
"Lintang," sapa Vina ketika Lintang memasuki kelas. Lintang tersenyum lalu duduk di sebelahnya.
"Ng, anu...."
Lintang mengerutkan kening melihat Vina yang kayak cacing kepanasan. Kenapa ini cewek?
"Kak Guntur Jumat kemarin nggak masuk kerja, kenapa ya?" tanyanya.
Lintang menutupi mulutnya dan tertawa. "Ya, ampun kangen ya tiga hari nggak ketemu?" kekehnya.
"Nggaklah! Cuman kerjaan jadi banyak karena kurang orang!" Vina langsung ngegas.
"Ada sedikit masalah di rumah," jelas Lintang.
"Masalah apa?" tanya Vina cemas. "Kak Guntur sakit?"
Lintang tergelak. "Duh, masih aja tsundere kamu. Ngaku ajalah kalau suka."
"Nggak, aku sama sekali nggak suka! Ngapain aku suka sama cowok kayak dia! Udah jahat, kepedean lagi ngira semua orang naksir sama dia!"
Vina menyetak penuh emosi. Lintang tersenyum canggung dengan ekspresi yang aneh. Vina mengerutkan kening melihat mimik muka Lintang yang ganjil. Ketika dia menoleh ke belakang, tahu-tahu aja sosok Guntur berdiri di belakangnya.
"Hei, tasmu kayaknya ketuker sama punyaku," kata Guntur sembari menyodorkan ranselnya.
"Lho iya, kah?" Lintang membuka isi tasnya dan tersadar bahwa barang-barang yang ada di sana bukan miliknya. Karena tas mereka kembar mungkin saja Lintang salah ambil tas tadi waktu di rumah.
"Makasih, Kak."
Guntur hanya mengangguk lalu melangkah pergi begitu saja. Vina terbengong-bengong. Dia tidak mengita Guntur tiba-tiba muncul bagaikan hantu.
"Panjang umur banget sih orang itu. Rasanya aku jadi deja vu," kata Lintang. Rasanya dulu pernah Guntur muncul waktu Lintang juga sedang menjelek-jelekkan dia seperti ini.
__ADS_1
Vina tak menjawab. Cewek itu hanya diam dengan tatapan kosong. Sepertinya jiwanya sudah menghilang ke tempat lain. Padahal baru saja dia mulai akrab dengan Guntur.
Sementara itu, Guntur yang sedang dalam perjalanan menuju kelasnya, resah gelisah, ketika mengingat kejadian tadi. Vina sepertinya sekarang benar-benar membencinya. Guntur bahkan nggak bisa marah karena apa yang dikatakan Vina semuanya benar.
"Sialan," umpatnya.
***
"Ya, Ayah, aku makan daging hari ini. Sisa dari pesta barbeque kemarin. Ayah mau aku kirimi?" tawar Lintang. Gadis itu sedang mencuci piring kotor di bak cuci piring.
"Sampai sini sudah busuk." Suara tawa ayahnya di dalam ponsel Lintang terdengar riang. Lintang balas tertawa.
"Pekerjaan ayah lancar?" tanyanya.
"Alhamdulillah, ayah dan teman ayah membuka warung makan. Warung ini cukup laris. Ayah akan mengirimimu uang nantinya."
"Tidak usah, Ayah, aku di sini tidak kekurangan uang."
"Jangan menolak, ini tanggung jawab Ayah."
"Oh, jam istirahat sudah habis. Ayah lanjut kerja dulu. Sampai nanti, Sayang."
"Da, Ayah. Selamat bekerja."
"Telepon dari ayahmu?" tegur Langit yang baru saja masuk ke dapur. Pria itu membuka kulkas dan mengambil air minum. Lintang menjawabnya dengan anggukan.
"Bagaimana, apakah kamu sudah menawarkan pekerjaan di kantorku padanya?" tanya Langit.
"Ayah bilang dia tidak cocok dengan pekerjaan itu. Dia lebih suka menjadi wirausaha," geleng Lintang.
Meskipun kecewa, Langit tersenyum kecil. Mungkin Pak Darmanto masih tidak enak hati. Langit teringat sosok Pak Darmanto yang membayar kopinya sendiri meskipun dengan uang recehan. Dia yakin bahwa Pak Darmanto adalah orang yang baik dan bertanggungjawab. Hanya saja hidupnya kurang beruntung.
__ADS_1
"Kamu mau coklat panas, Lintang," tawar Langit.
"Iya mau," angguk Lintang.
Maka Langit pun membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri dan segelas coklat panas untuk lintang. Setelah selesai mencuci piring, Lintang mengikuti ayah angkatnya itu ke halaman belakang. Mereka duduk di pinggir kolam renang.
Suasana rumah begitu sepi karena sudah larut. Awan tidak pulang karena menginap di rumah temannya. Guntur belum pulang kerja. Kakek dan Chandra sudah tidur. Lintang tersenyum kecil. Sudah lama sekali rasanya dia tidak menghabiskan waktu berduaan saja dengan Langit seperti ini. Rasanya menyegarkan.
"Langit, terima kasih," kata Lintang. "Terima kasih karena sudah membawaku ke rumah ini, terima kasih telah menjadi ayah yang baik."
Langit memandang Lintang sejenak. Dia menghela napas lalu memalingkan muka. "Aku sama sekali bukan ayah yang baik," keluhnya.
Lintang tertegun. Dia mengamati sejenak ekspresi wajah Langit yang tampak terluka.
"Mana mungkin, belum pernah aku melihat ayah sebaik kamu!" tegasnya.
"Tapi sampai hari ini kamu nggak pernah mengakuiku sebagai ayahmu, kan? Kamu nggak pernah memanggilku ayah."
Lintang terdiam. Dia memang menolak memanggil Langit ayah. Padahal Guntur saja sudah memanggil Langit dengan gelar kehormatan itu. Tidak bukannya tidak suka, tapi dia tidak mau. Jika dia mengakui Langit sebagai ayahnya, nuraninya bergejolak. Bagaimana mungkin dia mempunyai rasa suka pada orang yang dia anggap sebagai ayah.
Langit menghela napas panjang. "Aku memang nggak pantas jadi ayah," keluhnya.
"Bu-bukan begitu," elak Lintang.
"Karena seorang ayah, seharusnya nggak punya rasa suka pada anaknya sendiri."
Netra Lintang terbelalak. Apa yang barusan dia dengar? Dia tidak salah dengar, kan?
Lintang mengawasi Langit. Pria itu kini menunduk dan menyembunyikan wajahnya, tapi Langit bisa melihat dengan jelas kalau tengkuk pria itu memerah bahkan telinganya.
"Hei, Langit. Apa aku mungkin bisa naik gelar jadi ibu?" tanyanya.
__ADS_1
"Kita pikirkan itu tiga tahun lagi."
***