
"Selamat pagi perempuan berlesung pipi..." Endro menyapa istrinya yang masih berusaha mengambil kesadaran diri di kala shubuh itu.
Mentari tersenyum menyambut suara suaminya. Mata Sayu miliknya pertama kali menatap wajah Endro usai terjaga dari tidurnya semalaman.
Dia tahu, bahkan jika itu yang dia inginkan, dia tidak akan pernah mendapatinya. Semua itu karena takdir yang menyatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan, yang sebelumnya hanya sebuah angan-angan dalam hidupnya.
"Selamat pagi..." Balas Mentari menyapa Endro. "Terima kasih sudah menjadikan mimpi ini nyata dalam hidupku, Endro." Ucapnya sedikit berbisik. Hatinya masih berada dalam masa keharuan saat itu, ketika mendapati dirinya telah bersama Endro.
Menatap wajah lelaki yang dia cintai setiap kali terbangun. Mendengar suaranya. Dan diperlakukan dengan baik oleh lelaki yang telah menjadi suaminya saat itu.
Sesuatu yang benar-benar sulit jika dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya. Dan itu tidak lagi mimpi. Ya, memanglah sulit hal-hal yang mereka lalui untuk mewujudkan mimpi itu.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah diatur dalam skenario Tuhan. Kamu memang ditakdirkan menjadi istriku, dan aku menjadi suamimu. Jadi... Biarkan langsung pipimu terus tampak oleh mataku, Karena disana aku menemukan sebuah pemandangan baru dalam hidupku." Ungkap Endro dengan pandangan mata yang jujur dan tulus. Tangannya juga tampak sibuk mengelus pipi Mentari yang terasa lembut dan halus.
"Aku bahkan tidak bisa menyembunyikannya jika Tengah berada di dekatmu, dekat ayah, dan juga Nini." Ujar Mentari Seraya bangkit dan duduk berselonjoran di atas tempat tidur yang mereka tempati.
"Benarkah?" Goda Endro sembari ikut bangkit.
"Hu um..." Angguk Mentari mengiyakan pertanyaan suaminya yang tampak seolah ragu mendengar pernyataan dari mulutnya tadi.
__ADS_1
Buatlah aku aku bisa melupakan wajahnya, Mentari. Aku akui, aku bahagia jika berada di dekatmu. Tapi tidak bisa aku pungkiri pula, Mentari. Aku masih kepikiran dengan gadis itu.~ Batin Endro berusaha tersenyum tulus untuk Mentari.
"Apa kita akan terus seperti ini?" Tanya Mentari membuyarkan Lamunan Endro. "Apa kita tidak akan beranjak dari tempat tidur ini?." Tanyanya lagi sembari menatap lekat wajah suaminya.
Endro tersenyum dengan sedikit menyeringai. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari. Istrinya Itu tampak Salah Tingkah dibuatnya, dan wajah Mentari tiba-tiba memerah.
"A-ada apa?" Tanya Mentari gugup. Keberaniannya untuk membalas tatapan Endro pun menciut seketika. Dia kembali menurunkan pandangannya dan bersikap pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya itu kepadanya.
Tanpa menjawab, Endro mengecup dahi lebar Mentari. "Aku akan mandi..." Pamitnya Seraya turun dan melangkah meninggalkan Mentari yang tidak menduga apa sebenarnya isi hati suaminya saat itu.
Yang dia tahu, tidak ada sesuatu yang dipikirkan oleh suaminya melainkan hanyalah dirinya.
^^^^^
Pintu kamar mereka kembali terbuka dari luar. Saat itu Endro masuk hanya dengan menggunakan sehelai handuk yang membelit sekujur pinggangnya hingga di atas lututnya saja. Mentari terlihat gugup menyaksikan kemolekan tubuh Endro. Dada suaminya yang bidang dan lengannya yang tampak kekar, lagi-lagi membuat Mentari terpana.
"Kenapa...?" Tanya Endro Seraya mendekati istrinya itu.
"Ti-tidak..." Sahut Mentari gugup. Dia memutar tubuhnya memunggungi Endro dan kembali berpura-pura merapikan tempat tidurnya yang telah terlihat rapi.
__ADS_1
"Apa rencanamu untuk hari ini?" Tanya Endro sembari mengeringkan kepalanya dengan handuk kecil yang disodorkan Mentari sebelumnya.
"Aku belum punya rencana apa-apa." Sahut Mentari tanpa menoleh ke arahnya. "Shalat lah terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan pakaianmu di sana. Mungkin aku akan sedikit lama."
"Memangnya kamu akan bersemedi di dalam kamar mandi, hmm? Kenapa akan lama segala?" Tanya Endro keheranan mendengar pesan istrinya itu.
"Jika bersemedi diperlukan, maka sebaiknya aku bersemedi." Jawab Mentari acuh.
Endro tersenyum jahil mendengar jawaban istrinya. "Jangan terlalu lama. Nanti waktu subuh habis."
"Iya... Baiklah..."
.
.
.
.
__ADS_1
.