
Sejak Endro mengikuti Mentari ke dalam kelas, tak sekalipun dia berhenti memandangi wajah gadis itu.
Mentari telah banyak berusaha untuk lari dari pandangan mata Endro. Tapi semakin dia berusaha bersembunyi, sekeras itulah usaha Endro menemukan wajahnya kembali.
Mentari masuk ke dalam kerumunan teman-temannya yang sibuk menyiapkan drama untuk acara perpisahan nanti.
"Hey... Mentari...! Kemana saja kamu? Kami cari-cariin sedari tadi. Ayo latihan...!" Seru seseorang diantara teman-temannya itu.
"Hah? Kalian mencariku?" Mentari terlihat gugup. Sesaat, dia menoleh ke arah Endro yang masih saja memandangi dirinya.
"Iya, kami mencarimu. Ini puisi yang akan kamu bacakan nanti." Sela seseorang lainnya sambil menyodorkan sebuah kertas kepada Mentari.
"Maaf, telah membuat kalian mencariku." Ucap Mentari merasa bersalah. Dia menerima kertas itu dan mulai membacanya di dalam hati. Terlihat sekali dengan sorot matanya yang begitu khusyuk mengarah ke tulisan di dalam kertas itu.
"Bagaimana Mentari? Kamu bisa masuk ke dalam penghayatannya?" Tanya mereka lagi setelah mengamati mimik Mentari.
"Hmmm... Puisinya bagus... Aku akan mempelajarinya terlebih dahulu. Makasih..." Ujar Mentari. Dia berlalu dari kerumunan teman-temannya, dan duduk di kursi tempatnya biasa belajar di ruangan itu.
Ketika di telah berada di kursi itu, delik matanya masih melihat bayangan Endro yang terus saja memerhatikan dirinya. "Berhenti memandangiku..." Bisiknya jengkel. Dia mulai tampak risih.
"Aku tidak memandangimu..." Balas Endro seraya mendekat ke arah Mentari.
"Lalu?" Ketika Mentari hendak mengarahkan wajahnya ke wajah Endro, tiba-tiba saja Endro sudah berada di samping dirinya.
Sekali lagi, mereka beradu tatap. Pandangan mata mereka saling masuk dan menapaki kejujuran yang tersembunyi di baliknya. Mereka terperangah oleh perasaan yang tercipta di dalam hati mereka masing-masing.
"Endrooo..." Desir Mentari lirih. Jantungnya berdegup kencang dan meruntuhkan pertahanannya. Dia tidak bisa lagi bersembunyi di balik sikap cueknya selama itu.
__ADS_1
"Hey kalian..." Seru temannya kepada mereka.
Mentari gelagapan. Dia hendak bangkit untuk menjauh dari Endro, namun dengan sigap Endro menahan lengannya.
"Kenapa?" Tanya Endro mengarah kepada mereka untuk menyahuti seruan yang cukup mengganggu bagi dirinya.
"Kenapa masih sibuk berdua-duaan? Kita harus latihan!" Dengus salah seorang temannya yang mulai terlihat kesal.
"kami juga latihan disini. Bukankah Mentari berpuisi dengan mengikuti nada gitarku?" Ketus Endro.
"Owh... Jadi begitu... Maaf... Ya sudah... Latihan yang benar." Perintahnya mulai tersenyum girang. Mereka cengengesan seperti tanpa dosa.
"Memangnya kamu bawa gitar?" Mentari menatap bingung wajah serius Endro, ketika teman-temannya sudah kembali latihan.
"Tidak..." Sahutnya acuh.
"Lalu?"
"Coba baca puisinya..." Perintah Endro lagi.
"Tidak mau..." Ketus Mentari.
"Kenapa?"
"Aku malu..." Ungkap gadis itu. Dia menundukkan wajahnya yang memerah.
"Kenapa mesti malu? Nanti kamu akan membacakannya di depan orang banyak, malah."
__ADS_1
"Kamu terus saja memandangiki seperti itu..." Sungutnya tanpa mau mengangkat kembali wajahnya yang tertunduk malu.
"Jadi karena aku?" Endro mulai melunak. Dia mengangkat dagu Mentari dengan jemarinya dan menghadapkan wajah pucat gadis itu ke wajahnya.
"Jangan memandangiku lagi..." Pinta Mentari lirih. Matanya yang sayu seakan memohon untuk itu. Dia hanya tidak ingin debaran yang tercipta di dalam dadanya akan merusak hatinya.
Mereka sama-sama tidak yakin dengan perasaan mereka masing-masing. Tapi mereka terus berharap untuk selalu bersama.
"Kenapa aku tidak boleh?" Tanya Endro mulai mengikuti nada bicara Mentari.
"Aku tidak punya kekuatan, ketika matamu tak lagi memandangiku nantinya." Sahut Mentari. Kejujuran itu lolos begitu saja dari bibirnya.
"Mataku ada di matamu, Mentari. Menjadi kekuatan untukmu kapan pun, dan dimana pun. Jadi, kamu tidak usah khawatir jika aku tidak ada di sisimu. Karena bahkan, bayanganku akan menjadi keberanian bagimu. Kamu harus bisa melawan segala hal yang mengancam kekuatanmu. Jangan takut..." Ucap Endro. Dia meyakinkan gadis itu untuk selalu memikirkannya. Membuat Mentari selalu menjadi ketergantungan dengan dirinya.
Dia tidak menyadari, bahwa itulah yang dinamakan cinta oleh gadis itu. Sedangkan, yang dia tahu, dia adalah sosok hero untuk seorang perempuan seperti Mentari.
Mentari tersenyum medengar ketulusan dari setiap rangkaian kata yang diucapkan Endro. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Tanpa diminta pun, semua yang diucapkan Endro ada pada perasaannya.
Bayangan lelaki itu, memang telah menjadi keberanian bagi dirinya selama itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.