Nak." Tubuh lelaki paruh baya itu segera memeluknya dan menenangkan jiwanya yang terlihat sedikit tergoncang.
"Nummi takut, Om". Adunya dengan suara yang bergetar, seirama dengan tubuhnya yang gemetaran.
"Iya… Om tahu, sayang. Maaf, tadi Om masih salat. Hujannya begitu tiba-tiba, Nak." ujar Endro mengusap lembut bahu gadis itu. "Hemm... Kalian bertiga sama. Samaaa persis. Sama-sama takut dengan hujan petir…" ujar Endro Seraya memapah Gadis itu ke ruang tengah. Ya, Nummi begitu manja. Rasa takutnya membuat dia enggan melepaskan tubuh kekar Omnya itu.
"Apa Bibi Mentari juga, Om?" Tanya Nummi Seraya melepaskan dirinya dari dekapan Endro.
"Iya..." Sahut Endro sembari mengganggukkam kepalanya.
"Dan Om tahu, jika Bunda juga sama?." Tanyanya lagi dengan raut kebingungan.
"Tahu... Om pernah melihatnya sekali. Waktu itu sebelum Bundamu kecelakaan. Walau semarah apa pun dia terhadap Ayahmu, tapi rasa takutnya akan tetap membawanya berlindung ke dalam dada Ayahmu itu." Tutur Endro. Dia sedikit tersenyum mengenang momen itu.
"Ah... Benar. Ayah juga sudah menceritakan itu semua kepada, Nummi. Jadi, kalau Bibi Mentari bagaimana, Om?" Tanya Nummi seraya memasang alat pendengarannya dengan tajam.
"Semenjak Om tahu bahwa dia takut petir, Om menjadi semakin membenci keadaannya. Ingin rasanya, Om membawa Mentari pergi dari dunianya. Entah bagaimana jika petir datang, tapi dia dalam masa hukuman oleh Bapaknya."
*****
Hari kedua di perkemahan. Pagi itu mereka akan mengadakan penjelajahan. Mereka ditugaskan mengumpulkan kertas-kertas yang telah ditulisi kata-kata perintah dengan tulisan sandi di setiap posko yang akan mereka lewati.
Begitu mengasyikkan bagi mereka. Selain menjelajahi alam, mereka juga akan memecahkan sandi-sandi itu untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh pengawas mereka di perjalanan berikutnya.
Siswa-siswi akan dibagi menjadi beberapa regu, yang masing-masingnya terdiri dari lima orang. Sayangnya Endro dan Mentari tidak seregu. Namun begitu, sesuai janji Mentari, dia akan unjuk diri dulu ke hadapan Endro dan menyatakan jika dirinya baik baik saja.
Endro mengangguk. "Kamu hati-hati, dan jangan memisahkan diri." Bisiknya dari kejauhan ketika regu Mentari berangkat lebih dahulu, setelah menemukan sandi yang mereka cari.
__ADS_1
Mentari mengacungkan jempolnya seakan mengerti.
Hmm... Senang sekali rasanya, bila melihat dia tersenyum seperti itu. ~ Batin Endro. Setelah Mentari benar-benar tidak terlihat lagi oleh matanya, Endro kembali mencari kertas sandi itu.
"Ketemuu..." Seru salah seorang teman regunya. Endro terlihat girang dan segera menghampiri mereka.
Dengan bersama-sama, mereka memecahkan huruf sandi di dalam kertas kecil yang di temukan temannya itu.
"BERSIHKAN SELURUH PERKEMAHAN INI TERLEBIH DAHULU, SEBELUM KALIAN MELAKUKAN PENJELAJAHAN."
"Haahhh?" Mereka semua berdengus.
"Ya sudah teman-teman... Kita selesaikan cepat, biar bisa menyusul regu lainnya." Ujar Endro menenangkan teman-temannya. Padahal hatinya juga kesal saat itu. Dia begitu ketinggalan jauh oleh regunya Mentari.
"Baiklah..." Sahut yang lainnya menyerah.
Hampir seperempat jam, regunya Endro akhirnya menyelesaikan tugasnya. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah panah yang telah ditentukan di dalam peta yang mereka pegang. Setiap regu akan memiliki satu.
Ketika sampai di posko ke dua, Endro tidak lagi menemukan regunya Mentari. Mereka telah terlebih dahulu menuju posko ke tiga.
Di posko ke dua, Endro dapat menemukan kertas sandinya dengan cepat. Dan perintahnya pun lebih mudah. Mereka hanya diminta untuk menyanyikan salah satu lagu wajib nasional saja, dan kala itu mereka memilih lagu 'Hari Mardeka'.
Mentari ternyata masih di posko ini.~ Gumamnya.
Namun, ketika regu Mentari telah menemukan kertas sandinya, Endro tidak kunjung melihat gadis itu.
Mentari kemana~ Gumamnya lagi dengan raut kebingungan.
Bahkan sampai regu itu menyelesaikan tugas mereka, Endro tak kunjung melihat Mentarinya.
"Winda..." Panggilnya ke salah seorang teman seregu dengan Mentari.
Perempuan yang dipanggilinya Winda pun menghentikan langkahnya. Tidak hanya dia, teman-temannya yang lain juga ikut menghentikan langkah mereka.
"Iya, ada apa, End?" Tanya gadis itu menoleh ke arah Endro.
"Bukankah Mentari seregu dengan kalian?" Tanyanya.
__ADS_1
"Iya..." Sahut gadis itu lagi.
"Lalu... Kemana Mentari?" Tanya Endro semakin terlihat khawatir.
"A..." Gadis itu hendak menunjuk ke belakang, namun dia berubah kebingungan. Matanya celingak-celingukan seakan tengah mencari. "Mentari kemana?"
Mereka terlihat saling pandang. Endro yang melihat itu segera mendekat ke arah mereka. "Kemana Mentari, Win?" Tanyanya lagi terlihat panik.
"A-aku tidak tahu, End. Tadi dia ada bersama kami..." Ujar gadis itu seraya diikuti anggukan kepala dari teman-temannya yang lain.
"Ada apa ini?" Tanya salah seorang pengawas yang ada di posko itu. Ya, setiap posko akan memiliki dua pengawas laki-laki.
"Me-Mentari hilang, Pak." Adu mereka dengan gugup.
"Apa? Hilang? Kenapa bisa?" Tanya pengawas itu ikut panik.
"Kami tidak tahu, Pak. Tadi dia ada bersama kami kok, Pak." Ujar Winda panik dan terlihat merasa bersalah.
"Ya, sudah. Karena kalian regu terakhir yang tertinggal, bapak mohon sama kalian agar mau membantu pencariannya." Ujar pengawas itu.
"Baik, Pak." Sahut mereka serentak.
"Regu kalian akan dipimpin oleh saya..." Ujar pengawas itu sambil menunjuk kepada regunya Mentari. " Sedangkan regu kalian, akan dipimpin oleh Pak Dio." Ujarnya menunjuk ke arah regunya Endro.
"Pak Dio, apa Bapak sudah menulis pesan? Mungkin dengan itu, jika kita belum menemukan Mentari hingga matahari terbenam, bala bantuan akan datang." Ujarnya.
"Sudah, Pak Willy. Saya sudah menempelkannya ke dinding posko." Sahut pengawas bernama Dio.
"Baiklah... Sekarang, kita mulai bergerak untuk mencari Mentari." Perintahnya lagi.
Endro terlihat begitu cemas. Pikirannya tidak tenang saat itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.-