
Siang itu, sekolah hampir usai. Guru kelasnya menulis di papan tulis untuk memberikan soal PR untuk mereka.
Namun, ketika guru itu usai, Mentari juga menyelesaikannya. Dia segera bangkit dan memberikan bukunya ke guru itu.
"Loh Mentari... Ibu kan sudah bilang, kalau PR itu di kerjakan di rumah." Ujar guru itu.
"Sama saja kan buk... Mau saya kerjakan di rumah, ataupun disini. Yang penting saya tidak mencontek. Lagian saya ini pintar, saya rasa semua jawaban yang saya buat benar semua kok." Sahut Mentari terlihat begitu angkuh.
"Tapi ini pekerjaan rumah, dan kamu harusnya mengerjakannya di rumah. Kamu bisa mengerjakannya sambil belajar lebih lagi. Atau kamu bisa membantu teman-teman kamu yang belum mengerti, jika kamu memang pintar." Guru itu tampak tak habis pikir melihat tingkah Mentari.
"Saya malas, Buk. Pulang sekolah itu waktunya bermain, masa belajar terus. Di sekolah belajar, di rumah juga belajar. Membosankan..." Gerutunya seraya hendak memutar tubuhnya untuk keluar dari kelas itu.
"Mentari..." Panggil guru itu lagi setengah berteriak. "Apa perlu orang tua kamu didatangkan menghadap guru kepala, hah...?"
Mentari menghentikan langkahnya. Dia kembali menoleh ke arah guru itu.
"Orang tua saya sibuk. Kalau mau mendatangkan orang tua, orang tua anak pungut itu saja. Biar sekalian cari tahu dia anak siapa..." Makinya sembari menoleh ke arah Endro.
__ADS_1
"Mentariiiii..." Teriak Endro geram seraya bangkit dan memukul meja. wajah hingga ke daun telinganya memerah. Matanya tampak berkaca-kaca. Dia merasa, gadis itu sudah sangat keterlaluan.
Semua orang terdiam melihat reaksi Endro. Sedangkan gadis itu hanya berpura-pura acuh saja.
"Asal kalian semua tahu, terutama kamu Mentari... Aku bukanlah anak pungut seperti yang kalian tuduhkan. Dia adalah ayah kandungku, sedangkan ibuku..." Bendungan di mata Endro bocor. Akhirnya cairan bening itu tumpah dengan sendirinya.
Raut wajah Mentari mulai berubah. Dia tampak canggung seketika. Namun, tidak beberapa lama, dia kembali mendapati wajahnya yang acuh dan pongah.
"Kenapa? Kamu tidak bisa mengatakan dimana ibumu, bukan? Itu artinya... Kamu hanyalah an..."
"Kata ayah dan Nini, ibuku jatuh dari pesawat ketika aku masih bayi... Dan jasad ibuku tidak ditemukan sampai detik ini... Orang-orang disini tidak ada yang tahu, kecuali ayahku dan Nini saja..." Potong Endro cepat. "Ayahku bukan tipikal orang yang suka membagi kisahnya kepada orang lain..." Tambahnya lagi.
Masih ada sebagian warga kelas Endro yang tetmangu mendengar penjelasan Endro. Rasa bersalah terpancar di wajah mereka-mereka.
"Endro..." Panggil Guru seraya mendekat kepadanya. Endro masih berdiri mematung disana. "Tidak ada seorang pun yang mengerti jalan pikiran wanita. Ibu saja sebagai guru, tidak mengerti dengan Mentari. Dia memang seperti itu, tetapi siapa yang tahu jika dia menyimban berbagai polemik di dalam dirinya.
Orang seperti dirinya hanya butuh di mengerti. Sepertinya dia hanya usil, tapi dia tidak jahat. Semoga kamu bisa memaafkannya ya, End." Tutur guru itu berharap dengan bijak kepada Endro.
__ADS_1
Endro menepiskan senyuman tipisnya. Dia sedikit mengangguk.
"Ya sudah... Sekarang kemasi buku-bukumu. Dan pulanglah..." Ujar guru itu lagi seraya pergi meninggalkan Endro.
Endro menurut, dia membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tasnya. Dia melangkah meninggalkan kelas yang telah mulai kosong itu.
Kenapa aku merasa, dia lebih tersakiti daripada aku sendiri?
Buk Yati benar... Tidak ada seorang pun yang bisa mengerti perasaan orang lain, apalagi, dia adalah seorang wanita...
.
.
.
.
__ADS_1
.