
Guntur memberitahukan nama-nama alat untuk membuat kopi serta fungsi. Mulai dari Coffe Ginder, drop Coffe maker, moka pot dan mesin espresso. Dia juga menunjukkan daftar menu yang dijual serta harganya. Mereka lalu melihat-lihat lemari dapur dan isinya. Terakhir, Guntur menunjukkan mesin kasir yang hanya berupa sebuah komputer tablet. Guntur menunjukkan cara mengoperasikan aplikasi kasir pada Lintang dan Vina.
"Ngapain sih kamu pakai kerja sambilan di sini segala?" tegur Guntur.
Lintang meringis. "Sebentar lagi ulang tahun, Langit, jadi aku butuh duit buat belikan dia kado," jelas cewek itu.
"Memangnya uang sakumu kurang?" tegur Guntur.
"Nggak asyik kalau pake uang sakuku, kayak cuman balikin duit dari dia aja," dalih Lintang. Cewek itu terdiam sejenak. Dia jadi teringat satu hal. Waktu itu Guntur mengatakan bahwa dia ingin memberikan kado pada seseorang makanya dia bekerja sambilan. Kalau nggak salah waktu itu Lintang pernah melihat Guntur di depan butik setelan jas pria.
"Eh, jangan-jangan kakak kerja sambilan juga karena mau beliin Langit hadiah ulang tahun ya?" tegur Lintang.
Guntur tak menjawab tetapi pipinya memerah dengan manis. "Nggak kok!" elaknya.
"Alah, jangan bohong, Kak, Kakak sayang banget ya sama Ayah," goda Lintang.
"Dibilangin nggak!" Guntur melingkarkan lengan di leher Lintang dan menguncinya. Gadis itu mengerang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.
Vina yang berdiri di belakang dua bersaudara itu mengerucutkan bibir. Sejak kapan Guntur dan Lintang jadi akrab begini? Sepertinya mereka benar-benar tak menganggap keberadaan Vina di sana.
***
"Ini namanya Espresso," jelas Guntur dia menyajikan secangkir kopi hitam pekat dan menunjukkannya pada Lintang dan Vina dua pegawai baru.
Lintang mendekatkan hidungnya dan mengendus minuman itu. "Aromanya enak," komentar Lintang.
__ADS_1
"Coba kamu minum."
Lintang mengangkat cangkir itu meneguknya. Matanya cewek itu membelalak. Dia terbatuk-batuk lalu segera mengambil segelas air putih. Guntur tampak menyeringai melihat reaksi adiknya itu.
"Ini racun ya! Pahit banget!" geram Lintang murka.
Guntur malah tertawa. "Ini kopi hitam dari ekstrak biji kopi yang telah digiling. Rasa dan aromanya sangat pekat. Ini baru kopi yang bikin mata melek."
Guntur mengambil secangkir Espresso tadi dan meneguknya dengan gaya santai. Lintang sampai melongo.
"Ih, kok bisa sih minum-minuman pahit begitu!" ujar cewek itu sembari bergidik.
"Karena aku sudah manis," kelakar Guntur.
"Maksud Kakak aku nggak manis gitu!" amuk Lintang.
"Kakak!"
Vina terdiam dan memandangi dua orang itu. Mereka bahkan nggak canggung minum dari gelas yang sama. Sudah sedekat apa hubungan mereka?
"Aku baru pertama kali lihat Guntur ramah begini sama cewek?" komentar Roki yang lagi mengelap piring.
"Iya nih, kalian dari sekolah yang sama ya, jangan-jangan ada sesuatu diantara kalian?" Erlan ikut nimbrung.
"Dia ini adikku," jelas Guntur langsung.
__ADS_1
"Adik! Serius!" Erlan dan Roki membelalakkan mata terkejut. Guntur hanya menjawab dengan anggukan.
Sudut bibir Lintang terangkat. Dadanya tiba-tiba jadi berdebar. Guntur akhirnya mengakui dirinya sebagai keluarga.
"Kok bisa sih makhluk sekeras batu kayak kamu bisa punya adik semanis ini!"
Guntur mengabaikan rekan kerjanya dia mengambil milk jug dan mengisinya dengan susu lalu menuang isinya ke dalam coffe plugger. Setelah menekan alat tu selama beberapa menit Guntur menuangkan susu kembali ke dalam milk jug. Dia mengambil satu gelas baru dan mengisinya lagi dengan espresso sampai sepertiga gelas. Cowok itu menghentak-hentakkan milk jug beberapa kali kemudian menuangkan susu dari milk jug itu ke dalam cangkir espresso. Lintang ternganga melihat aksi kakaknya yang seperti barista profesional itu. Satu pola hati terbentuk manis pada cangkir kopi itu.
"Keren!" pujinya Vina takjub.
"Latte art adalah daya tarik utama di kedai kopi kami," ucap Erlan sembari menepuk anak didiknya dengan bangga.
"Cantiknya," gumam Lintang.
Guntur menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Telinga cowok itu jadi memerah. "Ini namanya latte, mau coba?" tawarnya.
Lintang menghirup udara di sekitar cangkir kopi. "Aromanya tidak sewangi yang tadi," komentarnya. Gadis itu lalu menyesap kopi tersebut.
"Aku suka yang ini, ada rasa gurihnya."
"Kalau kamu mau yang manis coba Coffe Caramel, atau mungkin kamu suka mochaccino karena ada coklatnya."
"Buatkan dong, Kak!" kata Lintang dengan wajah berbinar.
"Nanti aja, sekarang waktunya kerja tahu!" gerutu Guntur.
__ADS_1
Vina mengepalkan tangannya. Kenapa dia merasa tidak nyaman melihat kedekatan dua orang ini? Walau bagaimanapun mereka itu bukan saudara kandung, kan?
***