
"Guntur mana?" tanya Langit sambil menengok kiri kanan menjadi keberadaan putranya.
"Bocah tengik itu pasti pulang malam seperti biasanya, kalau pulang nanti pasti kuhajar!" sergah Awan dengan ekspresi mengerikan. Lintang sangat terkejut karena wajah cantiknya berubah menjadi setan.
"Jangan terlalu keras padanya." Langit menggerutu.
"Kamu itu yang terlalu lembek makanya dia jadi susah diatur!" tuduh Awan.
Lintang memandangi kedua kakak beradik yang bertengkar seperti suami istri itu dengan bingung. Dia bertanya-tanya siapa Guntur?
"Ah maaf ya Lintang. Guntur itu saudaramu juga tapi sepertinya dia belum pulang. Besok pagi akan aku kenalkan kalau bertemu. Sekarang kamu pasti lelah dan kakimu sakit, kan? Ayo kuantar ke kamarmu." Langit sambil melepaskan gendongannya pada Chan-chan dan menyerahkannya pada Awan.
Dia kemudian membimbing Lintang yang agak pincang menuju kamarnya. Awan dan Surya menyadari kondisi Lintang yang tidak biasa itu.
__ADS_1
"Lho Lintang kenapa?" tanya Awan.
"Kakimu sakit?" Surya turut cemas.
"Iya, terkilir," jawab Lintang.
"Kalau begitu duduk dulu, kakek obati. Awan, ambilkan minyak gosokku," titah Surya. Wanita itu pun segera menghilang ke kamar ayahnya yang ada di depan ruang keluarga itu.
Lintang duduk di sofa panjang di ruang tengah, setelah menyisihkan berbagai macam benda yang terletak di sana. Awan kembali sambil membawa sebuah botol kaca warna hitam.
"Eh... kok sudah sembuh?" kata Lintang tak percaya. Kakinya yang sakit itu pulih secepat itu.
"Hanya salah urat sedikit masalah kecil, lain kali hati-hati ya," kata Surya sambil tersenyum. Lintang turut tersenyum, dia sudah sangat menderita sedari tadi. Setelah kakinya dapat bergerak bebas, Lintang di antar ke kamarnya yang ada di lantai atas oleh Langit sambil membawa kopernya.
__ADS_1
Lintang melangkah ke lantai dua. Ada tiga buah kamar di sana. Lintang bisa melihat kolam renang di bawah. Di ujung beranda ada Roftop Garden. Ada banyak tanaman yang digantung pada pagar-pagar pembatasnya. Beberapa sofa tersusun rapi di tengahnya. Atapnya terbuat dari kanopi kaca sehingga bintang-bintang bisa terlihat dengan jelas. Lintang tertegun sejenak memanjakan mata dengan desain interior yang sangat cantik.
"Ini kamarmu."
Ucapan Langit membuyarkan lamunan Lintang. Dia mengalihkan perhatiannya pada si tuan rumah yang sudah berdiri di kamar paling pojok. Langit memasukkan anak kunci ke dalam lubang lalu membuka pintu kamar tersebut. Lintang menghampirinya lalu melongok ke dalam kamar yang gelap gulita.
Langit memencet saklar sehingga penerangan dalam kamar menjadi lebih baik. Lintang terpana melihat isi kamarnya. Luasnya kira-kira empat kali lipat dibanding kamar kosnya yang kumuh dulu. Ada satu bed ukuran nomor satu di tengah ruangan di atas karpet beludru warna merah. Bed itu memiliki keranda seperti tempat tidur putri raja. Ada dua jendela besar menuju ke halaman depan. Di depan jendela itu ada meja belajar disertai satu set komputer. Di sebelah kanannya ada rak buku yang masih kosong. Ada lemari es kecil di sudut ruangan. Ada satu ruangan kecil lagi di dalam kamar itu.
"Untung saja Awan sudah membereskan tempat ini kemarin. Dia sangat bersemangat saat dengar aku mau mengadopsi anak perempuan," kata Langit. Dia juga terlihat cukup puas dengan isi kamar itu bila dibandingkan dengan ruangan-ruangan lainnya dalam rumahnya.
Lintang tertegun."Jadi kamu memang mau mengadopsi anak?" tanya Lintang.
Langit tersenyum dan mengangguk. "Sejak aku menghadiri pemakaman ibumu sebenarnya aku sudah berniat mengadopsimu, tapi ada cukup banyak hal yang harus kubereskan sehingga aku menunda menemuimu," jawab Langit.
__ADS_1
Langit menunjuk dua kamar di samping kamar Lintang. "Di sebelah ini kamar Guntur, disebelahnya lagi kamar Awan, kamar mandinya ada di ujung koridor itu. Di bawah tangga juga ada kamar mandi dan ruang cuci. Kalau kamu habis berenang kamu bisa langsung mandi di situ. Di dekat dapur tadi juga ada kamar mandi, semuanya hanya kamar mandi kecil dengan shower, kamar mandi yang ada bathtubnya hanya ada di dalam kamarku kalau kamu mau coba."
"Tidak terima kasih!" tolak Lintang cepat-cepat.