
Tiba-tiba saja Lintang merasa sesuatu yang berat menimpuknya dari belakang. Guntur bersadar di punggungnya. Lintang tidak bisa menahan diri untuk berteriak. Lintang menjerit dan melakukan perlawanan sekuat tenaga dengan meninju dan menendang ke segara arah.
BRUK!
Terdengar suara keras. Lintang menoleh dan melihat Guntur terbaring di lantai dan tidak bergerak akibat jurusnya. Cewek itu jadi takut. Apa perlawanannya tadi terlalu gesit sampai Guntur ambruk begitu? Lintang berjongkok untuk melihat kondisi kakak angkatnya itu.
"Kakak, Kak Guntur nggak apa, kan?" tegur Lintang
Guntur tidak menjawab. Wajahnya terlihat pucat, napasnya tersengal, dan tubuhnya berkeringat. Lintang meletakkan tangan kanannya di dahi cowok itu dan terkejut karena perbedaan suhu yang ekstrem.
"Kakak ... Kak Guntur sakit?" tanya Lintang kebingungan
Lelaki itu tetap bergeming. Lintang mulai panik.
"Ayo kita ke atas saja, jangan tiduran di sini."
Dengan sekuat tenaga Lintang mempah Guntur untuk kembali ke kamarnya yang ada di lantai dua. Karena berat badan Guntur kurang lebih satu setengah kali lebih berat darinya, cewek itu mengalami kesulitan yang luar biasa. Dua kali Guntur terjatuh di lantai sampai akhirnya berhasil menaiki tangga dan sampai di kamarnya.
Lintang membaringkan pemuda itu di atas tempat tidur dan menyelimutinya. Dia melirik jam dinding yang menunjukan pukul sepuluh malam. Sekarang sudah larut dan Lintang tak tahu apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
"Aduh gimana ini...."
Lintang merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Diaa berusaha menghubungi Awan dan Langit tapi tidak diangkat. Dia lalu menghubungi nomer ponsel kakek. Lintang langsung merasa lega saat suara kakeknya terdengar.
"Halo, Lintang, ada apa? Kamu minta dibelikan oleh-oleh apa?" tanya Kakek dengan suara riang.
"Enggak, Kek, anu ini ... Kak Guntur sakit. Badannya panas tinggi. Aku bingung harus gimana," ucap Lintang.
"Guntur sakit?" Kakek tampak terkejut.
"Iya, gimana, Kek? Apa aku harus panggil dokter atau gimana? Aku bingung."
Lintang melirik Guntur yang terbaring di atas ranjang. Tubuh cowok itu memang mengeluarkan banyak keringat yang tampak membanjiri tubuhnya sehingga baju yang dikenakannya terlihat basah
"Iya, sampai bajunya kelihatan basah," kawab Lintang.
"Kalau begitu lepas dulu bajunya dan ganti dengan yang baru," kata Kakek.
Lintang melotot mendengar instruksi itu.
__ADS_1
"A-apa?"
"Pertama ganti bajunya dulu, lalu kompres badanya pakai air biasa. Terutama di daerah dahi, ketiak dan lipatan paha. Terus suruh dia minum air putih yang banyak. Ada termometer di kotak P3K yang ada di atas almari ruang tengah. Ukur berapa suhunya. Di kotak P3K itu ada paracetamol 500 mg, suruh dia minum satu tablet, kalau sudah empat jm ukur lagi suhunya. Apa kamu mengerti, Lintang?" tanya Surya.
"Iya, Kek, makasih. Nanti kalau ada apa-apa ku telepon lagi, iya dadah."
Lintang menekan tombol end call pada ponselnya lalu bergegas mengirim pesan pada grup rumah, memberitahukan bahwa Guntur sedang sakit. Lintang kemudian turun ke ruang tengah, mencari kotak P3K yang dimaksud Surya. Lintang mengambil termometer digital dan satu tablet Paracetamol dari dalam kotak itu. Dia berlari ke dapur, mengambil baskom dan beberapa handuk kecil di dalam lemari.
Lintang kembali ke kamar Guntur, dan mengukur suhu tubuh Guntur selama tiga menit dengan menggunakan termometer digital yang dibawanya.
"38,8," keluh Lintang.
Gadis itu membangungkan Guntur dan menyuruhnya minum obat. Dengan setengah sadar Guntur bangun, mengikuti instruksi Lintang, kemudian tidur lagi. Lintang membuka kancing baju Guntur yang basah dengan malu-malu lalu meletakan kompres di dahi dan lipatan ketiak seperti yang diinstruksikan oleh Surya. Cewek itu menunggui Guntur di sampingnya, sambil sesekali mengganti handuk kompres yang sudah tidak dingin lagi. Guntur membuka mulutnya seperti hendak bicara. Lintang mendekatkan wajahnya dan bertanya.
"Iya, ada apa, Kak?"
"Jangan ... ampun, Ayah. Jangan pukul lagi." Guntur mengingau dengan pelan.
Lintang tertegun memandangi wajah Guntur yang penuh derita. Sepertinya pemuda itu bermimpi buruk. Air mata menetes dari pelupuk mata Guntur.
__ADS_1
***