ENDRO, SANG PENGAWAL

ENDRO, SANG PENGAWAL
ALEX BERHASIL MEMBAWA MENTARI


__ADS_3

"Maafkan Ayah, Mentari. Jika kamu percaya kami, kamu akan pergi menemui mereka. Bantu kami, agar bisa membantumu pula, Nak." Ujar Kamil getir. "Meski takut, tapi menghadapi lebih baik daripada lari, bukan?. Karena lari tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Ayah yakin, kebaikan itu akan selalu berpihak kepada yang benar.


Pertolongan Allah pasti datang. Hanya saja, kita bahkan tidak tahu dalam bentuk apa, dan darimana. Yang pasti, dia akan datang."


"Mentari takut, Yah. Mentari mau ketemu Endro... Tolong, Yah. Jangan biarkan mereka membawa Mentari." Mentari bersikukuh dalam pertahanannya. Meminta dengan sangat dan mengiba-iba. Mengiris pilu jantung hati kedua orang tua di sisinya saat itu.


"Maafkan Ayah, Nak. Maaf... Tapi kamu harus percaya, Endro akan datang menyelamatkanmu. Putra Ayah itu, tidak akan pernah ingkari janjinya. Jangan membuat kamu semakin menderita dengan kemarahan yang kamu tambah terhadap mereka." Pinta Kamil berusaha membujuk gadis itu.


"Tapi... Apa benar Endro akan datang menyelamatkan Mentari?" Tanyanya mulai menyerah.


"Percayalah, Nak. Jika tidak, maka Ayah sendiri yang akan menyelamatkanmu. Membebaskan kamu dari mereka." Janji Kamil. Nini hanya bisa menangis menyaksikan dua orang yang seperti Ayah dan Anak di depannya saat itu.


Mentari pasrah. Dia mengekori Kamil menuju ruang depan. Sementara Nini tetap berada disana. Dia tidak kuat karena tidak bisa berbuat apa-apa saat Mentari ditarik paksa oleh Alex nantinya.


Kamil membuka pintunya, sehingga gedoran yang terdengar dari luar terhenti seketika.

__ADS_1


Ketika wajah Mentari terlihat oleh mereka, Alex bergegas hendak menarik lengan gadis itu. Tapi Kamil dengan segera mencegatnya.


"Jangan pernah berlaku kasar. Dan jangan membuat keributan di rumah saya." Tegas Kamil tanpa rasa takut lagi.


"Saya hanya berlaku kasar kepada anak saya..."


"Dia bukan anak Anda..." Bantah Kamil cepat.


"Meskipun begitu... Hitam di atas putih, telah menjelaskan bahwa dia adalah anak saya dan Lita." Tegas Alex bersitegang. Seringai licik mengambang di bibirnya. Dia berlagak seperti orang yang tengah memenangkan sayembara berhadiah besar kala itu.


Juwita mengambil alih, dia melewati Kamil dan menarik paksa lengan Mentari untuk keluar dari rumah itu.


Kamil memang tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat itu. Matanya hanya menyaksikan Juwita menyeret Mentari. Hatinya memang pilu, tapi dia tidak berdaya. Dia tidak mampu mencegah Juwita untuk membawa Mentari.


Ketika telah sampai di pekarangan rumah, satu tamparan keras dari tangan Alex hinggap di pipi Mentari hingga gadis itu terhuyung ke tanah. Hal itu membua Kamil spontan hendak mengejarnya.

__ADS_1


"Jika ada lagi yang berani membantumu, dan membuat orang-orang kasihan kepadamu. Bahkan penjara tidak aku takuti untuk semakin menyiksamu... Bahkan kematianmu akan Bapak pastikan setelah itu... " Ucapan Alex membuat langkah Kamil kembali terhenti. Dia tidak menyangka Alex akan berbuat sekeji itu.


Dia mundur. Rasa gamangnya muncul karena ancaman Alex terhadap Mentari. Dia takut Mentari akan lebih menderita lagi jika dia menolong gadis itu.


Kamil menatap iba ke arah Mentari yang tersimpuh di tanah sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari tangan Alex. Tubuh gadis itu bergetar hebat menahan isak tangisnya. Namun Kamil tidak berdaya. Dia tidak mampu memenuhi janjinya untuk menyelamatkan gadis itu dari cengkraman Alex yang buas dan ganas.


Yang bisa dia lakukan hanya memandangi Mentari yang lama kelamaan menghilang dari pelupuk matanya bersama mobil yang dibawa Alex untuk menjemput Mentari kesana.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2