ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
TEPIAN DANAU


__ADS_3

Empat hari berlalu. Siang itu, Nummi terlihat cekikikan sambil memandangi layar ponselnya. Di dalam layar itu, tampak Silvi tengah cemberut mendengar setiap ocehan Nummi tentang kebahagiaannya selama liburan di rumah Endro.


Nummi yang menyadari adik sepupunya itu terlihat setengah kesal, dia malah semakin memanas-manasinya.


"Oh iya, Sil. Sore ini, Om Endro bakalan ngajakin kak Nummi ke Danau loh. Hmm pasti seru... Jadi nggak sabaran dek kakak, nungguin Om Endro pulang." Tawanya tertahan. Dan matanya mendelik takut menatap sorot mata Silvi dari balik layar pipih yang digenggaminya.


"Disini juga seru kok, Kak... Ada pantai, pegunungan, trus juga ada taman lagi." Silvi berusaha tak kalah heboh menceritakan liburannya.


"Yang pasti, disana tidak ada Kakak, bukan?" Potong Nummi cepat.


"Ahh... Kakak menyebalkan..." Gerutu Silvi semakin terlihat kesal.


Deru mesin beroda empat terdengar berhenti di pekarangan rumah yang di tempati Nummi saat itu. Hatinya semakin girang karenanya.


"Nah, Om Endro datang, Dek. Kakak akan pergi sama Om Endro dulu ya. Nanti kita sambung lagi..." Ujarnya hendak menyelesaikan obrolan mereka.


"Tunggu, Kak... Bisakah Silvi bicara sama Om Endro?" Pinta Silvi menahan agar Nummi tidak mengakhiri panggilan teleponnya.


"Ok... Baiklah... Kamu tunggu ya." Ujar Nummi seraya berlarian ke ruang depan.


"Om Endro..." Panggil Nummi ketika mendapati Endro yang juga baru saja masuk ke dalam rumah.


"Iya, Sayang? Kenapa kamu lari-lari, Nak?" Sahut Endro seraya mendekat ke arah Nummi.


"Kita jadi pergi sore ini kan, Om?" Nummi bukannya memberikan ponselnya kepada Endro, tetapi dia malah memastikan Endro untuk tidak lupa dengan janji yang telah dibuatnya kemaren.


"Oh... Tentu tidak dong, Nak. Lepas Ashar, Ya. Dua puluh menit lagi." Ujar Endro sambil mengacak anak rambut Nummi.

__ADS_1


"Om Endroooo..." Merasa diabaikan, akhirnya Silvi mengeluarkan suara cetarnya dari dalam speaker ponsel itu.


"Hah? Kamu sedang ada panggilan dengan Silvi, Nak?." Tanya Endro sedikit terkejut.


"Eh iya..." Nummi kembali mengangkat ponselnya, dan menghadapkan layar yang ada gambar Silvi itu ke depan wajahnya.


"Sorry... Kakak lupa, Sil." Ujarnya cengengesan sambil menutup giginya yang sedikit terbuka.


"Yaa, aku paham. Kakak kan sekarang sudah berubah menjadi kakak yang super menyebalkan..." Gerutu Silvi.


Endro ikut tertawa mendengar suara gadis itu.


"Kenapa marah-marah, Sayang?" Panggil Endro ketika telah menerima ponsel dari Nummi.


Nummi mengisyaratkan kepada Endro untuk cabut ke dalam kamarnya terlebih dahulu, dan disambut sedikit anggukan kepala oleh Endro.


*****


"Waaahh... Danau ini semakin ramai saja ya, Om." Gumam Nummi terlihat begitu bahagia melihat keramaian disana.


"Iya, Nak. Sekarang juga sudah ada pedagang yang berjualan disini." Endro menyahuti ucapan Nummi yang terkagum-kagum memandangi suasana di sekitarnya.


"Bagaimana kalau kita duduk disana saja..." Telunjuk Endro mengarah ke sebuah bangku yang terbuat dari semen.


Nummi mengangguk. "Boleh, Om. Disana terlihat lebih sejuk, sepertinya."


"Ya sudah... Kamu tunggu Om disana ya. Om akan membeli kelapa muda terlebih dahulu." Perintah Endro.

__ADS_1


"Ok Om... Nummi tunggu." Sahut gadis itu dengan patuh. Dia segera beranjak ke tempat yang ditunjuk Endro kepadanya tadi dengan setengah berlari. Dia terlihat bersemangat sore itu.


Sesampainya disana, Nummi segera duduk. Dia memejamkan matanya, dan membiarkan wajahnya itu diterpa kesejukan angin. Hal yang paling disukai dirinya.


"Persis seperti Bundamu..." Suara Endro sedikit mengejutkan dirinya.


"Ah Om... Namanya juga, Nummi anaknya Bunda. Ya wajarlah..." Rungutnya karena merasa terkejut.


Endro menyeringai. "Iya... Dulunya Om sering melihat Bundamu melakukan hal seperti itu di tepi telaga. Dan itu selalu dia lakukan setelah menulis surat untuk ayahmu... Tapi dia tidak pernah meberikannya. Dia hanya menaruhnya di dalam sebuah kotak, yang Om sebut merpati surat cinta." Pikran Endro melayang kembali pada waktu dia menjadi sosok paparazinya Desri kala itu.


"Iya Om... Ayah juga sudah ceritakan itu kepada Nummi. Kata Ayah, Om yang menemukan surat-surat Bunda untuk Ayah." Sahut Nummi membenarkan cerita Endro.


"Dan hal yang sama juga dilakukan Mentari untuk Om. Dia juga menulisi Om surat-surat, jauh sebelum kami mulai bicara kala itu. Ketika perkemahan diadakan, Om menemukannya sendiri.


Disana..." Telunjuk Endro mengarah ke sebuah pohon di depan mereka. Nummi tidak lagi mengeluarkan suaranya, meski matanya ikut mengarah ke pohon yang ditunjuk Endro.


"Semua isi surat-surat yang ditulisinya, tidak satu pun yang tidak diawali kalimat permohonan maaf kepada Om. Dia meminta maaf telah mengatakan Om sebagai anak pungut, meskipun hari berikutnya setelah dia menulis surat itu, dia tetap mengatai Om anak pungut.


Di dalam surat itu, Om menemukan perasaannya yang sebenarnya." Endro kembali memulai ceritanya.


Pikirannya melayang lebih jauh lagi untuk kembali bercerita kepada gadis itu. Sebelumnya, dia sempat mereguk beberapa kali air kelapa muda yang telah dibelinya tadi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2