ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
TERLAMBAT MENYADARI


__ADS_3

"Alhamdulillah... Hari ini aku pulangnya tidak terlalu sore seperti biasanya..." Ucap Endro lagi dan lagi sedari tadi, setelah berkali-kali mengucapkan syukur karena hasil panennya telah terjual habis dalam waktu singkat.


Yaa Allah... Entah kenapa rasanya aku begitu merindukan Mentari pada hari ini?~ Batin Endro. Dia begitu tertekan dengan perasaannya sendiri karena terlalu memikirkan Mentari, istrinya.


Di jalanan sepi, Endro dengan gesit menginjak pedal rem mobilnya, ketika seekor kucing melintas dari arah kanan jalan ke depan mobil tua milik Ayahnya yang dia kemudikan saat itu (Kepercayaan sebahagian orang mengenai firasat buruk yang akan terjadi kepada dirinya atau bahkan bisa jadi keluarganya).


"Astaghfirullah... Apa ini?" Ucap Endro begitu terkejut. "Kenapa perasaanku semakin tidak karuan begini?" Ucapnya sendiri semakin gundah.


Jantungnya berdetak tak karuan. Hati Endro pun merasa tidak tenang karenanya. Tubuhnya menggigil memikirkan apa-apa yang tidak mampu ia bayangkan saat itu.


Endro kembali hendak melajukan mobilnya, namun dengan tiba-tiba mesin mobilnya mendadak mati. Berkali-kali Endro mencoba menstater, tapi usahanya sama sekali tidak berhasil.


Taqdir. Ya, taqdirlah yang membuat itu semua. Skenario Tuhan yang ia jalani saat itu tanpa ia sadari misteri apa yang tengah bergulat di masa depannya.


"Yaa Allah... Apa lagi ini?" Gumamnya semakin risau, gelisah dan resah.


"Semoga ini bukan petanda buruk, Yaa Allah..." Pintanya kepada Yang Kuasa sambil mengusap kasar wajahnya, memberikan ketenangan di hatinya yang cemas.

__ADS_1


Endro turun dari mobilnya untuk memeriksa mesin di kepala mobilnya itu. Beberapa kali dia mencoba mengotak-atik, tapi wajahnya terus saja tampak kebingungan.


Dia membuang kasar nafasnya seakan menyerah. Dan di saat itulah pertemuan pertamanya dengan Ridwan Ghani, almarhum Opanya Nummi. Orang asing yang baik, yang memberikan dirinya tumpangan kala itu.


*****


"Begitulah ceritanya, Nak. Selanjutnya, Kamu pastinya sudah tahu, kan? Ya, di saat itulah Om bertemu dengan almarhum opamu. Beliau memberikan tumpangan kepada Om sampai ke rumah ini." Endro terisak pilu. Meski dia tidak lagi melanjutkan ceritanya, tapi dia dan Nummi tahu akan kelanjutannya.


Nummi mengangguk-angguk cepat. Dia juga tidak akan sanggup jika mendengarnya dari mulut Endro sendiri. Bahkan berkali-kali Ayahnya menceritakan tentang akhir hidup Mentari, berkali-kali itu pulalah dia menitikkan air mata.


"Maaf, Om... Maafin Nummi... Hiks... Hiks... Hiks... Nummi minta maaf Om..." Berkali-kali Nummi meminta maaf. Dia ikut terisak mendengar cerita Endro. Dengan segera, ia merangkul lengan Endro dan bersandar di bahu yang masih terlihat kekar milik lelaki paruh baya di sampingnya itu.


"Om tidak tahu, entah kenapa rasa sakit yang Om rasakan sekarang, jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Rasanya sakit sekali... Bahkan, akhir-akhir ini Om sengaja lari. Tapi tetap saja, Om ingin kembali ke masa itu...


Dan sekarang Om Sadar kenapa... Om sadar... Bahwa seseorang yang datang ke dalam hidup kita, adalah suatu hal yang besar pengaruhnya bagi diri kita daripada segala materi yang kita miliki. Karena seluruh hidupnya juga ikut datang bersama dirinya.


Dan jika kita tidak mampu menjaganya, maka terlambat... Kita akan menyadari bahwa seluruh jiwa kita yang hidup akan mati dan ikut pergi bersamanya..." Tutur Endro terdengar getir.

__ADS_1


"Menangislah, Om. Jika menangis bisa membuat Om lega..." Pinta Nummi sembari mengusap-usap pundak Endro.


"Sekarang Om menyesal. Sekarang... Baru sekarang Om menyesal, Nak..." Isak Endro semakin menjadi-jadi.


Mentari... Yaa Allah... Mentari... Maafkan aku, Sayang... Aku tidak pernah sadar akan perasaan aku selama ini...~ Batin Endro.


"Semua keinginannya terkabul, Sayang. Keinginannya untuk mati dalam pelukan Om pun juga terpenuhi saat itu. Om menyesal... Om menyesal baru menyadari ucapan-ucapan terakhirnya kala itu adalah petanda bahwa dia akan pergi untuk selamanya." Ucap Endro terdengar bergetar hebat. Dia tersedu-sedu membayangkan kesalahannya di masa lalu, kesalahan karena tidak pernah menyadari akan firasat yang telah ditunjukkan Mentari pada saat-saat terakhir kali bagi mereka bersama.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2