Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 96


__ADS_3

"Hari ini kita bikin pesta barbeque yok!" ucap Langit penuh semangat weekend pagi itu.


"Kamu sehat, Ngit?" tanya Awan sembari mengambil botol air putih dari kulkas dan meneguknya.


Sementara anggota keluarga lain yang sedang sarapan di ruang makan hanya tertegun. Bahkan lebam di wajah akibat ditonjok Guntur kemarin saja belum hilang. Kok Langit santuy sekali seolah sudah melupakan kejadian kemarin. Mereka kan sedang dirundung perseteruan dengan ayah Lintang terkait hak asuh Lintang.


"Sehat wal afiah," angguk Langit.


"Semua masalah itu dipikirkan sambil jalan saja. Masak kita nggak boleh menikmati hidup? Weekend begini harus ceria dong!"


"Aku nggak tahu kamu itu sebenarnya optimis atau males mikir, Langit," komentar Surya.


"Kayaknya sih dua-duanya," ejek Guntur.


"Chan-chan mau! Chan-chan mau barbeque!" seru Chan-chan si bocah yang nggak tahu apa-apa.


Langit hanya meringis saja


Walaupun sebenarnya di dalam hatinya Langit juga gundah, Langit tak ingin membuat keluarganya cemas. Jika memang dia tak dapat mempertahankan hak asuh Lintang, bukankah yang paling baik adalah menikmati saat-saat kebersamaan mereka seperti ini?

__ADS_1


"Ayolah, kita sudah lama nggak berkumpul dan makan-makan. Pumpung aku juga gabut," rayu Langit.


"Okelah, tapi kita nggak ada stok daging," kata Surya yang bertanggung jawab pada stok makanan di rumah.


"Tinggal beli dong. Ayo sekalian kita jalan-jalan ke Mall! Ayo siap-siap!" Langit mendorong-dorong Guntur yang tampak malas untuk bangkit. Karena melihat memar di pipi ayahnya, Guntur tak kuasa melawan.


"Okelah, kalau makan-makan siapa yang mau nolak," ucap Awan.


"Yei! Barbeque! Barbeque!" Chandra berceloteh dengan riang.


Lintang tersenyum kecil. Setelah sekian lama dia bisa menikmati akhir pekan bersama keluarganya. Semoga hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.


***


Lintang melongo. Dia menatap anggot keluarga lain yang balik memandanginya. Pipinya seketika bersemu. "Hei, Mesum! Kok bisa kamu kalau stok pembalutku habis!" umpat Lintang sembari menunjuk Tantenya itu.


"Tahulah, kan aku yang belikan waktu itu. Kalau dihitung dari siklus menstruasimu, sudah waktunya habis."


"Kamu nggak usah ngapalin siklusku!" bentak Lintang.

__ADS_1


Awan hanya terkekeh saja. "Aku dulu selalu kesal kalau adikku minta dibelikan pembalut," ucap Awan tiba-tiba. Lintang yang awalnya mau marah berubah mellow. Begitu juga dengan anggota keluarga Langit yang lain.


"Seminggu setelah kematiannya, aku menemukan pembalut yang aku belikan dia simpan di dalam ransel yang dia bawa ke mana-mana. Tangisku langsung pecah. Sejak hari itu aku bisa menangis hanya karena melihat iklan pembalut. Aku telah gagal, karena tidak bisa melindungi orang yang paling kusayangi. Aku terlalu sibuk bekerja dan tidak memperhatikan pergaulan adikku hingga dia terjerat narkoba."


"Awan...," lirih Langit cemas karena melihat mata kakak angkatnya itu yang sudah dihiasi bulir-bulir air.


"Tidak apa," kata Awan sembari tertawa, meskipun air matanya sudah menggenang.


"Sekarang aku tahu kenapa kamu takut sendirian, Langit. Seperti Guntur yang takut pada ruang gelap dan sempit. Semua orang juga punya rasa takut. Dan aku takut pada benda ini." Awan memandangi bungkusan pembalut besar di dalam troli.


"Sekarang kalau melihat pembalut aku juga akan ingat akan hari ini. Aku akan ingat bahwa aku punya kalian sebagai bagian dari keluargaku. Bukan hanya adikku saja."


Awan menghapus lelehan dari matanya kemudian tertawa. "Maafkan suasananya jadi rusak gara-gara aku. Ayo kita belanja lagi," katanya penuh semangat.


Chandra menarik celana Langit kemudian bertanya. "Ayah? Menstruasi itu apa?"


Seluruh anggota keluarga Langit seketika tergelak. Chandra yang manis selalu bisa mengubah suasana dengan tingkah polosnya. Keluarga Langit kembali berbelanja sembari bercanda. Mereka tidak tahu bahwa di kejauhan, seseorang mengawasi mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2