
Hari-hari terus berlalu tanpa mau menunggu. Hari itu tibalah perpisahan kelas dua belas di tempat Endro dan Mentari bersekolah. Para orang tua yang menjadi wali juga ikut meramaikan acara perpisahan mereka.
Penampilan demi penampilan bergantian memberikan tontonan terbaik dari mereka yang mengisi acaranya. Dan tibalah di acara yang ditampilkan Endro beserta teman-teman sekelasnya.
Drama yang mereka bawakan terlihat memukau. Begitu nyata seperti benar-benar terjadi. Ditambah lagi dengan iringan musiknya yang membawa hadirin terhanyut ke dalam drama yang mereka tampilkan.
Kisah yang mempertemukan mereka di sekolah itu dan menjadikan mereka berteman baik. Terkadang ada suka duka yang mereka lalui bersama.
Ada lelucon, ejekan dan banyak hal yang membuat mereka akan selalu mengenangnya.
Dan di penghujung drama, tampak mereka melakoni adegan perpisahan. Tangis yang mereka buat begitu menyayat hati bagi yang mendengarnya. Dipadu pula dengan puisi yang dibawakan Mentari.
Kami pernah bermimpi di suatu waktu...
Berhayal, mendambakan gunung emas yang menjulang tinggi...
Tapi... Kami terdampar di sekolah ini...
Disini, tempat yang terkadang tidak kami sukai perjuangannya...
Namun bimbingan ibu bapak guru tercinta,
Dan cambuk dari gurauan teman-teman semua... Telah mampu menaklukkan tujuan kita...
Kami telah berbakti, tapi kami belum mengabdi...
Namun perpisahan mengakhiri perjuangan ini... Karena ilmu tak akan berhenti dituntut Hingga ajal kami menjemput....
Maka... Hanya do'a restu ibu bapak guru yang mengantarkan kami, menuju mimpi kami...
__ADS_1
Untuk adik-adik tercinta, jagalah nama baik sekolah kita...
Jadikanlah perpisahan ini, perpisahan yang termanis diantara kita...
Drama mereka, mereka tutup dengan lagu Perpisahan Termanis milik Lovarian. Dan saat itu Endro dan Mentari berduet. Air mata gadis itu tak henti-henti mengalir dari matanya yang sayu, sehingga membuat para hadirin ikut terisak mendengarnya.
Terlihat jelas di mata Endro bahwa saat itu6 Mentari sedang ketakutan menghadapi hari esoknya.
Ayah... Ayah lihat dia, bukan? Tangisannya menandakan bahwa dia tidak siap untuk menemui hari esok. Bagaimana mungkin aku tidak akan merasa iba dengannya?~ Batin Endro semabari menatap lekat wajah ayahnya yang juga berada di antara tamu undangan.
Kamil membalas tatapan sendu putranya. Dia mengerti akan tatapan itu. Hanya saja, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah mereka turun dari panggung, tepuk tangan meriah terdengar di seluruh penjuru aula. Mereka benar-benar menikmati penampilan yang dibawakan Endro beserta teman-temannya.
*****
Acara perpisahan pun usai. Orang-orang yang tadinya memenuhi gedung itu, berangsur-angsur mengosongkannya.
Endro dan Kamil juga ikut meninggalkan sekolahan itu dengan menaiki mobil tua miliknya. Namun belum berapa jauh, mereka melihat Mentari berjalan. Memang, di tempat jalanan sepi, Alex akan menurunkan Mentari dan menyuruh gadis itu berjalan kaki.
Kamil menepikan mobilnya dan meminta Endro menyapa gadis itu.
"Mentari!" Seru Endro menuruti perintah ayahnya. Dia mendongakkan kepelanya keluar.
"Endro...?" Mentari terlihat malu. Matanya memerah. Lagi-lagi Endro menemukan dirinya dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
"Ayo masuk, Nak." Seru Kamil yang tak tega melihat kepedihan tergambar di wajah Mentari.
"Tidak, Pak. Terimakasih.. Saya sudah biasa jalan kaki." Tolaknya.
__ADS_1
"Masuklah... Bukankah kamu ingin berkenalan dengan Ayahku?" Perintah Endro terdengar memaksa.
Mentari menatap Kamil dengan sungkan. Kamil yang mengerti arti tatapannya segera mengangguk. Senyuman tipis merekah di wajahnya yang mulai memasuki usia paruh baya.
Mentari tidak lagi mempertahankan gengsinya. Dia menurut untuk naik ke mobil yang di kendarai Kamil.
"Kata Endro, kamu ingin mengenal ayah lebih dekat. Benar begitu?" Tanya Kamil dengan ramah.
"Bapak begitu lembut memperlakukan Endro. Andai ayahku masih hidup. Beliau akan seperti Bapak. Menyayangiku dan menjagaku." Ujar Mentari getir. Dia seolah membenarkan pertanyaan Kamil.
Mentari menerawang, dia seakan mengingat bagaimana kasih sayang yang dia dapat dari orang tuanya semasa mereka hidup.
"Kalau begitu, kamu bisa memanggil ayah juga seperti Endro. Biar Ayah bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki anak gadis." Tutur Kamil. Suaranya terdengar menghangatkan sampai ke hati Mentari.
Mentari begitu terharu. Dia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dan berbicara dengan sosok ayah yang selama itu hanya diperhatikannya dari jauh.
Endro tersenyum mengangguki ucapan ayahnya. Setidaknya, kekuatan Mentari bertambah satu lagi untuk menghadapi kepedihan yang dirasakannya bersama keluarga angkatnya.
"Oh ya, Nak. Jika sesuatu terjadi, kamu tidak usah takut untuk datang menemui Ayah dan Endro. Karena kami akan siap ada untukmu. Kamu tidak usah bingung, Ayah sudah mengetahui semua tentang kehidupanmu dari Endro." Ujar Kamil lagi.
Kamil mengerti bagaimana kejamnya Alex. Bahkan untuk sesuatu yang bukan haknya sekalipun, jika dia ingin, maka dia akan merebutnya.
Mentari mengangguk. Dia begitu senang mendapat perhatian tulus seperti itu dari seorang Ayah. Apalagi Ayah dari lelaki yang menjanjikan pernikahan kepada dirinya.
.
.
.
__ADS_1
.
.