ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
CHANDRA


__ADS_3

Pagi menjelang siang saat itu. Desri dan Arkan menikmati secangkir teh dan sepiring cemilan di pelataran belakang rumah Endro. Mereka tampak begitu manis meski usia mereka tidak lebih muda. Sesekali Desri merebahkan kepalanya ke pundak Arkhan dengan manja untuk menambah kehangatan suasana di antara mereka berdua.


"Ayaaah... Bundaaaa..." Terdengar seruan dari Nummi mereka. Gadis itu datang dari dalam rumah untuk menyapa dan menciumi pipu mereka satu persatu.


"Hey... Anak gadis Bunda mau kemana? Mok cantik sekali hari ini?" Tanya Desri menyadari penampilan putrinya yang terlihat berbeda saat itu.


"Tidak kemana-mana kok, Bun..." Sahut Nummi dengan wajah merah seperti udang rebus.


"Beneran? Tapi kok tumben dandannya kayak begini, Sayang?" Arkhan tak kalah heran melihat putrinya tersipu-sipu seperti itu.


"Iiihh... Ayah sama Bunda kepo ah..." Sungut Nummi seraya beralih duduk di bangku lainnya.


Arkhan dan Desri saling pandang satu sama lain melihat tingkah putri mereka yang sedikit berbeda dan terlihat centil hari itu.


*****


Endro sekali-kali menajamkan pandangan matanya ke setiap orang yang turun dari sebuah bus kota. Ya, hari itu adalah hari Jum'at. Hari dimana keponakannya akan datang untuk berkunjung ke sana.

__ADS_1


Tidak lama, seorang anak muda dengan gagah membuka kaca mata hitamnya. Tampak headphone melingkar di lehernya menambah ketampanan dirinya sebagai pemuda kekinian, turun dari bus yang diperhatikan Endro sedari dirinya sampai tadi.


Pemuda itu datang menghampirinya dan memberi salam kepadanya dengan hormat. "Assalamu'alaikum, Om..." Dia menyalami tangan Endro dengan sopan.


"Wa'alaikumussalam, Chandra..." Sambut Endro tampak begitu senang.


"Terima kasih Om sudah meluangkan waktu untuk menjemputku ke sini. Maaf sudah merepotkan, Om..." Ucapnya merasa tidak enak.


"Yaa ampun, Chandra... Bagaimana mungkin Om akan direpotkan olehmu, Nak. Om malah senang dengan kedatanganmu ke sini." Ujar Endro menghapus rasa tidak nyaman keponakannya itu. "Kamu bahkan baru pertama kali datang ke sini sendirian. Wajarlah... Oh iya, bagaimana kabar orang tua dan kakekmu, Nak?" Tanya Endro mengalihkan pembicaraan basa-basi di antara mereka.


"Alhamdulillah, Om... Papa dan Mama sehat. Kakek juga, Om. Hanya saja beliau semakin tua sejak terakhir kali Om mampir... Mereka titip salam loh buat Om" Jawab Chandra diselingi cengenges kecil darinya.


"Keponakan, Om?" Tampak kebingungan di wajah tampan keponakan Endro. Hal yang dia sendiri tidak ketahui semenjak mengenal Omnya itu.


"Hu'um..." Sahut Endro mengangguk. "Dia itu putri dari mantan majikan, Om. Keluarga yang sudah membuat Om seperti ini. Bundanya yang menganggap Om seperti kakak baginya. Sekarang, Ayah dan Bundanya juga ada di rumah." Tutur Endro memperjelas.


"Owh... Pemilik Ghani Group tempat Om dan kakek bertemu ya, Om?" Tanya Chandra mulai paham.

__ADS_1


"Tepat sekali..." Sahut Endro.


"Wah... Jadi tidak sabar ingin bertemu mereka..." Seru Chandra begitu antusias.


"Ya sudah.... Ayo berangkat..." Ajak Endro lagi dan disahuti anggukan kecil dari keponakannya itu.


Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat mobil Endro yang terparkir di parkiran umum terminal.


Chandra, keponakan Endro yang terlihat tampan dan memesona, sehingga banyak mata milik gadis-gadis di sana memerhatikan dirinya. Penampilannya yang begitu rapi dan Elegant. Ransel yang tidak terlalu besar bertengger di punggungnya dan menambah kegagahan dirinya.


Jika berjalan seperti itu, mereka tampak begitu mirip. Chandra keponakannya yang terlihat seperti dirinya kala muda dahulu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2