ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
JOGGING


__ADS_3

Benar saja. Subuh seperti kebiasaannya, Nummi telah terbangun. Hal yang selalu diajarkan kan oleh ayah dan bundanya selama ia berumur segitu.


Dia melakukannya bukan untuk dapat ikut dengan Endro, melainkan demi memenuhi kewajibannya kepada Sang Khalik, pencipta siang dan malam.


Seusai melakukan kewajibannya, Nummi bersiap-siap dan bergegas keluar dari kamar yang dihuni nya itu. Dia bahkan telah menantikan pagi itu dari semalam.


Ketika matanya mendapati Endro baru saja keluar dari dalam kamar, Nummi terperangah.


"Om Endro?"


"Hai, Sayang..."


"Kok Om pakai baju itu?" Tunjuk Nummi mengarah kepada pakaian yang dikenakan Endro.


"Loh... Harusnya Om yang bertanya. Kenapa kamu tidak memakai stelan jogging. Kita kan mau jogging hari ini." Sahut Endro balas menanyai.


"Om tidak bilang kalau kita mau jogging... Kata Om kita akan pergi ke suatu tempat." Nummi membela dirinya sendiri dari kesalahpahamannya terhadap janji Endro semalam.


"Iya, maaf... Berhubung hari ini adalah hari Minggu, jadi kita Jogging kesananya. Nanti pulangnya kita minta jemput pak Harun."


"Owh begitu ya, Om... Hehe... Maaf, Om. Nummi terlalu bersemangat..."


"Ya sudah. Ganti baju dulu sana..."


"Om tungguin Nummi ya..."


"Iya..."


Nummi segera berlarian kembali ke kamarnya. Sementara Endro hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu yang tidak sabaran menunggu kelanjutan cerita kisah hidupnya.


*****


Nafas Nummi terengah-engah setelah menempuh perjalanan lebih kurang empat kilo. Wajah ayunya dibasahi banyak keringat. Jantungnya memburu begitu cepar seiring hembusan nafasnya yang terdengar menderu.


Dia merukuk, kedua telapak tangannya bertopangan di lututnya. Dia seakan tidak lagi sanggup melanjutkan joggingnya pagi itu.


"Apa kamu menyerah?" Endro bertanya sambil berkacak pinggang menghadap ke arah Nummi.


"Huuuffhh... Capeeek, Oom!"

__ADS_1


"Ya sudah... Kita tidak jadi saja kesana. Om bakalan telpon Pak Harun buat jemput kita sekarang, ya?" Ujar Endro memanas-manasi Nummi.


"Aaa... Nggak bisa gitu dong, Om. Tanggung... Nummi masih kuat kok." Nummi kembali melanjutkan perjalanannya dan mendahului Endro. Dia benar-benar nekat untuk melanjutkannya.


Endro tersenyum melihat kegigihan gadis itu. "Hmm... Dasar Nummi, dia persis sekali sama Bundanya. Tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau..." Gumam Endro.


Tidak beberapa lama, akhirnya mereka sampai ke tempat yang di janjikan Endro semalam terhadap Nummi.


Nummi bagai menyaksikan sulap melihat pemandangan di depan matanya saat itu. Dia begitu terperangah dengan keindahan pemandangan disana.


"Bagaimana?" Tanya Endro ketika melihat mata Nummi memandang takjub ke arah depan mereka. Disana tampak perkebunan strawberry yang cukup luas. Buahnya yang merah-merah mengalahkan dedaunannya yang hijau.


"Aaa... Makasih, Om." Nummi memeluk Endro dengan begitu senang. Rasa lelah yang tadinya menggerayang tubuhnya lenyap seketika. "Tidak sia-sia usaha Nummi sampai kesini..." Tambahnya lagi.


"Kamu senang?" Tanya Endro lagi.


"Senang sekali, Om." Sahutnya begitu kegirangan. Dia berlonjak-lonjak kecil seperti anak-anak yang diberi hadiah mainan oleh orang tuanya.


"Kalau begitu, ayo kita masuk." Ajak Endro seraya menarik lembut bahu Nummi yang sebenarnya juga tidak sabaran untuk kesana.


Nummi mengangguk pelan. Dia benar-benar terhipnotis dengan pemandangan di kebun itu. Buah yang amat disukainya. Karena warna dan bentuknya yang terlihat lucu baginya.


"Boleh kita memetiknya, Om?" Nummi tampak berharap dengan jawaban 'iya' dari lelaki paruh baya itu.


"Yah... Om." Nummi kecewa. Wajahnya tampak cemberut karena jawaban yang di dengarnya dari Endro.


"Tentu boleh dong, Sayang. Orang yang masuk ke dalamnya hanya perlu membeli tiket. Kalau dia mau metik, hanya boleh sekeranjang yang telah disediakan disini." Tutur Endro.


"Wah... Beneran boleh, Om?" Tanya Nummi kembali memastikan keseriusan Endro.


"Iya..."


"Trus kalo mereka malah memakannya di dalam bagaimana, Om?."


"Ya, Nggak apa-apa. Memangnya seberapa kuat mereka akan memakannya disana?. Yang penting, mereka masuk harus membeli tiket per kepala. Dan membawa pulang hanya sekeranjang mungil yang telah disediakan.


Disini sudah ada peraturannya, Nak. Tidak diizinkan membawa apa pun selain ponsel dan kamera.


Jadi, kalau mereka membawa barang-barang selain dari ponsel dan kamera, mereka harus menitipkannya di loker yang telah disediakan." Endro menyampaikan peraturan para pengunjung kepada Nummi.

__ADS_1


"Wah.. Unik juga ya caranya, Om. Apa pemiliknya nggak rugi tuh?."


"Pemilik tidak mengambil keuntungan seperser pun dari sini, Nak. Yang penting dia mendapatkan upah untuk para pekerja dan biaya untuk memastikan tanaman strawberry tetap tumbuh subur dan berbuah seperti ini."


"Waaahhh... Baik bangeeet..." Puji Nummi begitu terharu mendengar penjelasan Endro.


Endro hanya tersenyum kecil seraya melanjutkan langkahnya kembali. Mereka memasuki perkebunan itu tanpa melewati prosedur apa pun. Dan semua pekerja menyapa Endro dengan begitu hormat, dan hal itu membuat Nummi merasa keheranan karenanya.


"Om... Apa kita nggak bayar dulu?" Tanya Nummi semakin dibuat bingung.


"Utang dulu..." Jawab Endro santai.


"Hahh?" Nummi tercengang mendengar jawaban dari Endro. "Emang bisa ngutang?" Gumam Nummi pelan. Namun mampu di dengar oleh telinga Endro. Endro hanya menyeringai kecil melihat tingkah Nummi yang terlihat lucu menurutnya di saat bingung seperti itu.


"Selamat pagi, Pak Endro..." Sapa salah seorang pekerja disana dengan ramah.


"Selamat pagi juga, Chika." Balasnya sopan.


"Ini siapa, Pak?" Tanya pekerja itu mengarah kepada Nummi.


"Dia cucunya Almarhum Pak Ridwan Ghani, putrinya Nona Desri dan Tuan Arkhan."


"Waaahh... Meski kami belum pernah melihat mereka, tapi akhirnya kami bertemu juga dengan Non Nummi..." Ujar Pekerja itu tampak girang.


"Semua orang mengenal Om, mungkin biasa. Tapi jika mengenal Opa, Ayah dan Bunda, itu luar biasa loh, Om" Ujar Nummi semakin keheranan.


"Iya Non... Bapak Endro memang terkenal disini. Beliau pemilik sebahagian besar lahan perkebunan di kota ini, termasuk perkebunan strawberry ini, Non."


"Haahhh..." Nummi benar-benar terkejut mendengar penjelasannya. Dia menatap Endro seakan tidak percaya.


Endro hanya bersikap biasa melihat reaksi Nummi seperti itu. Dia segera pamit kepada Chika dan berlalu meninggalkan posisi mereka berdiri.


"Oom..." Seru Nummi berlari mengejar ketertinggalannya dari Endro. "Om... Tolong jelasin sama Nummi. Benarkah perkebunan ini miliknya, Om?" Nummi benar-benar penasaran dengan kebenarannya. Hal yang tidak dia ketahui sebelumnya tentang itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2