
Lagu Mikrokosmos dari BTS mengalun. Lintang mematikan alarm itu. Dia menggeliat sejenak di atas kasur kemudian bangkit. Hari ini hari Minggu dan karena dia sedang berhalangan dia tidak perlu bangun pagi-pagi untuk ibadah. Gadis itu melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Ternyata dia bangun kesiangan banget. Dia berdiri dan merapikan tempat tidur, setelah itu keluar dari kamar dan menuruni tangga. Langit di lantai bawah seperti biasa menyiapkan sarapan. Hanya ada Guntur dan Langit di ruang makan, anggota keluarga yang lain tidak tampak.
"Selamat pagi Putri tidur, tidurmu nyenyak?" sapa Langit.
Lintang mengerucutkan bibir. Langit pasti bermaksud menyindir dia kan karena bangun siang.
"Yang lain pada ke mana?" tegur cewek itu.
"Kakek dan Chandra pergi ke perkumpulan memancing, Awan belum pulang dari semalam, aku nggak tahu sih dia ke mana," terang Langit sembari mengambil nasi, lauk dan sayur untuk Guntur.
"Ck! Suka marah-marah karena aku pulang malam, sendirinya sering nggak pulang!" ketus Guntur.
"Mungkin dia banyak kerjaan," bela Langit.
"Kerjaan ngerayu cewek?" sarkas Guntur.
Lintang hanya tersenyum kering. Dia masih tak dapat memahami alasan kenapa Guntur dan Awan saling benci. Namun syukurlah akhir-akhir ini mereka sudah tidak memicu pertengkaran lagi.
"Lintang sama Guntur hari nganggur nggak? Bantu Ayah beres-beres gudang di atas dong," pinta Langit. "Ada banyak benda tidak bermanfaat yang hanya ditumpuk. Aku mau sedekahkan saja biar bermanfaat."
__ADS_1
"Bayarannya apa?" tanya Guntur.
"Setelah selesai beres-beres nanti kita pesan pizza," jawab Langit
Lintang terpana melihat Guntur yang mengangguk-angguk. Ini orang nggak ada sungkanya sama sekali langsung minta bayaran. Padahal tiap hari di sini sudah makan dan tinggal gratis. Setelah selesai makan, tiga makhluk itu bergegas naik ke loteng. Di sana ada kamar berukuran empat kali empat yang penuh dengan kardus-kardus.
Lintang menjerit saat melihat seekor kecoa lewat di bawah kakinya. Guntur dengan enteng menginjak serangga itu tanpa belas kasihan.
"Aduh, di sini jadi sarang hewan-hewan mistis begini ya. Memang harus segera dibereskan," keluh Langit melihat bangkai kecoa yang sudah tidak berdaya.
"Jadi kita ngapain?" tanya Lintang kebingungan melihat tumpukan kardus. Dia jadi wawas ada saudara dari kecoa tadi yang muncul dari dalam sana.
"Keluarkan saja semua, lalu pisahkan berdasarkan jenisnya," kata Langit.
"Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah ... keluarga..."
Tanpa diduga, Guntur terpengaruh dan ikut bernyanyi dengan suaranya yang memang merdu.
"Puisi yang paling bermakna adalah keluarga," lirih Guntur.
__ADS_1
Langit dan Guntur meringis. Mereka lalu bersama-sama menyanyikan bait selanjutnya. Lintang pun mengikuti.
"Mutiara tiada tara adalah ... keluarga...."
"Selamat pagi, Emak!" seru Awan yang tiba-tiba muncul. Pria itu menghampiri Langit dan dua anakya yang tampak sibuk memilah barang-barang bekas.
"Lagi bersih-bersih?" tegur Awan.
"Hm iya nih, kamu lihat juga dong, semuanya mau aku kasih ke tukang loak. Barangkali masih ada barangmu yang masih kamu pakai di sini."
Awan melihat tumpukan barang itu dengan jemu. Bersih-bersih bukanlah hobinya. "Nggak ada barang berharga, buang saja semuanya," ucapnya tanpa berpikir.
Ketika pria itu mau masuk ke dalam kamar. Dia terhenti sejenak melihat Lintang mengacungkan sebuah dress mini untuk anak gadis seusia TK. Netra Awan membelalak.
"Ini bajunya siapa?" tegur Lintang.
"Nggak tahu geleng langit, buang saja," ucap Langit.
"Jangan!" teriak Awan tiba-tiba ngegas. Dia buru-buru merebut baju itu dari Lintang dan mengamatinya dengan seksama.
__ADS_1
Langit dan putra-putrinya ternganga ketika melihat air mata yang mengalir dari mata Awan. Pria itu memeluk baju itu dan menangis tersedu-sedu.
***