ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
KEMBALIKAN DIA


__ADS_3

Bagi Endro saat itu, memaksakan diri untuk bekerja bukanlah hal yang tepat, untuk menenangkan hati dan pikirannya. Beruntung Nummi membahas tentang pemakaman Mentari tadinya, baru lah pikirannya menjadi tenang.


Esok pagi bahkan sudah tak tertahankan lagi oleh dirinya. Waktu yang begitu panjang jika ia tunggu-tunggu. Maka dari itu, Endro memutuskan untuk pulang lebih awal. Karena Percuma saja berlama-lama di meja kerjanya, sedangkan pekerjaan itu tidak satu pun dapat terselesaikan oleh dirinya.


Habis ashar waktu itu, Endro diam-diam pergi ke makam Mentari, ayahnya dan Nini. Dia tidak menggunakan kendaraan apa pun untuk mencapai tempat itu. Dirinya sengaja menghindar dari Nummi, karena dia tahu Gadis itu tidak akan mudah percaya hanya dengan suasana hatinya yang tergambar di wajahnya.


Dan kesenduan yang tercipta di wajahnya hanya akan membuat perasaan Gadis itu semakin merasa bersalah nantinya.


Endro terpaku menatap salah satu makam di antara ketiga Pusara di sana. Mana lagi kalau bukan Pusara Mentari, istrinya. Perempuan yang meninggal di saat tengah mengandung anaknya pula.


*****


Endro dan dibantu oleh dua orang warga lainnya turun ke dalam liang peristirahatan istrinya untuk yang terakhir kali. Air matanya bercucuran dengan deras. Dia menangis dalam diam, tanpa suara atau sesenggukan.


Lama-kelamaan air matanya berhenti seiring tanah itu jatuh menimbun lubang yang berisikan jasad istrinya itu.


Usai berdoa, warga berangsur-angsur meninggalkan pemakaman. Sementara Endro masih di sana dengan ditemani oleh Ridwan Ghani.


Endro menumpu kedua lututnya pada gundukan tanah yang masih terasa lembab. Dia terus saja menatap makam baru itu dengan perasaan terpukul.

__ADS_1


Selamat beristirahat, Sayang. Jaga anak kita baik-baik di sana.~ Batin Endro. Hatinya begitu hancur, namun dirinya tidak mampu berbuat apa-apa.


Seketika, jemarinya dengan kuat mencakar tanah pemakaman istrinya itu. Tampak kemarahan yang berapi-api di wajahnya.


"Alex..." Gumamnya marah. Dia tiba-tiba memanas. Endro segera bangkit dan meninggalkan pemakaman itu.


"Kau mau kemana, Nak?" Seru Ridwan hendak mencegat langkah kaki Endro. Namun kemarahan yang ada pada diri pemuda itu membuat telinganya tuli. Dia tidak menggubris panggilan Ridwan.


Endro terus berlari meski sesekali kerikil membuatnya tersandung dan terjatuh. Tapi dia tidak peduli. Dia akan bangkit lagi dan kembali berlari. Hatinya begitu keras untuk bisa segera mencapai tujuan yang ada di benaknya saat itu.


Kantor polisi sudah ada di hadapannya. Dia menatap geram bangunan itu penuh amarah, seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsa yang ada di depannya.


"Aleeex..." Teriak Endro dengan sehabis volume suaranya. "Aleeex..." Panggilnya lagi berusaha mencari kesana-kemari di setiap ruangan berjeruji besi itu.


"Alex... Kembalikan istri saya... Kembalikan dia, Alex... Kembalikan Mentari..." Pinta Endro sambil terus berjalan dan mencari-cari. "Alex... Dimana Anda, hah? Jangan bersembunyi dari saya..."


Endro tidak menyerah. "Aleeex... Kembalikan Mentari, saya... Dia tengah mengandung bayi saya, Aleeex... Kembalikan dia..." Teriakan Endro semakin histeris ketika tubuhnya berhasil ditahan oleh beberapa polisi di sana.


"Dia membunuh istri saya... Dia membunuh istri dan bayi saya..." Teriaknya mendayu mengiba. Jelas sekali hatinya begitu hancur dan kecewa. Dia seperti orang kehilangan akal sehatnya disana.

__ADS_1


"Tolong lepaskan saya... Toloong... Saya ingin membunuhnya... Tolong kalian lepaskan saya..." Pinta Endro memberontak dari cengkraman polisi yang berusaha menahan nya. Tapi sayang, tenaganya begitu lemah untuk lepas dari cengkraman mereka.


"Nak Endro..." Panggil Ridwan Ghani yang tiba-tiba datang menyusul Endro ke sana dengan mobil pribadinya. "Nak Endro, tenanglah... Tenang lah, Nak..." Bujuk Ridwan begitu iba dengan keadaan Endro.


"Bagaimana saya bisa tenang, tuan? Apa anda merasakan sakit, seperti yang saya rasakan saat ini, hah?" Bantah Endro terdengar setengah membentak. "Mentariku bahkan baru merasakan bahagia setelah lama menderita hidup bersama iblis seperti dirinya dan keluarganya itu."


"Lalu? Dengan begini apa semua akan mengembalikan keadaan? Istrimu bahkan akan merasa sedih di alam sana, jika dia menyaksikan kamu seperti ini." Ujar Ridwan berusaha membuat Endro bisa lebih tenang.


Nafas Endro turun naik berusaha meredam emosi yang membakar jiwanya saat itu. "Dengarkan saya, Nak. Kemarahanmu tidak akan mengubah apapun." Nasihat Ridwan begitu lembut. "Istrimu tidak akan dapat hidup kembali meski kamu berlaku seperti ini. Kenyataannya, ini bukanlah mimpi. Jangan salahkan takdir. Biarkan dia menjalankan hukuman yang sesuai dengan apa yang telah dia perbuat kepada istrimu. Negara kita memiliki hukum. Percayakan kepada pihak yang berwajib untuk urusan ini." Tutur Ridwan lagi. Mendengar ucapan lelaki asing yang baru dikenalinya itu, perlahan dia berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkraman para polisi yang menahannya sedari tadi.


Endro berjalan dengan lunglai meninggalkan tempat itu. Dia seakan pasrah setelah mendapatkan nasihat dari Ridwan Ghani yang terdengar tulus sampai ke relung hatinya yang terdalam.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2