
Ada suatu malam, Mentari terjaga dari tidurnya. Ia mendengar suara yang begitu asing di telinga, tidak pernah sebelumnya Mentari mendengar suara itu.
Mentari merasa merinding karenanya.
Awalnya Mentari berniat membangunkan Endro yang berada tepat di sampingnya, karena saking takut dan was-was dirinya saat itu. Dia mencoba hendak meraba tangan Endro yang berlipat di perut suaminya itu sendiri.
"Astaga... Endro..." Mentari malah terkejut dan refleks menjauhi tangannya dari tangan Endro yang terasa begitu panas olehnya.
Ketika ia melihat wajah Endro, Mentari baru menyadari bahwa suara yang didengarnya itu berasal dari mulutnya suaminya itu sendiri. Dengkuran Endro terdengar mendayu, mengiba dari tidurnya yang tampak gelisah.
"Sayang, kamu sakit?" Tanya Mentari tampak semakin panik. Dia kembali meletakkan telapak tangannya ke dahi Endro yang sedikit terasa lembab karena keringat dingin.
"Ya Allah... Badan kamu panas sekali sayang..." Mentari mulai bertingkah seperti kehabisan akal. Air matanya tiba-tiba saja bergulir deras membanjiri pipinya.
Mentari memberi waktu untuk dirinya sebelum berusaha menepis ketakutan di hatinya, melihat kondisi Endro yang terlihat setengah sadar saat itu.
Endro terdengar mengerang-erang kecil seperti orang yang sedang mengigau karena tengah mengalami mimpi buruk. Dia sibuk menceracau dalam ketidaksadarannya saat itu.
"Sayang... Kamu sabar ya. Kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan ke belakang dulu mengambil kompresan untukmu." Ujarnya begitu cepat seiring nafasnya yang tidak beraturan menyaksikan keadaan suaminya. Mentari bangkit dan sedikit berlari kecil meninggalkan Endro yang sedang demam tinggi.
Tidak lama, Mentari kembali dengan membawa sebaskom kecil air dan handuk kecil untuk pengompres.
Setiap kali dirinya mengompres demam Endro, dia tidak berhenti terisak. Rasa sakitnya terlihat lebih besar dibandingkan rasa sakit yang dialami Endro saat itu.
Mentari juga menyuapkan beberapa sendok air hangat ke mulut Endro. Kasih sayangnya yang tulus terhadap suaminya itu, benar-benar terlihat dari perhatian dan tatapannya yang penuh ketakutan menyaksikan suaminya yang sedang sakit.
Dia bahkan tidak dapat tidur lagi setelahnya, meskipun keadaan Endro telah terlihat baik-baik saja. Rasa cemasnya yang begitu besar membuat dia takut meninggalkan Endro, walau hanya untuk tidur sekalipun.
Mentari tak berhenti memerhatikan wajah Endro yang sudah mulai berdarah dari sebelumnya yang tampak pucat pasi. Dia tidak ingin jika suaminya tiba-tiba gelisah kembali, apabila ia berpaling meski sebentar saja.
__ADS_1
Ketika pagi datang, Endro terbangun dari tidurnya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa semalam dia mengalami demam tinggi. Namun, ketika dia hendak bangkit, dia merasa dahinya begitu berat.
Endro meraba dahinya dan mendapati handuk kecil semalam masih berada di sana. "Kompresan?" Gumamnya bertanya-tanya.
Dia melirik ke arah Mentari. Dan saat itu, Endro mendapati Mentari tertidur sambil duduk dan bersandar ke bantalnya.
"Apa semalam aku demam?" Tanyanya sendiri. Dia merasa tidak tega membangunkan istrinya yang terlihat lelah dan kurang tidur.
Endro turun dari tempat tidurnya. Karena demam semalam, Endro masih merasakan sempoyongan. Berkali-kali dia mengedipkan matanya yang tampak berkunang-kunang.
"Alhamdulillah..." Desir bibirnya ketika ia kembali merasakan dirinya baik-baik saja.
"Sayang..." Belum sempat Endro benar-benar keluar dari kamarnya, Mentari telah terlebih dahulu memanggil dirinya dengan suara yang terdengar sedikit serak.
Endro menoleh kembali. "Kamu bangun, Sayang?"
"Kamu mau kemana?" Tanya Mentari mengindahkan pertanyaan Endro. Dia terlihat masih mencemaskan suaminya itu.
"Aku ikut, ya..." Pinta Mentari segera beranjak dari tempat tidurnya untuk menyusul Endro yang masih berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Kamu sudah baikan, Sayang?" Tanya Mentari ketika telah berada di posisi Endro.
"Memangnya aku kenapa, Sayang?" Endro balik bertanya dengan raut bingung.
"Semalam kamu demam tinggi. Badan kamu panas sekali, Sayang. Serasa memegang bara api ketika menyentuh tubuh kamu..." Ujar Mentari begitu antusias menceritakan keadaan Endro sendiri.
"Hmm... Pasti aku sungguh merepotkan kamu semalam, ya?" Tanya Endro merasa bersalah.
"Aku ini istrimu, Sayang. Jadi, bagaimana mungkin aku direpotkan olehmu?" Ujar Mentari sedikit menekan kata-katanya.
__ADS_1
"Hehehe... Tapi matamu kok sembab begitu? Semalam kamu menangis, Ya?" Goda Endro sambil mengapit pipi Mentari yang terasa kenyal dan lembut.
"E-eng-nggak... Siapa yang menangis?" Ketus Mentari gugup menyahuti godaan suaminya itu.
"Itu... Mata kamu merah dan sembab..." Tunjuk Endro ke mata Mentari dengan memanyunkan bibirnya.
"Iiih... Aku cuma kurang tidur. Kamu tuh tidurnya semalam mendengkur. Ngorok terlalu kencang..." Elak Mentari berusaha menghindar dari rasa geroginya. Wajah bangun tidurnya terlihat memerah seketika.
"Ah masa?" Lagak Endro terlihat tidak percaya dengan penuturan Mentari.
"Beneraaan Sayang..." Mentari pun mengeluarkan jurus ambekannya.
"Iya iya... Maaf... Aku sudah membuatmu kurang tidur... Dan juga menangis semalam." Ujar Endro masih terdengar menggoda. Dia sebenarnya tahu akan hal itu. Karena dia pria dewasa yang dapat memahami perasaan istrinya sendiri. Begitu menyayangi dan mengkhawatirkan dirinya.
"Ish dasar..." Mentari mengalah. Berbagai upaya pun dia mengelak, Endro tetap akan mengetahui dirinya yang terlalu memperlihatkan cintanya kepada suaminya itu. "Yang penting, sekarang kamu sudah baik 'kan?"
"Alhamdulillah... Aku baik, dan bahkan jauh lebih baik." Ujar Endro sembari tersenyum kepada Mentari. "Makasih ya, Sayang."
"Sama-sama..." Sahut Mentari membalas senyuman Endro. "Ayo..." Ajak Mentari seraya mengulurkan tangannya ke arah Endro.
Endro mengangguk. Dia meraih tangan Mentari dan menggandengnya sampai ke pintu kamar mandi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.