
Pagi itu Endro berjalan sendiri tanpa Mentarinya. Dia ingin merasakan bagaimana tanpa gadis itu di satu waktu. Dan pagi itulah waktu yang tepat baginya. Dia tahu, gadis itu akan bertanya-tanya, tapi gadis itu tidak akan menungguinya.
Meski Mentari telah menyatakan rasa suka terhadap dirinya, tapi Endro masih yakin bahwa Mentari memiliki gengsi yang begitu tinggi.
"Endrooo..." Seseorang memanggilnya dari dalam ruangan yang biasa dia tempati untuk belajar selama setahunan itu.
"Alina?" Dia mendekat.
"Ini surat yang kamu minta kemarin. Dengan ini, mulai besok kita akan latihan sehari penuh." Ujar temannya yang bernama Alina. Gadis itu menyodorkan sebuah amplop putih yang terlihat ada isinya kepada Endro.
Endro mengerinyitkan alisnya. Dia mulai paham ketika telah mengeluarkan kertas selembar dari dalam amplop itu.
Aku bahkan melupakan ini. Sebenarnya ada apa? Kenapa aku jadi tidak bersemangat setelah mendengar penjelasan ayah kemarin, ya? Ah... ini benar-benar mengganggu~ Batinnya.
"Ternyata kamu telah sampai duluan..." Mentari berkata tanpa menoleh kepada Endro. Dia duduk di kursinya yang berada di depan Endro.
"Mentari? Aku pikir kamu tidak menungguku hari ini." Ujar Endro berbohong. Dia kembali memasukkan kertas itu ke dalam amlpop dan menyimpannya di dalam kantong celananya.
"Aku tahu. Ada yang aneh denganmu, End. Lupakan saja tentang ucapanku yang kemarin." Ujar Mentari datar. Suaranya terdengar getir menyampaikan kata-kata itu.
"Mungkin saja aku bisa melupakannya, tetapi hatimu tidak akan mungkin, bukan? Jadi jangan memintaku untuk melupakannya." Bisik Endro ke telinga Mentari. Tiba-tiba saja dia telah membungkuk di samping gadis itu.
"Tapi kenapa?" Mata Mentari tampak berkaca-kaca. Dia seakan tidak terima dengan situasi saat itu. Begitu canggung untuknya.
__ADS_1
"Karena aku ingin kamu terus menyukaiku, Mentari." Sahut Endro tampak egois.
"Lalu bagaimana denganmu, hah?" Protes Mentari lagi. Wajahnya menggambarkan kekecewaan. Tidak sedikit pun dia mengerti dengan maksud yang dimiliki Endro untuk dirinya.
Dia pikir, gurauan Endro membuatnya salah paham. Dan sikap Endro selama itu hanyalah manusiawi yang begitu peduli terhadap manusia lainnya.
"Apa selama ini tidak cukup bagimu membuktikan kalau aku selalu ada untukmu? Apa kata-kata suka dari mulutku untukmu begitu penting?" Endro menatap mata Mentari yang sayu. "Ada apa dengan dahimu?" Mata Endro yang menampaki sebuah lebam di balik anak rambut Mentari segera menanyainya. Dia terlihat begitu panik.
"Oh... Eh.. Ini... Tidak apa-apa." Mentari berusaha menyembunyikannya. Dia menepis halus tangan Endro yang sudah berhasil menyibak anak rambutnya itu.
Jantung Endro kembali berdetak kuat. Rasanya sama persis ketika dia melihat Mentari dipukuli kala itu. Dan hatinya berkata yakin, bahwa lebam itu adalah ulah keluarga angkatnya Mentari.
Endro mengambil gitarnya di atas meja belajarnya, dan menarik lengan Mentari untuk pergi dari sana.
"Kami tidak begitu konsentrasi disini. Kami akan latihan di belakang sekolah." Ujarnya memberitahukan kepada teman-temannya dan mengindahkan pertanyaan dari Mentari.
Setelah mendapat izin dari teman-temannya, Endro membawa Mentari ke padang ilalang belakang sekolah.
"Endrooo... Kenapa kita harus latihan disini? Kita bisa bergabung bersama mereka di kelas." Dengus Mentari terlihat kesal. Dia menarik paksa lengannya dari genggaman tangan Endro dan berpikir untuk pergi dari sana.
"Aku menyukaimu..." Ucapan yang tiba-tiba keluar dari mulut Endro, membuat langkah gadis itu terhenti seketika. "Aku pernah berkata akan menikahimu, bukan? Lalu bagaimana seseorang akan menikah, jika ia tidak menyukai pasangannya?" Tambahnya lagi.
Mungkin tidak begitu berat membicarakan ini bagi mulut... Tapi kenapa terasa mengganggu bagi hati???
__ADS_1
"Endro..." Gumam Mentari lirih. Matanya yang menelaga tak mampu lagi menahan bendungan disana. Dia menangis, namun masih ada senyuman di bibir tipisnya itu.
"Mendekatlah..." Perintah Endro.
Mentari menurut. Dengan perlahan, dia kembali mendekati posisi Endro.
"Aku akan membawamu pergi dari mereka. Bersabarlah hingga waktu itu tiba." Pinta Endro. Dia menyibakkan anak rambut Mentari yang menutupi lebam di dahi gadis itu.
"Kamu melakukan kesalahan apa lagi di mata mereka?" Tanya Endro sembari memijat lembut lebaman yang terlihat memerah di dahi Mentari.
"Aku tidak tahu. Hiks..." Isak Mentari tanpa berhenti menatap lekat wajah Endro.
Endro begitu iba dengannya. Dia menarik bahu Mentari dan membenamkan kepala gadis itu ke dalam dekapannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1