ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
RENCANA JUWITA


__ADS_3

Alex dan Lita terheran-heran melihat tingkah Juwita, Putri semata wayang mereka, Semenjak keputusan pelaksanaan pernikahan Endro dan Mentari diambil, Juwita terlihat sibuk menyiapkan acara pernikahan itu. Dia sendiri yang turun tangan langsung untuk mengatur dekorasinya sesuai dengan apa yang dia inginkan.


"Juwita..." Lita akhirnya memberanikan diri menegur putrinya itu. Dia sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya terhadap perubahan sikap Juwita beberapa hari terakhir.


"Ya, Bu? Ada apa." Sahut Juwita tanpa menoleh kepada Lita. Matanya terlalu sibuk memperhatikan persiapan dekorasi ruangan pesta nantinya.


"Ibu perhatikan kamu terlalu antusias sekali dengan pesta ini, Nak. Kenapa?" Tanya Lita bingung. Alex juga tanpak menunggu jawaban Juwita saat itu.


"Iya dong, Bu. Pesta ini harus terkesan mewah dan elegan." Jawabnya berambisi. Dia teesenyum seperti sedang membayangkan suasana pernikahan itu.


"Kenapa kamu yang repot? Bahkan kamu sampai mengeluarkan banyak uang untuk biaya dekorasi tidak penting ini." Hardik Alex setengah membentak.


"Tidak penting bagaimana, Pak? Ini sangat penting bagiku."Ujar Juwita marah. Dia tampak kesal mendengar omelan bapaknya itu.


"Memangnya Apa pentingnya sih, nak? Ini kan pernikahan Mentari, tidak biasanya kamu peduli terhadapnya." Potong Lita. Dia semakin terheran heran dengan kemarahan Juwita saat itu. Hal yang diluar Dari Dirinya untuk membela Mentari.


"Pernikahan Mentari? Siapa bilang aku repot untuk pernikahan dia, Buk?." Juwita tampak mencebikkan bibirnya karena kesal. "Jadi Bapak dan Ibuk pikir ini pernikahannya Mentari?"


Alex dan Lita tak menyahut. Mereka tampak bingung dan hanya menunggu penjelasan dari Juwita.


"Aku Aku sedang mempersiapkan acara pernikahan aku sendiri lah, Buk, Pak."

__ADS_1


"Hah???" Alex dan Lita terkejut. Mereka saling pandang dan mengerutkan dahi mendengar pengakuan Putri mereka itu.


"Maksud kamu apa?" Tanya Alex kemudian. Dia mewakili rasa keterkejutan diantara mereka terhadap ucapan Juwita.


"Aku menyukai Endro dari pertama melihatnya, Buk, Pak. Kali ini, Bapak dan Ibu harus bantu aku menjadi istrinya Endro." Ungkapnya. Dia terdengar memaksakan kehendak hatinya saat itu kepada orang tuanya yang selama itu selalu menuruti apa pun kemauannya.


"Apa?" Alex dan Lita semakin tercengang lagi mendengar kemauan putri mereka. "Jangan aneh-aneh, Juwita. Bapak tidak akan pernah menyetujui pernikahan kamu dengan lelaki itu." Amarah Alex memuncak. Matanya menatap garang ke wajah Juwita.


"Buk... Lihatlah bapak." Adunya kepada Lita dengan wajah bersungut tidak senang. "Aku bahkan hanya ingin dinikahi oleh Endro. Itu saja. Dan lagian bapak sama Ibu akan memiliki banyak keuntungan karenanya nanti. Selain dari Mentari, Bapak juga akan memiliki menantu yang merupakan cucu dari almarhum juragan tanah di kota ini.


Bapak bisa menguasai tanah mana pun yang Bapak inginkan. Tidak hanya sepetak tanah itu saja, Pak. Tapi semua tanah miliknya." Ujar Juwita. Dia berusaha menyuguhi pikiran-pikiran ibu dan bapaknya dengan santapan ketamakan.


"Kamu pintar juga, Juwita." Puji Alex sambil mangut-mangut.


"Iya dong, Pak. Juwita kan anaknya, Ibuk." Sahut Lita membenarkan pujian suaminya itu.


"Huu... Giliran seperti ini saja, Anak kita hanya jadi anaknya Ibuk." Gelak Alex berderai seketika. Dia tampak puas dengan ide cemerlang yang dihasilkan putri semata wayangnya itu.


"Lalu, apa rencana kamu tentang ini, Nak?" Tanya Lita setengah berbisik ke telinga Juwita. Alex pun ikut-ikutan pasang telinga hendak mendengar jawaban dari Juwita.


Juwita menyampaikan apa saja yang saat itu dia rencanakan. Dan juga nasib Mentari setelahnya. Ya, rencana licik dan jahat.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Mentari berada di samping tembok tempat mereka berbicara. Mentari saat itu mendengarkan semua rencana licik mereka terhadap dirinya dan Endro.


Mentari tidak kuasa menahan keterkejutannya. Dia membekab mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangannya lebar. Seketika, air matanya jatuh bercucuran di pipinya yang tirus. Dia sungguh ketakutan saat itu.


Jadi itu alasannya Kak Juwita bersikap baik terhadapku akhir-akhir ini?


*Rupanya di*a merencanakan ini semua hanya demi keuntungan dirinya sendiri?


Yaa Allah... Aku harus apa? Bantu aku dan Endro dalam melewati semua ini...


Tangis Mentari pecah. Dia segera meninggalkan tempat itu dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2